Penghujung Senja

(Suhendri Cahya Purnama) Kau pernah meminta, “Buatkan aku sebuah cerita. Tentangku. Hidupku. Atau kisahku.” Sebentuk pinta yang tak kuacuhkan. Kuanggap itu hanyalah ocehan dari seorang bocah. Tak perlu dipikirkan.Pikiranku saat itu terlalu dipenuhi oleh ide-ide besar. Menorehkan tulisan menapaki jalan para peraih Nobel. Lihat! Ada berderet nama besar yang harus kusapa. Rabindranath Tagore di anak […]

MORE
Ibukota Senja

Toto S. Bachtiar (1951) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hariAntara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandiDi sungai kesayangan, o, kota kekasihKlakson oto dan lonceng trem saling menyaingiUdara menekan berat di atas jalan panjang berkelokanGedung-gedung dan kepala mengabur dalam senjaMengurai dan layung-layung membara di langit barat dayaO, kota kekasihTekankan aku pada pusat hatimuDitengah-tengah kesibukanmu […]

MORE
Aku Berkisar Antara Mereka

Chairil Anwar (1949) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Aku berkisar antara mereka, sejak terpaksaBertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata merekapergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:kenyataan-kenyataan yang didapatnya(bioskop Capitol putar film Amerikalagu-lagu baru irama mereka berdansa)Kami pulang tidak kena apa-apaSungguhpun ajal macam rupa jadi tetanggaTerkumpul di halte, kami tunggu trem dari KotaYang bergerak di malam hari […]

MORE
Penulis edisi 217

Suhendri Cahya Punama, tinggal di Bandung. Chairil Anwar (1922-1949) pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas […]

MORE