Aku Berkisar Antara Mereka
Aku berkisar antara mereka sejak terpaksaBertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata merekapergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:kenyataan-kenyataan yang didapatnya(bioskop Capitol putar film Amerika,lagu-lagu baru irama mereka berdansa)Kami pulang tidak kena apa-apaSungguhpun Ajal macam rupa jadi tetanggaTerkumpul di halte, kami tunggu trem dari kotaYang bergerak di malam hari, sebagai gigi masaKami, tumpang dan pincang, negatip dalam […]
Penulis Edisi 281
Jajang Kawentar, mengajar di SMA Pusri Palembang dan sebagai pegiat seni ikut mengelola Sanggar Air Seni Palembang. Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas […]
Buat Nyonya N
Sudah terlampau puncak pada tahun yang laludan kini dia turun ke rendahan datar.Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahuBurung-burung asing bermain keliling kepalanyadan buah-buah hutan ganjil mencap warna pada gaun Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satuAtas puncak tinggi sendiriberjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat kematianTapi hawa tinggal hampa, tiba di puncak dia sungguh […]
Mirat Muda, Chairil Muda
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebahMenatap lama ke dalam pandangnyacoba memisah matanya menantangyang satu tajam dan jujur yang sebelah Ketawa diadukannya giginya padamulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakahkau selalu merasa mesra dan aku bagimu indah?Mirat raba urut Chairil, raba dadaDan tahulah dia kini, bisa katakandan tunjukkan dengan pasti di manamenghidup jiwa, menghembus nyawaLiang jiwa-nyawa saling berganti. […]
Penulis Edisi 280
Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas dua MULO ke Jakarta, tempat ia […]
Selama Bulan Menyinari Dadanya
Selama bulan menyinari dadanya jadi pualamranjang padang putih tiada batassepilah panggilan-panggilanantara aku dan mereka yang bertolakAku bukan lagi si cilik yang tidak tahu jalandi hadapan berpuluh lorong dan gang menimbangini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan ‘pas bebas’Selama bulan menyinari dadanya jadi pualamranjang padang putih tiada batassepilah panggilan-panggilanantara aku dan mereka yang bertolakJuga ibuku […]
Buat Gadis Rasid
Antaradaun-daun hijaupadang lapang dan teranganak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larianburung-burung merduhujan segar dan menyebarbangsa muda menjadi, baru bisa bilang ‘aku’Danangin tajam kering, tanah semata gersangpasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongiKita terapit, cintaku-mengecil diri, kadang bisa mengisar setapakMari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpatiTerbangmengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat– the only possible non-stop flightTidak […]
Puncak
Pondering, pondering on you, dear… Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang terbawatambah penjoal dalam diri -diputar atau memutar-terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjangSehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata sekarangBerada 2000 m, jauh dari muka laut, silang siur pelabuhanjadi terserah pada perbandingan dengancemara bersih hijau, kali yang bersih hijau Maka cintaku sayang, kucoba menjabat […]
Prajurit Jaga Malam
pro Bahar + Rivai Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktuPemuda-pemuda yang lincah, yang tua-tua keras, bermata tajamMimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastianada di sisiku sekala kau menjaga daerah yang matiini Aku suka pada mereka yang berani hidupAku suka pada mereka yang masuk menemu malamMalam yang berwangi mimpi, berlucut debu…Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu 1948
Penulis Edisi 279
Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas dua […]