Aku Berada Kembali

Aku berada kembali. Banyak yang asingair mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elangserta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain; rasa laut telah berubah dan kupunya wajahjuga disinari mataharilain HanyaKelengangan tinggal tetap sajaLebih lengang aku di kelak-kelok jalan:lebi lengang pula ketika berada antarayang mengharap dan yang melepas Telinga kiri masih berpalingditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang       guruh***

Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauhterasa hari akan jadi malamada beberapa dahan di tingkap merapuhdipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahansudah berapa waktu bukan kanak lagitapi dulu memang ada suatu bahanyang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahantambah terasing dari cinta sekolah rendahdan tahu, ada yang tetap tidak terucapkansebelum pada akhirnya kita menyerah*** 1949

Ibuku Perempuan Perkasa – Eliakim Sitorus

Hari masih pagi, keramaian jalanan di ibu kota memaksa aku harus konsentrasi, Rabu 8 September 2004.  Aku sedang mengenderai sepeda motor, dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja. Persis di depan kantor Dewan Pimpinan Daerah  Partai Golkar DKI Jakarta, saya merasa telpon selular di dalam saku bergetar. Kalau getarannya hanya sejenak, cuma pesan yang masuk […]

Penulis Edisi 283

Eliakim Sitorus, Tamat dari Universitas Sumatera Utara Medan, melanjutkan S2 ke Universitas Satyawacana Salatiga dan lalu lalang sebagai pegiat pemberdayaan masyarakat dan penyelesaian konflik. Chairil Anwar, (1922-1949), pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur […]