Penulis Edisi 152

Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. T. Wijaya M. bin Bachtiar, pegiat seni dan jurnalis di Palembang.

Krupuk dan Pemerintah

Presiden Hayat Most people are about as happy as they make their minds to be – Abraham Lincoln Belum terlalu sore, tapi hujan sudah mengurung kampung kami. Lampu-lampu tempel tak kuasa mengusir dingin. TV hitam putih menggeriap, tak berdaya di kotak kayunya kehabisan aki. Di sudut-sudut dinding cicak menggigil mengintai mangsa. Hujan selalu membiakkan lapar […]

Keep It Simple Stupid Kiss

Presiden Hayat “Boleh tahan nih Pak Hayat, jam nya kuning“ ledek kolegaku selesai meeting di kantornya di Kalimantan. Tangan kiriku dipegangnya dan cekikikan melihat jam plastik Levis LTB 1302. Mata keranjangku juga disuguhi Rolex GMT 1675 yang melingkar angkuh di pergelangan tangan kanannya. Kami beriringan menuju mobilnya yang akan mengantarku ke hotel.  “Kemarin jam-ku jatuh […]

Penulis Edisi 150

Han Gagas, cerpennya pernah dimuat Koran Sindo, Majalah Gong, Solopos, dan antologi cerpenis terpilih Joglo (Taman Budaya Jawa Tengah), antologi Cinta Pertama. Pernah menang sayembara cerpen 2007 yang diadakan Komunitas Senja, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang. Buku kumpulan cerpennya “Jejak Sunyi” segera diterbitkan. Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Rinto Sepriadi dan Poniman, murid SMAN […]

Kawin Tidak Kawin

Presiden Hayat I love being married. It’s so great to find one special person you want to annoy for the rest of your life.” Rita Rudner “You pasti disenangi cewek-cewek karena humoris“ tebakku merespon ceritanya, cerita lucu-lucu seputar istri-istrinya. “No!” Dia menggeleng.“They love me because I’m rich! “ lanjutnya dengan mimik serius. Spontan, aku tertawa terbahak-bahak. […]

Tentang Penulis Edisi 147

T. Wijaya bin M. Bcahtiar, pegiat seni dan jurnalis di Palembang. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Ronny P. Sasmita, lahir di Lubuk Basung , Sumatera Barat, dan kini sekolah di Universitas Pajajaran Bandung, Jawa Barat.

Jahanam Jahanam

Presiden Hayat Hari ini ulang tahunku. Sisa black forrest, red wine, champagne, dan juga sisa kegembiraan masih berserakan di apartemenku. Oh!  semua itu bakal lenyap tak lama lagi. Si Jahanam itu tahu nomor teleponku. Dia mengirim SMS beberapa detik lalu: “Kamu menikahi Elsa?” Aku belum tahu harus menjawab apa. Segera kumatikan handphone. Si Jahanam ternyata […]

Tentang Penulis Edisi 144

T. Wijaya, pegiat seni dan jurnalis di Palembang. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Puti Koja, tinggal di Batam.

Tentang Penulis Edisi 142

Ervan Hardoko, anak Salatiga yang jadi wartawan, di Kalimantan Timur dan kini berbasis di Jakarta. Wahyu Heriyadi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung dan di Bengkel Jurnalisme Bandar Lampung. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam

Bahasa

Presiden Hayat Berseloroh temanku menasehati: “kamu boleh keliru memilih istri, tetapi jangan pernah salah memilih mertua.’ Terkekeh-kekeh dia sambil bicara begitu. Aku hanya tersenyum dan tidak membantah ataupun mengiyakannya. Tapi kali ini aku tidak berniat bicara atau mengomentari substansi pembicaraan. Aku ingin mengajak kita berhenti sejenak mengamati kejadian percakapan antara aku dan temanku. Mengapa bisa […]