Suara

Toto S Bachtiar (1953) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kapan ada sesuatu, ialah kamarku di dalamSuara penutup paling jauh telah membawa bunyiSedang kubuat lagi jelaga diri semestaDi lorong-lorong kelam kotaku Jakarta Nafsu ialah bandingan suara dan jelagaO, perempuan-erppuan yang tak tahu bahasaArti agung yang mendukung dukana!O, tingkat tertutup sebelum membuka! Sekali ini tak ingin lagi kucari […]

Penulis edisi 219

Presiden Hayat penikmat seni dan sayur asam. Ajip Rosidi (lahir 1938) pertama kali pindah ke Jakarta tahun 1951 ketika mau melanjutkan sekolah menengahnya, belajar menulis dan memilih kesusastraan sebagai pilihan hidupnya di sana, memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955), Prosa (1955) dan Budaja Djaja (sejak 1968). Pernah memimpin Madjalah Sunda (1965-1967) di Bandung. Sejak 1971 memimpin Badan Penerbit Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya. Menerbitkan sejumlah […]

Ibukota Senja

Toto S. Bachtiar (1951) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hariAntara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandiDi sungai kesayangan, o, kota kekasihKlakson oto dan lonceng trem saling menyaingiUdara menekan berat di atas jalan panjang berkelokanGedung-gedung dan kepala mengabur dalam senjaMengurai dan layung-layung membara di langit barat dayaO, kota kekasihTekankan aku pada pusat hatimuDitengah-tengah kesibukanmu […]

Penulis edisi 217

Suhendri Cahya Punama, tinggal di Bandung. Chairil Anwar (1922-1949) pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas […]