Ciliwung yang Manis

W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Ciliwung mengalirdan menyindir gedung-gedung kota Jakartakerna tiada bagai kota yang papa ituia tahu siapa bundanya CIliwung bagai lidah terjulurCiliwung yang manis tunjukkan lenggoknya Dan Jakarta kecapaiandalam bisingnya yang tawardalamnya berkeliaran wajah-wajah yang laparhati yang berteriak karena sunyinyamaka segala sajakadalah terlahir karena nestapakalaupun bukanadalah dari yang sia-siaataupun ria yang […]

Sepanjang Gunung Sahari

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Kami lupakan lapar dengan perempuanBersusu hitam: daki dan mentariKami lupakan kesibukan kotaDerum mobil dan kapal terbangAnak-anak berkejaran mengakhiri hari Kami bicara tentang kebakaranIbu hangus ayah tertembakKampung habis dan kota kepadatanNamun kami tak menangisKan menangis air mata habis Yang siang hari perempuan kami punyaMalam milik siapa sajaPagi-pagi datang lesu […]

Merindu Purnama

Suhendri Cahya Purnama Dulu, suatu waktu, kau pernah berkata: “Lepaskan semua egomu, kau akan bertemu Tuhanmu. Ia hanya akan tersibak kala segala keberhalaanmu kau campakkan. Bahkan, untuk melafaskan namamu pun, kau tak kuasa. Manunggaling kawula gusti, dalam arti yang murni.”     Dulu, suatu ketika, kau pernah berujar, “Hafalan ayat-ayat suci yang setiap masa menaburi waktumu, tak […]

Penulis edisi 215

Suhendri Cahya Purnama tinggal di Bandung. Ajip Rosidi (lahir 1938) pertama kali pindah ke Jakarta tahun 1951 ketika mau melanjutkan sekolah menengahnya, belajar menulis dan memilih kesusastraan sebagai pilihan hidupnya di sana, memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955), Prosa (1955) dan Budaja Djaja (sejak 1968). Pernah memimpin Madjalah Sunda (1965-1967) di Bandung. Sejak 1971 memimpin Badan Penerbit Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya. Menerbitkan sejumlah […]