Tentang Penulis Edisi 142
Ervan Hardoko, anak Salatiga yang jadi wartawan, di Kalimantan Timur dan kini berbasis di Jakarta. Wahyu Heriyadi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung dan di Bengkel Jurnalisme Bandar Lampung. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam
Belanda, Kereta Api dan Gergaji
Ervan Hardoko Meski sejarah mencatat, Belanda menjajah Indonesia 350 tahun lebih namun si penjajah ini masih memiliki sejumlah sisi baik yang mungkin terlupakan. Lewat Daendels –yang dalam buku sejarah Indonesia ditulis sebagai orang kejam– dibangunlah jalur Pantura yang sekarang digunakan jutaan orang Indonesia dan selalu macet saat lebaran itu, dan masih berfungsi hingga kini. Bukan […]
Seorang Teman
Wahyu Heriyadi Ia begitu terpikat oleh gelombang pemikiran postmodern. sejak pada awal pertama aku mengenalnya. Ia mulai menunjukkan ketidak senangan pada prosesi ospek yang begitu menindas, dalam perbicangan kepada teman-temannya. Ia menyarankan untuk tidak mengikuti ospek, untuk memboikotnya. Namun tak ada yang setuju; semua menggeleng. Lebih baik mengikuti prosesi ospek, mungkin baik untuk kita, kataku […]
Bahasa
Presiden Hayat Berseloroh temanku menasehati: “kamu boleh keliru memilih istri, tetapi jangan pernah salah memilih mertua.’ Terkekeh-kekeh dia sambil bicara begitu. Aku hanya tersenyum dan tidak membantah ataupun mengiyakannya. Tapi kali ini aku tidak berniat bicara atau mengomentari substansi pembicaraan. Aku ingin mengajak kita berhenti sejenak mengamati kejadian percakapan antara aku dan temanku. Mengapa bisa […]