Tinggalkan Senyummu di Sini

Tolong biarkan terbuka pintu ituTiba saatnya untuk melepaskanJangan menoleh lagi ke belakangCukup tinggalkan senyummu di sini Tolong hapuskan sisa luka di hatimuBiar berlalu dengan waktu berjalanJangan mengusik jiwa yang tenangCukup tinggalkan senyummu di sini Tolong lupakan segala janji semuTak guna mengumbar secercah harapanJangan hiraukan lamunan menerawangCukup tinggalkan senyummu di sini Tolong bebaskan dari kepedihan bekuHapuskan […]

Kangen Rudi

Tadi malam aku bermimpi lagiAku kangen, koq terus berulangTadi malam aku berdoa dengan hikmatAku kangen, koq enggak terucap Tadi pagi aku terkenang lagiAku kangen, koq enggak pulangTadi pagi aku merenung sesaatAku kangen, koq enggak lenyap Tadi siang aku berkebun lagiAku kangen, koq enggak datangTadi siang aku melihat seekor ulatAku kangen, koq enggak kamu tangkap Sore […]

Kaca

Mia Singgih Seandainya kaca itu bisa berucapMasih perlukah perasaan bimbangTentang keberadaan sesaat? Seandainya aku bersayapMasih perlukah aku terbangMeninggalkan pertalian yang erat? Seandainya kaca itu tak retakMasih perlukah aku mengenangSerpihan-serpihan pilu menyayat? Seandainya aku tak tersentakMasih perlukah aku mengerangKesakitan yang singgah sekelebat? Kaca …Pandanglah mata hatiku jauh ke dalamPungutlah pecahan-pecahanmu yang tajamYang menggores luka berdarah merah […]

Belajar dan (atau) Bekerja

Dengan terbitnya Keping Kenangan, kumpulan memoar orang biasa, ceritanet punya rencana menerbitkan kumpulan memoar jilid 2. Biasanya, seperti film-film Holywood, jilid ke 2 terkesan dipaksakan. Tapi ceritanet justru bertentangan dengan nafas Holywood, yang berbau selebriti, dan kumpulan memoar ceritanet memang agak memaksa secara halus, tepatnya membujuk, orang untuk menulis. Jadi ada rencana untuk kumpulan memoar […]

Taman Mishima

Dunia berlanjut menjadi dirinya sendiri. Ada pengasingan tiba-tiba merasuk dari cermin itu.Pemahaman setiap kali gagal menjelaskan tatapanmu. Maka taman berduka pun tumbuh dari reruntuhan di belakangmu.Mereka mewujudkan diri berupa bunga-bunga tanpa warna. Barangkali ada yang lebih dulu berteriak pada batu-batu berlumut itu.Namun mereka terbang dengan pengetahuan seekor lebah. Sebab bahasa telah dilumpuhkan menjadi dengung tengah […]

Percepatan Ruang

Arie MP Tamba Sebuah percepatan telah meleburnya menjadi pengulangan-pengulangan.Menciptakan kebosanan-kebosanan yang sama bagi setiap persetubuhan. Lukanya kemudian menganga telanjang seperti sejarah orang lain.Dan sayap-sayap kemarahan melengkapi perhitungannya. Ia pun merumuskan dirinya sebagai api tengah malam.Dan memarak tanpa ragu pada gelap-gelap matamu. Tapi tubuhnya selalu ringan dan berkelompok seperti awan.Meluas tanpa sebuah puncak sebagai penjelasan. Ruang […]

Sungai Musi Bukan Pacarku (Mengurai Kegagalan)

T. Wijaya Sungai Musi bukan pacarku. Tapi dia selalu menggodaku. Kulitnya tidak menarik seleraku. Kuning kecoklatan. Tapi setiap saat aroma tubuhnya, kepadaku, selalu mencoba menjelaskan masa lalu dirinya: Disetubuhi keperkasaan Bala Putra Dewa, ditaklukan Dharmawangsa, dirongrong perompak Chang Lien, diagungkan Ki Gede Ing Suro, dan kini entahlah…pabrik-pabrik dan rumah panggung yang nyaris roboh memimpikan karakter […]

Tentang Penulis Edisi 84

Arie MP. Tamba, penyair dan penulis cerpen kelahiran Medan ini kini tinggal di Bekasi. T. Wijaya, pegiat sastra yang tinggal di Palembang. Mia Singgih, tamat dari Fakultas Sastra UI dan kini tinggal di kota kecil Hilperton, Inggris. Senang bercocok tanam, jalan di alam lepas dan nulis puisi. Hayat, sehari-hari bekerja sebagai karyawan di Jakarta dan […]

Mahar

kan kunikahi engkaudengan mahar sekepala ubanku