Tentang madu, kumbang, dan bunga yang hanyut
Bambang Saswanda1Dalam dendam luka bibir bunga, ditingkah gemulai kepak sayap sayap yang teralun rindu, aku kelu, merafal mantra birahi yang singkap. Oh yang setaman, didihkan wangimu, sampai kita saling memuji digemetar waktu berikutnya, hingga aku khidmat mengeja bahwa yang ditunduk jemari daun itu adalah bungaku yang hijrah dimusim semi, lamunku sungguh..2Dan pun kini kau tiba, […]
Penulis Edisi 177
Liston P. Siregar, editor ceritanet.com Bambang Saswanda, mahasiswa Fakultas Sastra USU, Medan. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar.___________________
DirumahMu air mataku derai
aku yang terpaut jauh dari jalan menuju janjiMuberlama-lama di gaduh penggoda dari bara api nerakaMusemakin tenggelam ku sujudkan diri dalam rumahMuMekah yang berselubung takbir membuncah air mata***
Mimpi
purnama di ujung mata memecah buih di anginmelabuhkan segenggam asa dalam bukit-bukit menjulang ke awanmenyunting wanita-wanita yang tak pernah dicaci terikhingga membayang udara dalam tarikan nafas adalah surga teruslah menjejak pasir-pasir dalam angkasa lamunanmembumbung memuncak menanggalkan beban di pundakmengayuh setingi-tingginya kesenanganmeramu mimpi di kutub bumi dini hari
Duhai Nestapa
Duhai nestapaperihnya sudahlah senjabak peniti luka mencucuk usiarenta ia dirundung air mata duhai nestapatanggalkan ia yang di ujung sanagemetar tegak lapuk dicerca genangan siksamerenda duka merajut derita duhai nestapatiada usai jua padam kobaran deradari satu darah kedarah matanyamenukiklah tajam sembilu dipangkal lehernya
Sumbang
Bambang Saswanda terkutuklahcinta yang berderak-derak di pangkalan telingamengingang laju kumuhbersenggama hina kau bertanya pada sengsara sepasang sekoci berlumur lumutmembatu bersama karangdaripada kau terjungkal ke lautanmari kita eja perhelatan dengan semestinya terkutuklahcinta ditambah cinta menjadi sampahterciumi sengatan membesarkan arwah di dalam kubursungguh.. kuncilah hati sebelum kau terbawa digiling kunyah peradaban kau gilir dengan martabat sumbangkau gulai […]
Penulis Edisi 172
Imron Supriyadi, pelaku seni sastra di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Bambang Saswanda, mahasiswa Fakultas Sastra USU, Medan.
Badai Anak Nelayan
Bambang Saswanda pecahan kaca dalam air matamenitikan racun dalam gamangmenyibakan luka-luka seperti terbawa ombakkepedihan yang teramat menganiaya sudah singgah dalam senja ada dua bocah setengah berbajuberbaris di jilat badaimenelentang menantang hujandi balik punggung-punggung mata kail menancap pongah anak nelayan dalam persaksianmenghitung setiap derak nyiur yang mengerlap merantai kunang-kunangmelambung setinggi bintang-bintang kejoramenyapu langit dengan ijuk luka […]
Sumbang
terkutuklahcinta yang berderak-derak di pangkalan telingamengingang laju kumuhbersenggama hina kau bertanya pada sengsara sepasang sekoci berlumur lumutmembatu bersama karangdaripada kau terjungkal ke lautanmari kita eja perhelatan dengan semestinya terkutuklahcinta ditambah cinta menjadi sampahterciumi sengatan membesarkan arwah di dalam kubursungguh..kuncilah hati sebelum kau terbawa digiling kunyah peradaban kau gilir dengan martabat sumbangkau gulai mentah dalam belanga […]
Penulis Edisi 169
Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Komunitas Merapi. Pernah belajar di Philosphisch-Theologische Hochschule Sank Augustin Jerman. Bambang Saswanda, mahasiswa Fakultas Sastra USU, Medan. Rama Yunalis Oktavia, karyawan sastra, tinggal di Bekasi. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar.___________________