Penulis Edisi 167

Multama Nazri HSB, Lahir di Sibuhuan, Sumatera Utara, menikah dan bekerja sebagai wiraswasta di Medan Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis Tahun 1995 hingga sekarang. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar.

Tukang Cukur

Presiden Hayat “Bupati, Kapolres, dan pejabat-pejabat sini melanggani tukang cukur ini lho pak,“ temanku menyakinkan. Mungkin melihat mukaku yang masih berkerenyit-kerenyit dan ragu-ragu melihat tempatnya yang sangat sederhana. Terjepit di sudut segi tiga akibat belokan patah jalan raya, rumah cukur itu –setengah tembok, seperempat papan, dan sekitar seperempat lagi kaca– punya dua pintu; sebelah kiri […]

Kartu Platinum

Presiden Hayat “Kalau mau beli mobil tinggal gesek aja dong,“ iblis konsumtif di otakku yang menyambut ketika 2 orang marketing kartu kredit datang menemui di kantor. Mereka bilang kalau sampai disetujui, limit kreditnya bisa sampai 200 juta. Seksinya kartu kredit platinum dan bayangan orgasme berbelanja, hilir mudik menggoda dan meracuni akal sehatku. Dan bukan sekedar […]

Penulis Edisi 165

Presiden Hayat penikmat seni dan sayur asam wah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis sejak tahun 1995. Bukunya berjudul Revolusi Hati untuk Negeri akan segera terbit. Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin […]

Indonesia

Presiden Hayat Amputasi saja mulut politisi-politisi ituCangkokkan ke mulutnya bintang utara (Hayat)Kenapa di negara tercinta Indonesia –yang berlimpah sumber daya–  rakyatnya masih banyak yang miskin? Tidak terusikkah kita oleh fakta ini? Apa yang kita nggak punya? Batu-bara banyak. Minyak banyak. Nikel, tembaga, emas banyak. Tanahnya juga subur. Hutannya luas, Lautnya indah dan penuh ikan. Kenapa […]

Penulis Edisi 162

___________________ Abednego Afriadi, kelahiran Solo, aktif di Teater Teras Universitas Bantara Sukoharjo. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di Solopos, Koran Sindo, Jurnal Sastra Pendar, Antologi Cerpen Joglo 2, serta di Majalah Pawon Sastra Solo Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis […]

Warung Mie

Presiden Hayat Salah satu jam dinding di rumah makan ini menggoda perhatianku. Tidak seperti satunya yang menjengkelkan (mbelgedes; bergambar logo trondolo salah satu operator telepon), jam dinding imut ini bergambar sayur-sayuran. Ada wortel, sawi, kol, dan entah sayur apa lagi. Cocok sekali dengan makanan yang kupesan; Cap cay.   Tapi bukan itu yang membuatku tergoda untuk […]

Penulis Edisi 160

___________________ Liston P. Siregar, editor ceritanet.com. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Feri Hendriyadi, lahir di Bangka kini tinggal di Balikpapapan

Penulis Edisi 157

Baso Alan, menulis puisi Setangkai Puisi Di Malam Bulan Separuh, Andhika Mappasomba. M. Arpan Rahman lahir di Palembang dan menulis puisi sejak kelas 2 SMP lantaran tak tahan dengan pendidikan Orde Baru dan keluar dari sekolah. Sempat bekeliaran di jalanan sebelum jadi pegawai honorer di Dinas PU sambil melanjutkan pendidikan. Presiden Hayat, penikmat seni dan […]

Ketika Syukur datang dari Sebuah Pub

Presiden Hayat Penyanyi cantik berbaju minimalis itu mendatangi meja kami begitu istirahat dimulai. “Nyanyi lagi ya bang nanti. Tapi samaku.”  Aku hanya menggeleng. Teman yang duduk disebelahku beranjak dari kursinya, menawarkan segelas long island, dan mem-fait accomply penyanyi itu untuk menggantikan dia duduk disebelahku. Beruntung suasananya gelap, jadi tidak ada yang melihat rona merah yang […]