Preman Corona

Melly Waty

Desa Sindang lagi dihebohkan dengan huru hara hilangnya masker bantuan dari pemerintah daerah. Masker yang seharusnya dibagikan ke warga tiba-tiba raib. Masalahnya masker itu disimpan di gudang kelurahan. Secara musim pandemi corona begini harga barang tersebut jadi melonjak. Tidak main-main, harganya bisa tiga kali lipat dari harga normal.

Pak Lurah kayak kebakaran jenggot. Dari pagi dia sidak seluruh pegawai kelurahan. Satu-satu diinterogasi. Hasilnya nihil. Semua memang pada menggeleng tidak tahu. Lalu siapa yang mau dicurigai sebagai pencurinya?

“Haniiip!” teriak pak Lurah.

Hansip gagap itu masuk dengan tergopoh-gopoh.

“Si si siap, pak Lurah!” jawabnya sambil memberi hormat.

“Kamu tau nggak di mana Mat Jony berada?”

“Em em emang kenapa, pak Lurah koq tum tum tumben nanya Mat Jony?” Hanip balik nanya sambil melepas maskernya.

“Lah kenapa maskernya kamu lepas?” tanya pak Lurah, bingung.

“Sa saya nggak bisa napas Pak klo ngomong pake masker,” jelas Hanip.

“Saya curiga, hilangnya masker ada hubungannya dengan dia,” jawab pak Lurah.

“Tap tapi kan Mat Jony baru ke luar dari penjara, masa dia mau masuk lagi?”

“Ya mungkin saja, karena dia nggak ada kerjaan,” jelas pak Lurah.

Hanip bengong sejenak. Perasaan Mat Jony lagi pergi ke kampung sebelah deh tiga hari yang lalu, pikirnya.

“Eh kenapa kamu jadi bengong?!” pak Lurah membentak Hanip

“Hehe he… Ma ma maaf pak Lurah,” jawabnya sambil cengengesan. “Tap tapi setahu saya, Mat Jony lagi pergi ke kampung sebelah pak, ss sudah tiga hari yang lalu,” jelas Hanip.

“Bisa saja dia suruh anak buahnya.” Pak Lurah seperti sedang memikirkan alibi Mat Jony.

“Nggak mungkin, Pak. Jabrik dan Kepeng pas hilangnya masker lagi sama saya nongkrong di warung,” jelas Hanip lagi.

“Waduuuh! Kalau begini makin pusing saya.” Pak Lurah memegang keningnya. “Kapan Mat Jony balik ke sini? Atau kamu cari tau di mana dia dan suruh menghadap saya secepatnya!”

“Siap, Pak!”

Pak Lurah tidak mau tahu ke mana Hanip harus cari Mat Jony. Yang dia mau Mat Jony menghadap dan membantunya untuk memecahkan masalah ini. Pasti Mat Jony bisa menganalisa. Secara, dia kan preman yang sudah punya pengalaman keluar masuk bui, pikir pak Lurah.

Hanip biar gagap tapi kerjanya rapi. Dia bilang sama anak buah Mat Jony kalau pak Lurah mengamanatkan Jabrik dan Kepeng untuk panggil Mat Jony pulang secepatnya. Segeralah dua orang itu menyusul Mat Jony ke desa sebelah. Alhasil, Mat Jony pulang dan menghadap pak Lurah.

“Ada apa pak Lurah panggil saya? Tumben banget, Pak. Ada job ya?” tanya Mat Jony.

“Emangnya kamu belum dengar apa kalau desa kita kemasukan pencuri dari luar?”

Mat Jony terkejut, secara dialah preman yang paling disegani di kampung itu. Kalau ada pencuri masuk berarti orang itu tidak menghargai dia.

Braakk!!

Mat Jony menggebrak meja. Pak Lurah sampai mendelik karena kaget.

“Siapa pencuri yang berani masuk ke kampung kita, Pak?” tanya Mat Jony, geram.

“Kalau saya tau ngapain juga pake manggil kamu. Saya mau tanya, gimana caranya supaya kita bisa menjebak pencuri itu?” ujar pak Lurah.

Mat Jony kelihatan mikir keras. Kepalanya menunduk sambil tangan kanannya memegang kening.

“Saya tau bagaimana caranya, Pak!” kata Mat Jony.

“Pakai cara apa?”

Mat Jony membisikan sesuatu ke telinganya pak Lurah. Hanip dan dua orang anak buah Mat Jony bengong, karena baru kali ini sejarah mencatat pejabat desa akur sama preman. Pak Lurah menjanjikan Mat Jony akan diberi uang untuk modal usaha kalau saja pencurinya tertangkap. Anak buah Mat Jony senang sekali karena mereka akan pensiun jadi preman.

Besoknya pak Lurah mengumpulkan warga kampung di halaman kantor kelurahan. Di samping pak Lurah, berdiri Mat Jony bagai bodyguard. Lalu pak Lurah menyuruh Mat Jony untuk bicara. Warga kampung semuanya pakai masker.

“Sodara-sodara sekalian, saya mewakili pak Lurah akan membuka sayembara untuk mencari pencuri masker yang kemarin raib,” suara Mat Jony terdengar lantang.

Warga kampung Sindang saling menatap penuh curiga. Bisa jadi pencuri yang sebenarnya adalah tetangganya sendiri.

“Sodara-sodara semua, saya akan bagikan satu-satu masker ini, tolong ganti masker yang kalian pake dengan yang baru ini dan besok kembalikan ke sini. Kalau besok masker ini tidak berubah baunya, maka itulah pencurinya karena masker ini tidak di pake sepanjang hari. Paham semua?”

“Pahaaaaam!” teriak warga.

Mulailah Hanip dan anak buah Mat Jony membagikan masker. Satu-satu mereka maju lalu melepas masker yang mereka pakai dan diganti yang baru. Setelah itu warga pulang ke rumah masing-masing. Si pencuri masker yakin sekali kalau ulahnya tidak bakal ketahuan.

Sampai di rumah, si pencuri buru-buru ganti masker dengan masker yang lain. Ia langsung merendam masker itu dengan detergen. Pasti saja baunya berubah karena sudah kucuci, pikir pencuri.

Pencuri itu baru bisa tidur tenang setelah mencuci maskernya. Iya yakin bakal bisa mengelabui Mat Jony dan orang-orang kalau dia yang mencuri masker milik kelurahan.

Esoknya, warga berkumpul lagi di halaman kantor kelurahan dengan jaga jarak. Semua masih memakai masker dari kelurahan. Satu per satu mereka maju dan memberikan masker yang dipakai pada anak buah Mat Jony.

Tiba giliran si pencuri maju dan memberikan masker pada Hanip. Lalu Hanip memberikan pada Mat Jony. Preman yang satu ini cepat menebak kalau yang maju tadi adalah pencurinya. Maskernya wangi deterJen, itu bukti kalau ia mencuci masker dari kelurahan, sedang masker yang lain masih dengan bau yang sama sewaktu dibagikan.

Mat Jony berbisik pada pak Lurah, memberitahu bahwa pencurinya ada di sekitar sini. Pak Lurah kelihatan senyum-senyum. Lantas maju dan berdiri di samping Mat Jony.

“Sodara-sodara sekalian, setelah masker dikembalikan dan diperiksa, maka saya sudah bisa mengetahui siapa pencuri masker yang tersimpan di kelurahan.”

Semua warga saling menatap penuh curiga. Bukan tidak mungkin yang tidak bersalah malah jadi tertuduh dan pencurinya bebas. Dada mereka bergemuruh hebat. Tatapan mereka bagai tertuduh semuanya.

“Nah, semua warga silakan pulang,” ujar pak Lurah. Warga saling bersorak, pertanda di antara mereka bukanlah pencurinya. Satu-satu pada bubar. “Hey, yang pakai topi hitam, kamu jangan pulang dulu!” teriak pak Lurah.

Spontan seluruh warga menoleh pada orang yang bertopi hitam. Orang yang diteriaki berdiri mematung. Lalu perlahan berbalik menghadap ke arah pak Lurah.

“Kamu maju, sini!” perintah pak Lurah. Orang itu masih mematung di tempatnya berdiri. “Hey, jangan pura-pura bingung atau mau saya teriaki maling biar warga pukuli kamu?” lanjut pak Lurah.

Orang itu langsung berlari mendekati pak Lurah dan Mat Jony. Di hadapan mereka, dia menunduk ketakutan.

Mat Jony maju menghampirinya. “Kamu itu disuruh siapa sampe berani mencuri di kampung ini, hah?” tanya Mat Jony sambil menjewer telinga orang itu.

“Aduuuh… Ampun bang, saya nggak mencuri kok,” elaknya.

“Masih nggak mau ngaku kalo kamu yang mencuri?” Mat Jony makin melintir telinga pencuri itu.

“Adduuuuuh…ampun bang. Iya iya saya ngaku. Saya yang mencuri, habis saya nggak punya uang buat kasih makan anak istri, mana di rumah ibu saya lagi sakit. Apalagi musim corona gini, saya nggak bisa dagang cilok keliling,” jelasnya.

Warga jadi terharu mendengarnya. Pak Lurah menunduk sedih. Mat Jony yang preman juga ikutan terharu. Di suruhnya Hanip menyelidiki kebenaran cerita pencuri itu.

Hanip tergopoh-gopoh ke desa sebelah untuk mencari tahu, sedang si pencuri masih diinterogasi pak Lurah dan Mat Jony di kantor kelurahan. Alhasil, Hanip pulang dengan membawa berita yang menyedihkan. Ternyata cerita si pencuri itu benar. Anak dan istrinya lagi kelaparan di rumah, ibunya pun sedang sakit. Dan masker hasil curian masih utuh di rumah itu.

Pak Lurah makin iba tapi yang namanya mencuri tetap tidak dibenarkan. Akhirnya dengan perjanjian tidak akan mengulangi perbuatannya, pencuri itu dibebaskan. Mat Jony menerima hadiah berupa uang untuk modal usaha.

Namun Mat Jony membagi uang itu untuk si pencuri sebagai modal dagang. Sungguh luar biasa hati Mat Jony, biarpun preman tapi rasa kemanusiaannya masih tinggi.
***

Meliwati, penulis novel  dan cerpen, juga Founder Komunitas Perempuan Penulis Indonesia (P2I). Memiliki 145 buku antologi bersama penulis lain sebanyak dan lima novel solo serta empat novel kolaborasi. Aktif di berbagai komunitas menulis dan editor freelance di beberapa penerbitan.

TAGS :

LondonEditor

Leave A Comment