Kebangkitan Olahraga Afghanistan

Charles Clover

Sambil menggigit cambuk kuda dengan giginya, Aziz Ahmad menyelipkan obloing hitam ‘Chanel Paris’ ke dalam celana wolnya, dan merenungkan pertanyaan : bagaimana caranya menjadi Maradona dalam buzkashi Afghanistan?

“Saya suka olahraga ini. Setiap main saya selalu memainkan yang terbaik,” katanya. Waktu itu setengah main dan timnya sedang kalah. Ada Saran? “Kami perlu main lebih bagus,” kata Ahmad sambil memegang tali kekang kudanya. Apakah kudamu punya nama? “Turuk,” katanya. Apa artinya Turuk? “Semua kuda buzkashi namanya Turuk,” katanya. “Itu artinya kuda buzkashi.”

Ahmad bukan seorang penyair, namun tidak diragukan lagi dialah pemain buzkashi ternaik yang masih hidup dari olahraga tradisional buzkashi. Olahraga yang hanya ditemukan di Afhganistan ini merupakan kombinasi antara polo dan rugby, yang dimainkan dengan domba atau kambing tanpa kepala, yang kalau diurut ke belakang sampai pada jaman Alexander Agung dulu.

Olahraga ini menikmati kebangkitannya kembali sejak Aliansi Utara merebut Kabul dari Taliban November lalu. Perayaan hari raya Nowbuz di Kabul baru-baru ini, yang merupakan Tahun Baru di Afghanistan, menghadirkan buzkashi yang paling meriah sejak Taliban berkuasa enam tahun lalu. Taliban melarang olahraga ini di wilayah-wilayah yang mereka kuasai, namun tetap dimainkan oleh orang Tajikistan dan Uzbekistan yang mendominasi Aliansi Utara.

Melarang buzkashi, menurut seorang pemain Mohammed Dod, merupakan kekejaman paling buruk yang dilakukan oleh rajim Taliban. “Taliban sangat tidak populer di kalangan rakyat karena mereka tidak membolehkan kami main buzkashi,” katanya.

Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa sebenarnya Ahmad amat jago. Dia mulai main ketika berumur 17 tahun di kampung halamannya Propinsi Kunduz di kawasan Utara. Apa rahasianya? “Latihan. Aku latihan lengan,” katanya.

Dia bertemu salah satu dari dua istrinya dalam pertandingan. Persisnya, dia mendapat istrinya itu dan tiga mobil sebagai hadiah dalam satu kejuaraahn.

“Dia suka sekali olahraga ini,” katanya sambil tersenyum untuk pertama kalinya. “Tentu saja dia tidak bisa datang kemarin dan menonton, tapi dia suka menonton video buzkashi di televisi.”

Dod mungkin tidak sejago Ahmad, namun dia mengakui kejagoan Ahmad. “Dia itu Maradona, dia yang paling jago,” katanya merujuk pada pahlawan sepakbola Argentina. “Aziz Ahmad amat kuat dan anggun. Dia membawa kambing seberat 80 kg seperti membawa sehelai sutra.”

Ahmad naik ke kudanya untuk paruh kedua, memakai topi berbulu yang agak berkerucut dan melesat pergi.

Dalam buzkashi, tim penunggang kuda berlomba merebut bus, atau binatang yang tidak punya kepala lagi, dari lawan yang cuma bisa dideskripsikan seperti rebutan dalam rugby tapi sambil menunggang kuda. Jika seorang pemain berhasil merebut bus, maka dia memacu kudanya berkeliling bayrak atau bendera di ujung lapangan dan menaruh binatang tanpa kepala itu di lingkaran kapur yang disebut daira hallal.

Para pemain sering sekali terluka, jatuh terinjak-injak kuda, ketika sedang berupaya mengangkat binatang tanpa kepala dari tanah. Cambuk melecut kuda memekik, dan sumpah serapah pemain bersatu sementara pembawa acara mengumumkan hadiah bagi skor berikutnya. “Komandan Rashid akan menghadiahkan 20 Lakhs (atau sekitar US$ 40) bagi pemain berikut yang bisa menempatkan bus di daira hallal.

Satu tim terorganisir di sekeliling kandang kuda. Para pemilik kuda menyumbangkan kudanya untuk pemain, dan kadang membayar pemain tertentu untuk menunggang kudanya. “Aziz Ahmad menunggang kuda mili Komandan Nasir,” teriak pembaa acara ketika Ahmad melesat dengan kudanya.

Ahmad main untuk tim Panshit, yang merupakan tim milik Menteri Pertahanan Mohammed Qasim Fahim. Jenderal Fahim biasanya duduk di kuris berlapis beledru merah di tribun VIP Gelanggang buzkashi Kabul sambil makan kismis dan menyaksikan para pemainnya bak Kaisar Romawi di Koloseum.

“Fahim punya kuda dan pemain yang bagus. Dia selalu menang,” kata Amin, mantan Komandan Taliban yang membelot ke Aliansi Utara. “Itulah sebabnya dia amat populer.” Amon mengatakan kuda-kuda Fahim mendapat latihan khusus. “Mereka harus melompat tanpa rasa takut.”

Suatu kali, katanya, dia menyaksikan lomba kuda halang rintang di televisi dan melihat kuda berhenti di depan palang penghalang. “Kuda-kuda asing itu tak bisa main buzkashi,” katanya.

Hhari itu bukan hari baik Ahmad karena dia tidak menghasilkan skor. Halil dari tim lawan yang mendapatkan hadiah uang US$ 400. Ketika ditanya mana yang lebih penting ; uang atau olahraga, Ahmad dengan cepat menjawab uang. “Tapi aku suka olahraga ini. Aku ingin olahraga ini dimainkan di seluruh dunia.
***
Diterjemahkan dari Financial Times, Tuesday 26 March 2002