Gerimis Subuh Buta
gerimis subuh butabangunkan lelap tidurberharap kau juga d isanaterjaga dan merindu aku dalam helai selimutaku mau hangatmusehangat napaskuyang selalu menyebut satu namadi bangun dan tidurku(Maitri, 09 June 2009)
Katamu
Ganjar Sudibyo Katamu sungai itu adalah belahanmuSedang delta adalah kepunyaankuDan kita bertemu di arus tenang rawa ituSesaat di penantian senja kelam Tapi ular kau!Membisik bujuk di puncak lelahkuMenyisa ciptakan adam adam baruMemecah puingkan kaca kaca tempat dua kepingMelebur kristalkan diri, laluTertumpah ke atas lontaran naskahku (kutinggal saja kelumpuhanku)
Kataku
Aku tak mau ditipu olehmuOleh irisan nada nada melodis busukmuOleh lembaran lukisan lukisan firdausmuOleh teduhan larik puisi puisi mawarmu sadar inderaku tak mudah terkelabuh dua kali***2009
Di Sini
Dewi Penyair wajahmu belum tiba juapadahal rindu sudah jadi doahanya cahayamu sajamenerangi seluruh diamdi sini cepatlahkekasihjangan biarkan aku menunggusampai lelap dan terlelap lagihingga esok dan esok lagidi sini(Maitri, 13 June 2009)
Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi Kali pertama seorang wali menyerahkan seorang gadis kepadaku; bukan untuk dinikahi tetapi untuk diajari mengaji. Puspita Indah Sari, begitu nama gadis itu, namun orang memanggilnya Indah. Putri dari Pak Wasis ini –tetangga Mbah Hudi– baru ditarik dari Yogyakarta karena kakak perempuannya tak tahan dengan ulah Indah. Menurut Pak Wasis, saat di Yogya Indah […]
Rumah, rumah, janjimu, janjimu
Presiden Hayatwww.presiden-hayat.blogspot.com “Sudah lama menjadi pemakan mie instan, nabung bertahun-tahun tapi rumah sederhanapun belum terbeli jua!” gerundelan temanku nyaris tak terdengar bak kalah bersaing dengan jeritan orgasme minyak goreng dalam wajan super panas ketika bawang merah kumasukkan dan bulir-bulir air yang masih membasahi bawang sehabis dicuci memang menambah kencang dan heboh teriakannya, seperti rentetan bunyi […]
Penulis Edisi 178
Ganjar Sudibyo Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Dewi Penyair, bukan dari keluarga penyair dan bukan mau menjadi seorang penyair tapi tulisannya -akunya- adalah perasaaan jiwa yang mengimbangi kesetaraan pikiran. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar.