Kita Guyah Lemah*

Kita guyah lemahSekali tetak tentu rebahSegala erang dan jeritanKita pendiam dalam keseharian Mari tegak merentakDiri sekeliling kita bentakIni malam purnama akan menembus awan***22 Juli 1943 *. Judul sajak berasal dari Pamusuk Eneste, semula sajak ini tanpa judul

Penulis edisi 263

Arifah Nugraheni, kelahiran Klaten, Pulau Jawa, dan sekarang mengajar di SM3T di Pulau Morotai, Maluku Utara. Kontrak mengajarnya di Pulau Morotai selama satu tahun dan pada masa itu ingin memebantu menyampaikan suara-suara para murid di Pulau Morotai. Viktoriya Tokareva, lahir 20 November 1937 in Leningrad. Penulis naskah film dan cerita pendek. Karakter Tokareva cenderung orang […]

Teheran Dalam Stoples

Perasaan Adalah Pengelana Waktu Aku merasakan duniaku yang normal saat aku kembali ke Indonesia, rumahku dan tanah airku. Dari beribu-ribu pulau dan dari berjuta-juta kota, Kediri yang ibu pilih sebagai tempat untuk menulis novel dan tempat aku tumbuh menjadi remaja yang normal. Aku orang asing namun berbeda dengan saat di Iran, aku diperlakukan bak dewi, […]

Membara

Sungguh, serasa setiap orang di pulau ini punya satu matahari di atas kepalanya. Terlihat jelas fatamorgana di atas jalan aspal Morotai. Minggu kedua di bulan Februari, panas membara hingga keringat tidak hentinya menetes. Tiga hari yang lalu seorang teman guru melahirkan bayi perempuan, aku dan kedua temanku sedang dalam perjalanan untuk membesuk. Langkah kami bertiga […]

Dari Kehidupan Para Jutawan

Victoria TokarevaPenerjemah: Victor Pogadaev Pada keesokan harinya, Maurice membawaku ke bandara. Naik Jaguar biru. Koporku tak juga ditemui tetapi aku diyakinkan kopor itu akan  ditemui juga nanti. Aku sudah biasa dengan kehilangan. Aku memperoleh gaun baru dan dengan wajah baru bergaya seorang perempuan penggoda lelaki. Apakah itu sama nilainya dengan satu kopor? Aku melalui tempat […]

Merdeka

Aku mau bebas dari segalaMerdekaJuga dari Ida PernahAku percaya pada sumpah dan cintaMenjadi sumsum dan darahSeharian kukunyah-kumamah Sedang meradangSegala kurenggutIkut bayang Tapi kiniHidupku terlalu tenangSelama tidak antara badaiKalah menang Ah! Jiwa yang menggapai-gapaiMengapa kalau beranjak dari siniKucoba dalam hati***14 Juli 1943