Tentang Yang Tidak Pernah Ada 3

cerpen 
Victoria Tokareva, diterjemahkan Dr. Victor A. Pogadaev

Dima ingat muka direktur kebun binatang dan juga masalahnya serta melihat logika dalam perkataan ibu dan kelakuan istri Vasya.Itulah awal keraguannya.Keraguan seperti penyakit yang harus dideteksi pada masanya dan dirawat, dan hanya dengan demikianlah maka tidak akan tertinggal. Dan keraguan Dima sudah amat kuat: terpendam dalam hatinya selama dua bulan dan menyebabkan komplikasi berat. Dulu dia hanya merasakannya di bawah tulang rusuk dan hanya saat malam saja, sekarang terasa siang-malam dan bukan saja di bawah tulang rusuk tetapi juga di jantung, di otak dan bahkan di mulut. Apabila Dima makan, maka dia memperhatikan dan mencium makanan itu cukup lama dari segala sisi, sebelum berani menyantapnya. Sesudah merasakan adanya keraguan di semua organ badan yang penting, Dima mengangkat gagang telepon, menghubungi teman sekelasnya dulu, ahli geologi Vasya.Dima menyapa dengan sopan dan bertanya: “Maukah Vasya mengambil kembali harimau?” sambil berjanji mengembalikannya tanpa bayaran seperti saat dulu mengambilnya.

Vasya menjawab bahwa dia tidak sekalipun akan mengambil kembali harimau itu dan tidak mengenal orang selain Dima satu-satunya yang bercita-cita punya harimau. “Pergilah ke kebun binatang,” nasihat Vasya. “Mereka akan membayar banyak duit dan bahkan mengucapkan terima kasih.” Dima pergi ke binatang Dima tetapi tidak menerima ucapan terima kasih apapun. “Kami tidak butuh itu,” kata direktur kebun binatang. “Kami kekurangan sangkar,” katanya memandang Dima dengan sepi dan acuh tak acuh sehingga Dima tidak bisa paham apakah masih ingat dia atau tidak. “Aku pernah ke sini,” Dima mengingatkan dengan hati-hati.”Aku ingat,” jawab direktur dengan hati-hati. Dia ingat Dima tetapi tidak menaruh minat terhadapnya. Dahulu sekali, ketika direktur masih mempunyai semua gigi, kisah serupa terjadi padanya: mencita-citakan seorang perempuan dengan bergairah akan tetapi setelah menikah dengan perempuan itu, dia insaf bahwa berbuat demikian adalah tidak perlu.”Anda pernah berkata bahwa harimau adalah berharga,” Dima mengingatkan.
“Tentu berharga,” setuju direktur. “Oleh karena itu kami harus memeliharanya dengan baik. Tetapi kami tidak ada tempat. Anda tahu bahwa masalah perumahan umumnya sangat mendesak.” Direktur membisu dengan mengharapkan Dima akan minta diri dan pergi. “Sampai ketemu lagi,” kata Dima.
“Semoga sukses,” harapan direktur, “Anda tentu paham, binatang banyak tetapi kebun binatang hanya satu. Pergilah ke sirkus, mungkin di situ mereka ada kebutuhan.” Kamar penjinak ditempel bukan dengan kertas dinding tetapi dengan poster pertunjukan. Di atas meja ada potret besar yang dilukis dengan pensil, menggambarkan penjinak, yang dari tampangnya kelihatan seperti orang yang tidak ada tara ketampanannya. Tampannya itu dalam bentuk sentimeter.  Dia melukis mata separuh sentimeter lebih panjang dan hidung separuh sentimeter lebih pendek daripada yang sebenarnya. Jumlah total sentimeter diabadikan. Penjinak mendengar Dima dan bertanya dengan hati-hati, “Anda memperolok-olok aku?”. Dia tidak suka kalau orang memperolok-oloknya. Dima tidak menjawab. Dia duduk di kursi, kurus dan sedih seperti anak remaja lelaki yang sopan-santun dari keluarga yang baik. “Aneh,” penjimak heran, “Anda sendiri mencita-citakan… ” “Ya, tetapi… ” dan Dima merincikan semua ‘tetapi’ itu. “Aku, terus terang juga membeli daging dengan dua rubel,” kata penjinak. “Harimau anda dipelihara oleh negara,” Dima mencatat. “Itu lain hal.” Memang itu bukan hal yang sama. “Betul,” penjinak setuju, “harimau Anda tidak termasuk rencana. Untuk dia tidak ada anggaran.” “Bukankah anda berkata bahwa harimau berharga?” “Mungkin…” kata penjinak dan melihat ke jendela dengan kosong. Dia bosan dengan harimau, sama seperti Dima yang bosan dengan penyakit orang.

Pintu terbuka, dan seorang perempuan lanjut usia dengan misai masuk.
“Sapalah” penjinak memohon dengan berbisik cepat.
“Salam,” Dima patuh.
Perempuan itu tidak menjawab apa-apa, ke luar dari kamar dengan kepala diangkat sambil menghempaskan pintu.

Dima memandang kepada penjinak dengan tanda tanya.
“Kau lihat?” tanya penjinak agak muram.
“Ya, lihat,” Dima membenarkan.
“Dan selalu seperti itu…”

Dima berdiam dengan sopan, tidak tahu apa yang dimaksud penjinak itu dan pada hakikatnya tidak menarik untuknya. Pada sisi lain, penjinak tidak berminat atas harimau.

“Pergilah ke Teater Binatang Durov,” saran penjinak. “Mungkin mereka membutuhkan harimau.”

“Kami tidak membutuhkan,” kata gadis sekretaris. Dia menyalin sesuatu dari satu buku besar ke buku besar lain. Di wajahnya ada bekas tangisan, matanya tidak dicelak. Oleh karena bulu mata berwarna terang, mata kelihatan bogel.

“Penonton teater kami adalah anak-anak. Itu berbahaya,” sekretaris menjelaskan.  
“Bukankah harimau berharga?” Dima bertanya.
“Kami tidak bisa menyimpan binatang yang berharga.”
“Direktur di mana?” Dima bertanya.
“Dia tidak hadir.”
“Terus di mana dia?”
“Di mana, di mana… Tidak ada dan habis cerita. Untuk apa dia dibutuhkan?” 
“Bercakap.”
“Bercakap tentang apa? Aku sudah menjelaskan segalanya. Sekian.”

Jika orang berbicara kasar kepadanya, Dima juga menjadi tidak sopan.

“Tidak, bukan sekian,” katanya. 
“Anda aneh sekali, sumpah,” kata sekretarus itu. “Mula-mula anda butuh harimau, kemudian tidak. Anda tidak ada urusan lain? Alangkah baiknya kalau aku sibuk dengan perkara yang sekarang Anda tangani.”

Sekretaris menarik laci kecil dan mengambil buku tulis besar yang ketiga. Agaknya perkara Dima dianggapnya remeh dibandingkan dengan urusannya sendiri.

“Mengapa Anda masih di sini?” dia bertanya.
“Apa yang harus aku buat?” Dima mengeluh. “Jangan sampai aku sendiri yang meracuninya…”
“Mengapa sendiri? Bawalah ia ke klinik hewan. Ia akan ditidurkan selamanya dan habis cerita.”

 Apabila seorang merasa kurang enak dia akan lari ke tempat dia dikasihi, ke tempat dia dipercaya. Dima lari ke Lyalya.

Rambut Lyalya kali ini berwarna kuning dan terurai sebahu. Sekiranya Bridgit Bardot ditaruh di dekatnya maka tidak mungkin membedakan mereka: siapa Bridgit Bardot dan siapa Lyalya.

Hari itu hari musim bunga dan separuh jalan kering dan terang sedang paruh yang kedua lembap dan gelap. Dima berdiri di bagian yang disinari oleh matahari. Dengan bersandar pada pipa selokan dia memandang matahari yang panas dan merasa begitu letih, seakan-akan membawa tas-tas yang berat sepanjang kota. “Aku memahamimu,” kata Lyalya sedih dan membelai pipi kurus Dima dengan tangannya. Dia memahami dan mengasihaninya. Dia adalah perempuan sejati. “Carilah cita-cita lain.” “Akan tetapi itu pengkhianatan!” Dima berseru dan menyusun tiga jari seakan-akan mau berdoa. “Mengapa pengkhianatan?” Lyalya heran. “Cita-cita yang terkabul bukan cita-cita lagi.” “Sekiranya aku tidak memelihara harimau, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, aku akan kehilangan sebagian yang terbaik dari diriku.” “Dan sekiranya kau memelihara, ia akan membesar dan melahapmu. Dan kau akan hilang sepenuhnya.” Tangan Lyalya tampak sejuk dan keras bagi Dima. Dia melepaskan tangan itu dari pipinya, mengangkat bahu, menyapu pipinya dengan bahu. Klinik hewan sama sekali tidak berbeda dari klinik manusia, dan Dima menjadi merasa biasa. Dia menanggalkan mantel di tempat titipan pakaian, kemudian mendekati loket dengan tulisan ‘Informasi’ di atasnya. “Kamu pertama kali?” dia ditanya. “Ya, pertama kali,” kata Dima. “Dan yang terakhir kali.” “Itu tidak menarik bagi kami,” kata petugas dengan tegas. “Pergilah ke bagian pendaftaran untuk mengambil kartu.” Dima bergerak dua langkah ke kanan dan memasukkan kepalanya ke loket kedua. “Nama…”-seorang petugas bertanya. Di sini semua bercakap pendek dan ringkas. Hanya yang utama saja. “Nama siapa?” Dima tidak mengerti. “Anda tidak mengerti nama siapa? Tentu bukan nama anda…”,Dima bingung. “Harimau,” katanya. “Kucing jantan?” “Harimau,” ulang Dima. “Aku bertanya: kucing jantan atau kucing betina?” “Dari keluarga kucing,” Dima menjawab samar-samar. Petugas mengangkat matanya. Dima membisu. Petugas mengangkat bahu dan mencatat sesuatu di kartu. “Nama keluarga?” “Nama keluarga siapa?” “Tentu bukan kucing. Nama keluarga anda.” “Korostishevsky.” “Harimau Korostishevsky,” gumam petugas dan mengulurkan kartu kepada Dima. Di koridor ada beberapa ruang dan ada orang yang duduk menunggu di bangku. Dima juga duduk di bangku yang dicat dengan cat minyak berwarna kuning dan mulai menunggu gilirannya. Di depannya, duduk perempuan gemuk dengan tas rumah tangga di lututnya. Dari tas itu tampak moncong anjing: putih dan masai yang kusut seperti bunga krisan. “Nyonya mau menidurkannya?” Dima bertanya dengan hati-hati. “Astaga!” perempuan itu terkejut melihat Dima dan bergeser. “Ia mengalami keletihan saraf, kami datang untuk suntikan B-prim.” Antrian berjalan lama dan Dima memandang ujung sepatunya dan bercita-cita supaya hari itu cepat berlalu dan besok akhirnya tiba. Dokter hewan mendengar kisah Dima dengan penuh perhatian dan selama mendengar, dia -entah mengapa- tidak memandang Dima tetapi melukis angka-angka delapan di formulir resep. “Kami tidak bisa memikul tanggung-jawab seperti itu,” kata dokter. “Dan itu bukan kucing melainkan harimau. Sangat berharga.” “Ambil gratis,” mohon Dima, “aku setuju gratis.” “Kami tidak butuh,” dokter berhenti melukis angka-angka delapan dan mengangkat matanya ke Dima, “Kami tidak butuhkan…” Maka Dima pulang ke rumah dan ternyata harimau tidak ada.”Kami tidak tahu,” orang tuanya berkata.”Kami tidak tahu,” para tetangga berkata. Maka Dima mencari di semua kamar, termasuk di kamar mandi dan kamar kecil, tetapi harimau tidak ada. “Mungkin melarikan diri,” para tetangga berkata, “ke hutan belantara Ussuriysk.” “Binatang liar, tidak tahu berhutang budi,” orang tuanya berkata. Dima sudah lama tidak tertidur dan jika berbaring maka dia tidak bisa tertidur. Dia senantiasa menunggu kalau-kalau bel pintu berbunyi dan ketika membuka pintu maka akan melihat anak harimau yang diulurkan oleh seseorang. Dima berbaring dan di kepalanya terdengar lirik sebuah lagu. Lama dia tidak bisa melepaskan diri dari lagu itu dan juga dari ketegangan. Akan tetapi tak seorang pun datang dan tidak ada yang mengulurkan anak harimau. Mungkin harimau itu memang melarikan diri ke hutan belantara Ussuriysk. Satu minggu berlalu. Dima terus bekerja di ambulans dan sudah bisa melihat lebih banyak makna dalam pekerjaannya. Dan kekasihnya Lyalya ke luar dari salon rambut seperti biasa dan berbicara dengannya meskipun perangai Dima anah namun bertujuan serius. Bahkan orang tuanya setuju bahwa lebih baik menjadi orang lembut seperti Dima daripada menjadi orang licik seperti Zamsky. Para tetangga pun menjadi lebih baik. Orang umumnya tidak suka jika ada seseorang yang hidup dengan cara yang tidak biasa. Segala-galanya berlalu dengan baik, lebih baik ddibanding dahulu. Berat badan Dima bertambah, dan dia menjadi lebih segar dan mulai melupakan masa ketika di kamarnya ada harimau. Akan tetapi apabila dia pulang sesudah tugas malam dan berangkat tidur, dia bermimpi anak harimau, yang berkepala besar dengan mata hijau seperti garis menegak. Di sekitar kulit hidung yang hitam ada lingkaran-lingkaran hitam dan telinga terpancak di kepala seperti dua tiga segi yang sama.Dima bangkit dari tidur. Kepalanya berat, dan ada perasaan seakan-akan dia makan kapas. Di luar gelap dan dia tidak paham apakah saat itu pagi atau sore. Belakangan, karena tanda-tanda tertentu, dia menduga waktu itu senja dan dia kenakan pakaian untuk jalan ke luar. Dima singgah ke warung makan pangsit dan tiba-tiba minum sendirian sehingga mabuk.Kalau dia dalam semangat yang baik maka sesudah minum semangatnya akan menjadi lebih baik lagi. Sebaliknya kalau semangatnya sedang buruk maka dia akan merasa lebih buruk lagi. Kini dia merasa lebih buruk. Dan dia mengerti bahwa sebelumnya dia cuma merasa buruk.Dima dengan muram memandang pada meja pualam dan mendengar dua kenalan lamanya, yakni Okhrimenko dan yang satu lagi yang bertopi leper. Dan Dima mendapat kesan seolah-olah kedua orang itu sama sekali tidak keluar dari warung sejak bertemu dua bulan lalu. “Bagainana, Filippov sudah kirim surat kepadamu?” Dima menanyai Okhrimenko.”Belum, belum kirim. Dan kamu, sudah dapat harimau?” tanya Okhrimenko.Dima memandangnya dan tiba-tiba termenung: dia akan menjadi orang yang kurang menarik, tanpa cita-cita apa pun.” Aku lahir bukan pada masa yang baik,” kata Dima dan menyusun jari seakan-akan mau berdoa. “Aku adalah orang yang tidak dibutuhkan. Individu tragis. Engels pernah berkata: Apa itu tragedi? Pertentangan antara keinginan dengan ketidakmungkinan…”Okhrimento yang mau menjadi terkenal itu mengasihani Dima tetapi dia tidak berkata apa-apa.Dia sendiri sedang berada dalam keadaan yang sama.

TAGS :

pencerita

Leave A Comment