Pagebluk

Edhie Prayitno Ige

Brongkos melipat lengan bajunya. Ia masih masygul memandang Kikil, anak tunggalnya yang sakit. Sudah tiga bulan ini kampung Brongkos dilanda pagebluk. Orang-orang memilih mengurung diri dan mengenakan penutup mulut agar tak ketularan.

“Tak ada yang bisa dilakukan. Kita harus ke dokter,” kata Santen, istri Brongkos.

“Berdoa bu. Berdoa,” kata Brongkos.

“Sampai kapan aku harus berdoa? Jangan-jangan doa itu adalah gambaran dari rasa takut. Kalau kita tidak takut, doa itu tidak kita perlukan lagi,” kata Santen.

Mereka terdiam. Kikil mengerang, nafasnya satu-satu dan kelihatan sesak. Sementara pertengkaran Brongkos dan Santen terhenti. Keduanya mengelus kepala Kikil.

“Semua doa yang kau ajarkan sudah aku praktekkan. Tapi tak ada perubahan. Aku ragu, jangan-jangan doamu itu adalah doa mulut. Mulutmu berdoa tapi laku hidupmu tidak,” kata Santen pelan.

Brongkos diam. Ia tak mau lagi cekcok dengan istrinya di hadapan anaknya yang sedang sekarat. Ia meyakini bahwa doa dan bacaan sunnah maupun wajib merupakan salah satu pintu kesembuhan.

Brongkos menolak bahwa sakitnya Kikil karena ulahnya. Ia membeberkan betapa keluarga Sarjo, keluarga Ngatman dan masih banyak lagi keluarga di kampung mereka juga mengalami hal yang sama. Anak-anak mereka terserang penyakit dan sesak nafas.

Bahkan anaknya Solekan malah sudah mati duluan. Brongkos tak mau dipersalahkan karena hidupnya yang terlalu santai.

“Ini pagebluk. Pagebluk itu tak peduli kaya miskin, ganteng atau jelek, semua bisa kena,” kata Brongkos.

“Iya, tapi apakah pagebluk ini akan membuat semua nasib menjadi seragam? Tidak bukan? Kamu mestinya bisa menghitung apakah doa-doamu itu berguna bagi keselamatan dan kesembuhan anakmu,” Santen membantah.

“Iya. Nasib memang tak harus seragam. Dan ketika aku lebih banyak berdoa, kondisi Kikil makin payah, aku jadi bingung,” kata Brongkos lirih.

“Ayolah kita ke dokter. Segera. Lepaskan dulu semua doamu. Doa bagi yang sakit adalah dokter dan rumah sakit,” kata Santen.

Tak menunggu jawaban, Santen langsung menggendong Kikil. Ia keluar rumah dan Brongkos hanya bisa mengikuti di belakangnya. Yang ada di benak Brongkos adalah biaya yang harus ia keluarkan, bukan kesembuhan anaknya.

Dengan langkah mantap Santen menuju ke tempat praktek dokter. Dari kejauhan ia melihat plang papan namanya dan merasa lebih tenang.

“Itu tempat dokter sudah kelihatan. Jarak kita dengan kesembuhan anak kita tinggal sejengkal. Ayo pak,” kata Santen.

Kurang sepuluh meter, langkah Brongkos terhenti. Matanya memandang nanar papan nama dokter itu. Tak main-main di depan namanya ada tulisan berderet. Prof dr Bawono SpPD, K-EMD, FINASIM. Brongkos membayangkan betapa lama dan mahalnya bersekolah untuk mendapatkan deretan gelar di depan dan belakang namanya.

“Ayolah. Ini kita sudah sampai. Bahkan ruang prakteknya sudah terlihat,” kata Santen.

“Iya. Bukan hanya ruang praktek, ongkosnya juga sudah kelihatan,” kata Brongkos.

“Ya Allah, dalam kondisi seperti ini kamu masih juga mikir soal ongkos?” Santen menahan kemarahannya.

“Karena tanpa ongkos, Kikil tak mungkin sembuh. Ini sebuah langkah nekat,” kata Brongkos.

“Lebih nekat mana dengan orang tua yang takut mencari obat bagi anaknya,” sergah Santen.

Mereka kembali berdebat. Sungguh kemiskinan telah membuat mereka menjadi makhluk yang sangat reaktif.

Di kampungnya Brongkos dan Santen tak sendiri. Ada puluhan atau bahkan ratusan keluarga yang memang harus berjuang setiap hari untuk tetap hidup. Jangankan menabung, untuk berobat saat sakit atau untuk makan saja mereka sangat sulit.

Keduanya nekat ke rumah doker Bawono juga tak membawa apapun. Hanya pakaian yang menempel saja. Bahkan perut mereka juga kosong.

“Kita sudah sampai sini. Akankah kita biarkan anak kita mati?” Santen berteriak histeris.

“Kita tetap akan berjuang untuk kesembuhan Kikil, tapi tentu secara biasa saja sesuai kemampuan kita. Tidak dengan bertindak nekat di luar batas,” kata Brongkos.

“Kemampuan kita akan membuat anak kita mati. Ini situasi luar biasa dan butuh sikap luar biasa pula,” kata Santen.

“Tapi kita bergerak luar biasa dan diatas normal akan membuat semua mati. Bukan hanya Kikil, namun juga kamu dan aku,” kata Brongkos.

“Ih, penakut. Ternyata aku bersuamikan seorang pengecut,” kata Santen.

“Betapa istriku adalah sosok yang ambisius. Aku tetap tak mau anakku dibiayai dengan ketidakwajaran. Hidupnya digadaikan dengan jaminan yang kita tak bakal mampu menebusnya,” kata Brongkos.

Demikianlah Brongkos dan istrinya terus berdebat. Sampai mereka tanpa sadar nekat masuk ke ruang dokter. Banyak antrean untuk diobati tangan dingin sang dokter. Nyaris semua sakitnya seperti Kikil. Petugas administrasi dan petugas yang menyiapkan obat sangat sibuk. Tangan mereka sangat mekanis. Sudah hapal apa saja yang mesti disiapkan.

Spidol hitam mencoret-coret nama pasien di plastik pembungkusnya. Satu petugas lain memanggil pasien satu persatu. Tak ada antrean, semua seperti berebut mendapat layanan dokter Bawono lebih dulu.

Di dalam ruang periksa, Brongkos dan istrinya tenang mendengarkan ceramah dokter Bawono. Kikil sudah sejak tadi berbaring dengan nafas sesak dan pendek-pendek di kasur periksa.

“Jadi begini pak Brongkos. Saat ini kita sedang menghadapi pagebluk. Jumlah dokter sangat sedikit. Apalagi dokter yang mumpuni. Pagebluk ini sangat aneh. Berjangkit cepat dan parah. Mulai flu, pilek influenza, SARS, Chikungunya sampai Demam Berdarah Dengue,” dokter Bawono mulai menjelaskan.

Pagebluk itu sangat mengancam kelangsungan sejarah hidup manusia. Dokter Bawono kemudian menjelaskan bahwa sebagai dokter dan atas panggilan kemanusiaan ia merasa harus bisa momong masyarakat.

Brongkos dan Santen saling memandang.

“Luar biasa pak dokter,” kata Brongkos pura-pura mengapresiasi demi kesopanan.

“Iya. Saya memang luar biasa. Tapi ini sikap saya secara pribadi. Bukan secara profesional dokter. Bukan pula standar dan pedoman perilaku dokter. Paham?” kata dokter Bawono.

Brongkos diam. Ia tak ingin memperpanjang. Ia mencoba menyelami isi kepala dokter Bawono dan menyinkronkan dengan hati dan pembawaan dokter hebat itu.

Sementara itu Santen dan Brongkos justru melirik ke pasien-pasien yang antre. Mereka seperti tidak terurus. Saling berebut, bahkan obat pun mereka berebut. Bukan lagi tempat duduk, karena tempat duduk sudah disingkirkan. Agar tak meninggalkan virus dan menular keluarga dokter.

Pemandangan itu sebenarnya sangat jarang ditemui di tempat praktek dokter, rumah sakit, bahkan puskesmas sekalipun. Ada pagebluk atau tidak semua akan tampak manusiawi.

“Jadi pada muaranya, tak ada dokter atau rumah sakit yang benar-benar manusiawi. Tahukah kalian mengapa sekarang harus pakai masker? Ya karena masker itu topeng. Dan rumah sakit harusnya memang bersikap mengenakan topeng,” kata dokter Bawono.

Dengan gagap isi kepala Brongkos mencerna kalimat itu. Santen sudah sejak tadi diam. Ia hanya sesekali melirik Kikil yang sejak datang belum disentuh atau diperiksa dokter Bawono.

Menurut dokter Bawono, rumah sakit yang sejati adalah sebuah tempat yang mengenakan topeng kenyamanan. Dari situ bisa mengeruk keuntungan dari pasien.

“Baik dokter. Tapi begitu kami sampai disini, kami sangat bergembira dan yakin dokter akan menolong penderitaan anak kami,” kata Santen.

“Itu sudah pasti bu. Dokter itu sudah disumpah untuk menolong sesama. Tapi ibu juga harus mulai membuka mata dan meyakini bahwa di dunia ini juga ada sumpah palsu,” kata dokter Bawono.

“Maksudnya?”

“Mari kita berpikir realistis. Seorang dokter pasti akan pusing dan bingung sendiri kalau sumpah itu dijalankan secara kaku. Seperti fakta antrean itu. Jumlah pasien dan dokter kan tidak seimbang. Dalam keadaan begini, dokterlah yang diobati pasien,” kata dokter Bawono.

Mereka lalu berdiskusi panjang tentangb relasi dokter dan pasien. Dijelaskan pula bahwa dokter tak akan bisa menyembuhkan pasien, namun pasienlah yang menyembuhkan para dokter.

“Lebih jelasnya dokter ingin apa? Kenapa kikil tak juga diperiksa dan juga pasien-pasien lain diluar itu?” Santen tak sabar.

“Jika saya harus taat prosedur dan memulainya dari pasien paling ujung. Kalau itu saya lakukan, maka anak ibu sudah harus kehilangan nyawa begitu tiba gilirannya saya obati,” kata dokter Bawono tersenyum.

“Ah. Kenapa dokter mau saja kami tak sesuai antrean?” Brongkos mulai menduga-duga.

“Karena sampeyan gila tak mau antre. Jadi saya harus mengimbangi dengan kegilaan pula,” kata dokter.

“Tapi karena kami tadi panik. Dokter kan tidak panik. Dokterlah yang harus mengajari kami berdisiplin,” kata Brongkos.

“Begini. Sebagai dokter, saya juga memiliki hak untuk rekreasi. Saya sekolah tinggi juga mengeluarkan biaya mahal. Dan hal-hal semacam inilah rekreasi saya,” kata dokter Bawono.

“Rekreasi macam apa itu?” brongkos bersungut. Ia berdiri dan tangannya mengepal.

“Begini saja. Saya sudah kehabisan waktu untuk menjelaskan. Waktu adalah uang. Sampeyan juga tak bakalan bisa membayar waktu saya yang hilang. Lebih gampangnya, sekarang pilih. Bayar sesuai tarif atau nyawa anak sampeyan akan hilang,” kata dokter Bawono tetap sambil tersenyum.

Rupanya Brongkos dan Santen benar-benar sudah menyerah. Karena tak membawa apapun, mereka akhirnya pulang dan meninggalkan semua yang melekat di badan sebagai jaminan. Tiga puluh menit lagi ia harus datang dan juga menyerahkan semua yang ia miliki.

Kikil tetap saja bernafas pendek-pendek. Ketika digendong suami isteri yang bertelanjang bulat karena pakaiannya sebagai jaminan pembayaran itu, maka Kikil akhirnya mati di tengah jalan.

Keesokan harinya sebuah portal berita nasional memberitakan kematian Kikil dan kedua orangtuanya. Kecil saja dan sangat tidak menarik perhatian.

“TAK MAU BEROBAT, KELUARGA GILA INI PILIH BUNUH DIRI,” demikian judul berita itu.

Sampai berita itu ditulis, semua masih takut akan menjadi korban pagebluk berikutnya. Sementara pemerintah setempat sudah menyiapkan aturan bahwa semua yang sakit akan dibiayai oleh negara. Itulah sebabnya negara kemudian menyiapkan aturan pungutan retribusi berbagai bidang.

Anggaran penanganan pagebluk ini tak boleh diperiksa karena akan melukai rasa kemanusiaan. Paraktek dokter seperti dokter Bawono akhirnya ditutup, dan digantikan dengan keharusan membawa ke rumah sakit.

Dengan dibawa ke rumah sakit, apa yang dilakukan doketr Bawono menjadi standar resmi. Bedanya jika dahulu yang menjadi korban adalah para pasien, sekarang korbannya para pasien dan juga masyarakat yang sehat melalui berbagai pungutan.

Untuk mengamankan situasi, sejumlah begundal dikeluarkan dari penjara. Dan ketika penjara kosong, maka akan digantikan para penghuni baru yang tak mampu membayar berbagai retribusi itu.
***
Tanjungsari 2020

*. Pagebluk = wabah

Edhie Prayitno Ige, pegiat seni dan wartawan yang kerap menulis, antara lain yang sudah dibukukan adalah ‘Sang Koruptor’ dan ‘Peradaban Salah Urus’. Sehari-harinya mengelola Sanggar Batik Semarang 16: galeri, hotel, dan juga tempat belajar  membatik (https://batiksemarang16.com/)

TAGS :

LondonEditor

Leave A Comment