Dokter Zhivago 37 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru. Layatan telah selesai. Dalam hawa dingin itu para pengemis menyuruk-nyuruk berkumpul dalam dua barisan. Kereta mayat, pedati dengan karangan-karangan bunga serta kereta keluarga Krueger bergerak dan goyang sedikit. Sais-sais mendekati gereja, Shura Schlesinger keluar dengan muka tercoreng oleh bekas air mata; ia buka […]

Wanita Yang Datang Pada Pukul Enam – Gabriel Garcia Marquez

Pintu ayun dibuka. Pada saat itu tidak ada orang di restoran Jose. Jam mulai saja berdentang enam kali dan laki-laki itu tahu bahwa para langganan tetapnya tidak akan tiba sebelum pukul enam tiga puluh. Langganannya memang sangat kolot dan teratur, dan jam belum selesai berdentang enam kali ketika seorang wanita masuk, sama seperti hari-hari sebelumnya, […]

Tentang Penulis Edisi 37

J.J.Kusniorang Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah, dan pecinta satra.Bramantyo Prijosusilo, pegiat seni instalasi asal Jogja, hidup antara Jogja-London.

Hikayat Orang Miskin Indonesia – Yopie Hidayat

Inilah kisah tentang persoalan negeri bernama Indonesia. Awal mulanya adalah ketika pemerintahan yang sudah berumur 32 tahun mencapai puncak kerapuhan. Para kawulanya sudah tidak percaya sehingga kejadian sepele sekalipun sudah cukup membentuk ular antrean panjang di depan kasir bank, untuk menarik uangnya. Dan marilah bandingkan dengan apa yang terjadi di negeri bernama Argentina, sekarang ini, […]

Le Pen dan Indonesia? – Liston P Siregar

Le Pen seperti obat kuat bagi politik Perancis. Pemilihan presiden yang tadinya lesu langsung jadi unjuk rasa jalanan, ekspresi politik yang paling transparan. Bagi orang Perancis –yang tradisi kiri-nya paling keras di kawasan Eropa Barat– perolehan 16,86 persen suara partai ultra nasionalis -walau tak sampai satu persen diatas partai Sosialis- seperti membunuh karakter bangsa Perancis […]

Bukan Kerja Akhir Pekan – J.J. Kusni

kebutkanlah mantel dinginmu mengebut daki-daki musimdan kita kembali berangkat, “apakah masih jauh ujung jalan?”jalan kita berbataskan malam, bung kerna itu patut bergegasmemacu mentari dan tak usah tanyakan jam berapa sekarang, takusah mengeluh pegal ngilu kaki-tangan jika mau bersama***

Dan Memang Kita Tak Boleh Menjadi Pungguk – J.J. Kusni

kebanggaan? apa yang bisa kubanggakan pada diri, sanjakkupunhanyalah baris-baris sederhana jauh dari puitik sesederhanacintaku, itupun masih patut diuji ditempa waktu, apakah buahmanis-ranum terus manis-ranum ataukah busuk di pohon olehhama-hama ancaman***

Pangeran Jawa Atawa Jager Melayu 16 – Bramantyo Prijosusilo

Setelah setiap hari bertambah gelap dan dingin dan basah dan menjemukan, sampailah juga bulan November. Lebih dingin. Lebih gelap. Sering matahari tidak terbit sama sekali, sampai malam datang tergesa-gesa, gelap pada pukul empat sore hari. Angin kencang meniup pucuk-pucuk cerobong asap yang menyembul dari setiap bangunan kota tua, dan menimbulkan bunyi lolong-lolong panjang, mirip dengan […]