Catatan Malam di Sebuah Beranda
wajah perempuan dalam sampul majalah buram tersapu cahaya lampu minyak tanahbintang dan bulan gemerlap tak berdaya membubuhkan pesona pada senyumnyabibirnya masai setelah melewati berbagai tangan sejak entahtak ada air mata tentu sajakecuali gumam doa seorang dara yang memandang gelisah di beranda110203
Jakarta 2003
Pedjekota ini benar-benar telah menjadi pasar mahabesarkesunyian menampakkan wajahnya dalam senyum menggodatapi matanya bagai biji sagakantuk tertahan di antara derap mimpi yang ingar110203
Tentang Penulis Edisi 94
Yopie Hidayat,wartawan Majalah Kontan dan sekaligus pemusik. Pedje, tamatan Sastra UI yang senang menulis puisi, bekerja di berbagai media sebelum menjabat redaktur senior di Majalah Wanita Lisa.
Tentang Penulis Edisi 87
Pedje, nama aslinya Purwadi Djunaedi, tamat dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan kumpulan puisi pertamanya, Jendela: Sajak-Sajak Purwadi Djunaedi, diterbitkan oleh PT Margi Wahyu pada tahun 1994. Dino F. Umahuk, Lahir di sebuah desa terpencil bernama Capalulu di Provinsi Maluku Utara, dan kini bekerja sebagai konsultan untuk program Peace Campaign di Social Economy Recovery Program […]
Tentang Penulis Edisi 87
Pedje, nama aslinya Purwadi Djunaedi, tamat dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan kumpulan puisi pertamanya, Jendela: Sajak-Sajak Purwadi Djunaedi, diterbitkan oleh PT Margi Wahyu pada tahun 1994. Dino F. Umahuk, Lahir di sebuah desa terpencil bernama Capalulu di Provinsi Maluku Utara, dan kini bekerja sebagai konsultan untuk program Peace Campaign di Social Economy Recovery Program […]
Dalam Kerumun Hujan
dalam kerumun hujan tak terdengar lagi rintihan itugelegar guntur sesekali melempar sunyirumah-rumah kardus gemetar bagai ikan terperangkap bubu siapa bernyanyi dengan syair dari Barzanji?Februari 2003
Pemandangan Senja, 2
matahari pucat pasimemergoki wajahnya terpantul di kaca-kaca gedung-gedung tinggi berjuta orang memburu bayang-bayang anak-anak menurunkan layang-layangJanuari-Juni 2003
Pemandangan Senja, 1
Pedje ketika senja tiba di tanah basah, sekawan nyamuk berkepak resahdi antara lengking azan dari puncak menara, gemuruh kereta menuju utara,dan jerit bayi dari rumah tanpa jendela seorang wanita menggelepar dengan mulut berbusa beraroma racun seranggaJanuari-Juni 2003
Cerita untuk Elang, 2
pulang dari museum, seorang anak bercerita kepada ayahnya“Di sana banyak arca. Ada yang kecil, besar, tanpa kepala, dan bermacam rupa,” katanya sehabis menonton acara televisiia datangi ayahnya kembalibertanya tentang pesawat luar angkasa“Apakah pesawat itu bisa sampai ke bintang kejora?” ujarnya esoknya, dengan wajah gembiraia bilang kepada ayahnyatelah hafal sebuah lagu yang baru diajarkan guru sekolahnya: […]
Cerita untuk Elang, 1
di sebatang trotoarseorang bocah membiarkan mimpinya telantar: gambar dua gunung mengapit matahari bersinartak ada pepohonan atau semak belukarjuga sawah luas terhampar di jalanpecahan arang berceceran aspal mengusam Januari-Juni 2003