Penulis Edisi 264

Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com Arifah Nugraheni, kelahiran Klaten, Pulau Jawa, dan sekarang mengajar di SM3T di Pulau Morotai, Maluku Utara. Kontrak mengajarnya di Pulau Morotai selama satu tahun dan pada masa itu ingin memebantu menyampaikan suara-suara para murid di Pulau Morotai. Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. […]

Penulis Edisi 265

Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com Jajang Kawentar, mengajar di SMA Pusri Palembang dan sebagai pegiat seni ikut mengelola Sanggar Air Seni Palembang. Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil […]

Penulis Edisi 266

Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas dua MULO ke Jakarta, tempat ia […]

Penulis Edisi 267

Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas dua […]

Sajak Siap Sedia

kepada angkatankuChairil Anwar Tanganmu nanti tegang kaku,Jantungmu nanti berdebar berhentiTubuhmu nanti mengeras batuTapi kami sederap menggantiTerus memahat ini Tugu Matamu nanti kaca sajaMulutmu nanti habis bicaraDarahmu nanti mengalir berhentiTapi kami sederap meggantiTerus berdaya ke Masyarakat Jaya Suaramu nanti diam ditekanNamamu nanti terbang hilangLangkahmu nanti enggan ke depanTapi kami sederap menggantiBersatu maju ke Kemenangan Darah kami […]

1945

kepada penyair BohangSuaramu bertanda derita laut tenang…Si Mati ini padaku masih berbicaraKarena dia cinta, di mulutnya membusahDan rindu yang mau memerahi segalaSi Mati ini matanya terus bertanya Kelana tidak bersejarahBerjalan kau terus!Sehingga tidak gelisahBegitu berlumuran darah Dan duka juga menengadahMelihat gayamu melangkahMendayu suara patah:“Aku saksi!” Bohang,Jauh di dasar jiwamubertampuk suatu dunia:menguyup rintik satu-satuKaca dari dirimu […]

Doa

kepada pemeluk teguhChairil Anwar TuhankuDalam termanguAku masih menyebut namaMu Biar susah sungguhmengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas sucitinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentukremuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhankudi pintuMu aku mengetukaku tidak bisa berpaling*** 13 November 1943

Isa

kepada nasrani sejatiChairil Anwar Itu tubuhmengucur darahmengucur darah rubuhpatah mendampar tanya: aku salah? kulihat Tubuh mengucur darahaku berkaca dalam darah mengatup luka aku bersuka Itu Tubuhmengucur darahmengucur darah*** 12 November 1943

Dalam Kereta

Dalam keretaHujan menebal jendela Semarang, Solo… makin dekat sajaMenangkup senja Menguak purnamaCaya menyayat mulut dan mataMenjengking kereta. Menjengking jiwa, Sayatan terus ke dada*** 15 Maret 1944

sajak Bercerai

Kita musti berceraiSebelum kicau murai berderai Terlalu kita minta pada malam ini Benar belum puas serah-menyerahDarah masih berbusah-busah Terlalu kita minta pada malam ini Kita mesti berceraiBiar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai Dua benua bakal bentur-membenturMerah kesumba jadi putih kapur Bagaimana?Kalau IDA, mau turut mengaburTidak samudra caya tempatmu menghambur***7 Juni 1942