Tentang Penulis Edisi 25
Bramantyo Prijosusilo, pegiat seni instalasi asal Jogja. Pernah bermukim di London dan sekarang kembali ke Jogja.Yayak Kencrit pegiat seni asal Yogya, pembuat kalender Tanah Untuk Rakyat, dan pendiri Perguruan Rakyat Merdeka. Kini tinggal di Jerman. Lily Glorida Nababan Tamatan Fakultas Hukum Universitas Parahiyangan, Bandung, lantas ikut pendidikan di Lembaga Pers Dr. Soetomo, masuk SWA dan […]
Tanah Sejengkal Adalah Hidup – Yayak Kencrit
Dari seorang romo Jesuit yang pernah sibuk mendampingi orang-orang sial di tempat penampungan sampah di daerah Cilincing, Jakarta, aku dapat kabar ; “Pemulung sampah yang mencoba mempertahankan tanah bekas gunungan sampah sudah ada korban sekitar 10-an orang mati. Ditembak atau disiksa.” Wah serius, pikirku. Meskipun gelandangan, mereka warga negeri yang mempunyai hak hidup sama dengan […]
Air Wangi Gunung Kapur – Yayak Kencrit
Diajak aku suatu hari, tahun 1987, oleh Syeh Cempe Lawuwarta, seorang seniman jalanan, bekas anak buah Bengkel Teater, untuk menengok gurunya yang juga lagi ketitipan seorang kawan yang tergegar jiwanya akibat tekanan selama aktivitas kerja sosial politiknya di Lombok. Aku turuti saja. Menuju Pacitan selewat Wonogiri, mulailah kami memasuki daerah perbukitan kapur. Lepas dari jalan […]
Tentang Penulis Edisi 20
B. Herry Priyono, salah seorang pendiri Institut Sosial Jakarta, kini sedang dalam tahap akhir PhD pada London School of Economics (LSE), Inggris. Yayak Kencrit pegiat seni asal Yogya, pembuat kalender Tanah Untuk Rakyat, dan pendiri Perguruan Rakyat Merdeka. Kini tinggal di Jerman.Mohamad Susilo, Tamatan Sastra Inggris IKIP Semarang, masuk Jawa Pos di Jakarta dan bergabung dengan BBC Siaran Indonesia. […]