Isebel
Abednego Afriadi 22.00 WIB : Oooo…oooo…letakkan senjata! Sudah satu jam, tangan kanan Supran menggenggam sebilah belati. Nafasnya berhembus tak teratur. Meski berbatang-batang rokok telah habis dihisapnya. Kedua kakinya masih dirasakannya gemetaran, meski beberapa detik sempat kembali berdiri tenang. Apa yang dinantikan? Hanya sebuah pertikaian. Ia ingin pertikaian itu lekas selesai dengan jawaban siapa yang kalah […]
Indonesia
Presiden Hayat Amputasi saja mulut politisi-politisi ituCangkokkan ke mulutnya bintang utara (Hayat)Kenapa di negara tercinta Indonesia –yang berlimpah sumber daya– rakyatnya masih banyak yang miskin? Tidak terusikkah kita oleh fakta ini? Apa yang kita nggak punya? Batu-bara banyak. Minyak banyak. Nikel, tembaga, emas banyak. Tanahnya juga subur. Hutannya luas, Lautnya indah dan penuh ikan. Kenapa […]
Maling dan Ustadz – Imron Supriyadi
1. Selamat Tinggal Pulau JawaAku sempat mengenyam pendidikan pesantren selama tiga tahun. Perjalanan yang jauh dari cukup untuk menggali ilmu agama, tapi mungkin sudah cukup untuk memulai mengenal ilmu agama. Kenyataan pastinya adalah sudah menjadi keputusan ayah agar aku segera keluar dari pesantren, walau bagiku kebijakan itu sangat tidak masuk akal. Aku tak kuasa mendebatnya […]
Penulis Edisi 162
___________________ Abednego Afriadi, kelahiran Solo, aktif di Teater Teras Universitas Bantara Sukoharjo. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di Solopos, Koran Sindo, Jurnal Sastra Pendar, Antologi Cerpen Joglo 2, serta di Majalah Pawon Sastra Solo Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis […]