Hujan Yang Terlewatkan

Wahyu Heriyadi Malammu telah terlewatkan ketika hujan deras itu menghujam tanah. Kita pun melerai badai perlahan dengan usap. Ratapan menggenang, membasahi sekujur tubuh kita, namun masih dalam gigil ini. Kau di tepi jalan persimpangan, menengadah, menghunus sebilah ketajaman, lidah kelu, namun merapal sesuatu, tak terdengar jelas. Tak sesiapa pun melewati jalanmu, saat itu lenggang yang […]

Tentang Penulis Edisi 139

Mukhotib MD, freelancer dan pekerja sosial yang bekerja untuk kampanye penanggulangan HIV/AIDS melalui media kebudayaan. Wahyu Heriyadi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung dan pegiat di Bengkel Jurnalisme Bandar Lampung. Amir Ramdhani, tinggal di Depok, masih kuliah di Universitas Nasional Jakarta, jurusan perhotelan, dan gemar menulis puisi.

Kliwon

Mukhotib MD Kliwon benar-benar gelisah. Tiba-tiba saja ia selalu ingat mati. Kematian seakan-akan sudah begitu dekat di pelupuk matanya. Apalagi semalam ia bermimpi dua gigi gerahamnya copot. Malam sebelumnya ia bermimpi pula dinikahkan oleh kedua orang tuanya. Perlambang dari mimpi itu, bagi Kliwon, merupakan firasat kematian yang datang dari sang Kuasa. Suara burung gagak di […]

Ketika Angin Mendesis di Parangtritis

—buat Sonya ketika angin mendesis di Parangtritisdan mengemas senja amsal romantiskala gerimis,kau mendekatiku dengan ranum senyum manisterukir di bibirlangkahmu mendesir di pasirdisibak riak ombakdi mana kau-aku sama tak bertolaksimaklah,gairah merekah di pantai yang rebah,resah punah,lalu lusuh segala amarah,segala sesak karam ke semak-semak karang    yang dulu matang dipanggang gamangtapi mengapa kita hanya sebentar bersandartanpa kabar, kau-aku […]

Tafakur Guru

tanpa memelaskami mengembara dari kelas ke kelasbahagia rasanya bersama anak-anak yang manistidak bahagia bila ada anak yang malasdan juga beringas tapi murid-muridlah guru-guru kamidi mana kami dapat belajar memaklumipotensi diri tanpa mesti emosisabar menanggung lelahdalam mendidik siswasupaya kerja tak sia-siatunas-tunas bangsa kelak tumbuh berbuah2005

Stasiun Kota

Amir Ramdhani keringatkeringat berkembangbiakdi sekitar berisik kereta,pagar bangunan tua,rongsokan baja.mobilmobil terus saja berlari di lintasan kakitak percaya pada perhitungan nanti.selalu berdesakselalu, kota oleng oleh ombak masih ada yang tak pernah punah: jalanankerap terperangkap pengap asap menguapbeberapa kali menusuk jantung, merobek oksigenbisakah kita bertahanjakarta, 2004