Mari Bicara Tentang Cinta yang Mengawang

Suhendri Cahya Purnama Rumput hijau yang kududuki itu memang istimewa. Hijau, lembut dan terbebas dari rasa lembab. Bertebaran dalam pola lingkaran dan terbagi atas empat bagian, terpisahkan tanda (+) yang memagarinya begitu sempurna. Bangunan-bangunan di sekitarnya pun tak kalah istimewa. Konon dirancang oleh para arsitektur kawakan dari negeri kaum samurai. Bertingkat lima dengan dua buah […]

Penulis Edisi 205

Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam Suhendri Cahya Purnama, tinggal di Bandung. __________________________________

Obrolan Mayat-mayat

Presiden Hayat Di taman makam pahlawan ini kita saling berbagi kebohongan yang telah kita lakukanmenceritakan rahasia-rahasia yang tak lagi menjadi rahasiamenertawai si pengecut, cecunguk yang meringkuk di balik seragam gagahkita tersenyum kecut mengingat siasat divide et imperalempar bom sembunyi tanganmanajemen terorah masa lalumasih terngiang-ngiang tembakan salvo dan tatapan polos para peziarah itu 

Sepi Bergaduh

Tuhan menciptakan sepidi mana muhasabah dibiakkan Tuhan menciptakan sepidi mana marah dipenjarakan Tuhan menciptakan sepidi mana malam disenangkan Tuhan menciptakan sepidimana luka disembuhkan Tuhan menciptakan sepidi mana aku nyamanbersandar di sana di dalam sepi, aku tidak kesepian

Tuhan menciptakan riuh

Tuhan menciptakan riuh agar suara keadilan gaduhTuhan menciptakan riuh agar kekritisan kita tidak roboh jatuhTuhan menciptakan riuh agar demokrasi bisa berlabuhriuh bukan sekedar mengaduh-aduh tapi berpacu berbuat sesuatu yang ampuhsembari tetap bersimpuh padamu yang telah menyelamatkan nabi nuh***