Sejumlah Pertanyaan Yang Tak Terjawab

John Carlin

Nasib United Airlines nomor penerbangan 93, yang merupakan pesawat bajakan keempat atau yang terakhir jatuh di Amerika Serikat tanggal 11 September, tidak mengandung misteri bari Lee Purbaugh. Dia melihat apa yang terjadi dengan matanya sendiri. Dia adalah satu-satunya orang yang berada di tempat itu, pada pukul 10.06, ketika pesawat menghantam tanah.

“Terdengar suara yang amat gemuruh dan di sana, persis di sana, di atas kepalaku, mungkin sekitar 50 kaki,” kata Pubaugh, yang bekerja di tempat pembuangan rongsokan dengan pemandangan lokasi kecelakaan, “Hanya berlangsung beberapa detik saja tapi pesawat terlihat dalam gerakan lamban, sepertinya akan berlangsung selamanya. Saya melihat pesawat berguncang dari satu sisi ke sisi lain, dan tiba-tiba menukik dengan hidung lebih dulu ke tanah bersama ledakan besar. Saya langsung yakin tidak akan ada yang mungkin selamat.”

Bertebaran di sana sini ada jari tangan, jari kaki, gigi, semua sisa tubuh dari 44 nyawa di dalam pesawat yang bercampur dengan tanah maupun tergantung di ranting-ranting pohon ; potongan daging dan tulang. Pesawat juga hancur lebur menjadi puing-puing logam. Wally Miler, koroner setempat di daerah yang sebelumnya terlupakan di sudut Pennsylvania, merupakan orang yang bertanggung-jawab dalam pengumpulan sisa tubuh manusia dan penyebab kematian. “Saya yang mengeluarkan sertifikat kematian,” kata Miller yang juga pengurus pemakaman setempat. “Saya buat ‘pembunuhan’ untuk 40 penumpang dan awak pesawat, serta ‘bunuh diri’ untuk keempat teroris.”

Namun Miller, yang bekerja erat dengan FBI selama 13 hari dalam penyelidikan di lokasi kecelakaan, mengakui bahwa pada akhirnya dia tidak bisa membuktikan apa yang terjadi ; dia hanya menduga. Baik dia maupun orang lain tak ada yang tahu apa yang sebenarnya menyebabkan Penerbangan 93 jatuh, seperti dikatakan Miller, “apa yang membuat masalah tingkat dunia terjadi di depan pintu rumah kami.” Atau, kalaupun ada orang yang tahu, maka orang itu tidak akan membuka mulut.

Kurangnya bukti-bukti yang tersedia tidak mencegah pembentukan legenda, yaitu legenda yang dengan senang hati disebar-luaskan oleh pemerintah Amerika dan media, dan yang dengan semangat diterima oleh rakyat Amerika sebagai sebuah fakta. Legendanya seperti ini : para penumpang dari pesawat United yang dibajak itu mengetahui lewat telepon tangan mereka tentang berita-berita tiga pesawat lain yang dibajak, dan memutuskan jika mereka tidak berhasil menyelamatkan diri mereka sendiri maka paling tidak mereka melakukan tindakan patriotik dan menyelamatkan nyawa orang-orang yang ingin dijadikan sasaran oleh para teroris. Jadi mereka menyerbu cockpit tempat teroris memegang kendali, dan dalam perkelahian itulah pesawat jatuh.

Presiden George Bush, Jaksa Agung John Ashcroft, Direktur FBI Robert Mueller dan sejumlah pejabat senior pemerintahan –yang menyatakan kekaguman kepada ‘para pahlawan’ Penerbangan 93– secara konsisten dan berulang kali memantapkan versi seperti itu. Begitu juga dengan surat kabar nasional dan semua stasiun televisi nasional. The New York Times, yang biasanya menjadi contoh dari keabsahan akurasi, menulis kalimat berlebihan yang tidak jelas pada tanggal 22 September –setelah mendengar berbagai sumber ‘resmi’– bahwa suara rekaman cockpit memperdengarkan “pertarungan habis-habisan yang keras” di dalam pesawat. “Dan walaupun alat rekaman tidak memberikan gambaran yang jelas atau yang utuh,” tulis The New York Times, “sepertinya pastilah terjadi perkelahian yang kacau yang tampaknya menyebabkan pesawat jatuh.”

Majalah Vanity Fair, dengan memberikan informasi yang agak lebih banyak dari The New York Times, melaporkan cerita yang amat rinci tentang Penerbangan 93, yang menurut majalah itu ; “mungkin diingat sebagai satu dari hikayat kepahlawanan besar yang pernah diceritakan.” Vanity Fair mengakui bahwa semua dugaan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang menyebabkan pesawat jatuh harus dilihat sebagai ‘perkiraan semata.’

Dua bulan kemudian Newsweek mendapatkan apa yang disebut sebagian dari salinan alat perekam percakapan dan berdasarkan hal itu mengisahkan cerita tentang ‘Para Pahlawan Penerbangan 93’ secara lebih hidup dan mencekam. Lebih Holywood daripada yang dilakukan Vanity Fair. Para penumpang adalah “tentara sipil… yang bangkit seperti nenek moyang mereka untuk melawan tirani,” begitulah nyanyian Newsweek. “Dengan keberanian dan kematian, para penumpang dan awak pesawat Penerbangan 93 meraih kemenangan untuk kita semua.”

Salinan yang diperoleh Newsweek memang memberi petunjuk bahwa perkelahian berlangsung di dalam pesawat, sumpah serampah terucapkan, doa-doa diangkatkan baik kepada Tuhan umat Islam maupun Kristen. Namun demi drama cerita itu, Newsweek tidak memberikan perhatian kepada fakta bahwa, sebenarnya, mereka hanya menduga bagaimana dan kenapa pesawat jatuh; bahwa mereka tidak punya petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam masa delapan menit terakhir Penerbangan 39 yang amat menentukan.

Yang jelas tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa cerita ‘pahlawan’ tidak benar atau tidak masuk akal. Mungkin legenda memang sepenuhnya berhubungan langsung dengan kenyataan. Dan tentu –berdasarkan hubungan telepon yang dilakukan dari dalam pesawat– tidak diragukan lagi kalau sejumlah penumpang memang benar-benar bermaksud mengambil tindakan berani. Namun apakah tindakan itu memang benar terwujud tidaklah diketahui –atau hanya diketahui oleh sekelompok kecil orang yang punya gambaran jelas tentang apa yang terjadi di angkasa di atas Shanksville pada pagi 11 September, atau aparat militer Amerika yang mengikuti detik-detik terakhir pesawat, dan orang-orang yang mengetahui namun tidak mau mengungkapkan, maupun isi lengkap dari rekaman suara cockpit yang ditemukan dalam keadaan sempurna setelah kecelakaan.

Tidak adanya informasi resmi menimbulkan perdebatan hangat dan sering sekali dengan informasi lengkap dalam situs tidak resmi (lihat www.flight93crash.com). Namun ada juga sejumlah orang di industri penerbangan yang yakin bahwa ada penafsiran lain yang masuk akal tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ada sejumlah pertanyaan penting yang tidak terjawab –pertanyaan itu didasarkan pada fakta dan juga karena langkanya versi pemerintah– namun tidak ingin dipertanyakan oleh media Amerika, yang biasanya sangat skeptis dan sangat ingin tahu.

Teori alternatif –yang sudah dibantah baik oleh militer Amerika maupun FBI– adalah a). Penerbangan 93 ditembak jatuh oleh pesawat pemerintah Amerika, dan b). sebuah bom meledak di dalam pesawat (beberapa penumpang dalam percakapan telepon mengatakan bahwa salah seorang pembajak mempunyai apa yang tampaknya seperti bom yang dililitkan di tubuh). Jika masih timbul keraguan walaupun sudah dibantah dan kalau teori konspirasi berkembang, itu disebabkan karena pihak berwenang gagal menjawab pertanyaan utama yang berpusat pada empat teka-teki berikut.

1. Sebaran yang amat luas dari puing-puing pesawat, yang menjadi salah satu penjelasan mungkin terjadi ledakan di dalam pesawat sebelum jatuh. Surat-surat –Penerbangan 93 membawa 7,500 pon surat ke California– dan kertas lain dari dalam pesawat ditemukan sejauh 13 kilometer dari tempat kejadian. Salah satu bagian mesin pesawat seberat satu ton ditemukan sejauh 2000 yard. Ini merupakan satu bagian terberat yang bisa ditemukan dari reruntuhan pesawat dan juga yang terbesar setelah badan pesawat seukuran meja makan. Sisa pesawat lainnya, sesuai dengan perkiraan akibat kecepatan 500 mile per jam, terpecah-pecah menjadi kepingan yang tak lebih panjang dari dua inci. Sisa pesawat lainnya ditemukan dua miles di dekat kota yang disebut Indian Lake. Semua fakta ini, yang tersebar luas, dikukuhkan oleh koroner Wally Miller.

2. Lokasi dari pesawat tempur AU Amerika mungkin cukup dekat atau tidak cukup dekat untuk menembakkan rudal ke arah pesawat yang dibajak. Laporan-laporan siaran langsung media pada pagi 11 September bertentangan dengan sejumlah pernyataan resmi yang dikeluarkan belakangan. Apa yang diakui pemerintah adalah pesawat tempur pertama –yang mendapat misi untuk mencegat pesawat yang dibajak– lepas landas pukul 8.25; dan pesaawt tempur lain lepas landas dari Pangkalan AU Andrews di dekat Washington pada pukul 09.35, dan persis pada saat inilah Penerbangan 93 berbalik arah 180 derajat menuju Washington dan pilot pembajak terdengar oleh petugas menara pengawas mengatakan ‘ada bom di dalam pesawat.’ Penerbangan 93, yang sudah menjadi lintasan peluru dan langsung disiarkan oleh media tak lama setelah itu, tidak terbang menurun selama 31 menit.

Dengan kesimpulan yang logis maka setidaknya salah satu pesawat F-16 milik AU Amerika –sejauh 125 miles di Washington pada pukul 09.40 sama dengan sepuluh menit dari Penerbangan 93 (atau lebih dekat jika terbang dengan kecepatan supersonik)– mestinya sudah mengejar ‘bom terbang’ sebelum pukul 10.06, dan ada bukti dari menara pengawas federal yang dipublikasikan beberapa hari kemudian di surat kabar di New Hampshire ; bahwa F 16 ‘mengejar ketat’ pesawat United yang dibajak dan ‘harus melihat seluruhnya.’

Juga ada laporan pengarahan di stasiun televisi CBS sebelum pesawat jatuh bahwa kedua pesawat tempur F 16 mengekor Penerbangan 93. Wakil Presiden Dick Cheney mengaku lima hari kemudian bahwa Presiden Bush sudah memberi perintah kepada pilot-pilot AU untuk menembak jatuh pesawat penumpang yang dibajak.

3. Sebuah percakapan telepon dari pesawat petaka itu tidak sepenuhnya cocok dengan legenda pahlawan dan diabaikan dalam drama sejenis Independence Day yang disukai media Amerika Serikat. Kantor berita Associated Press pada tanggal 11 September melaporkan bahwa delapan menit sebelum pesawat jatuh, seorang penumpang pria yang ketakutan menelepon nomor darurat 911. Dia mengatakan kepada operator yang bernama Glen Cramer bahwa dia mengunci diri dalam toilet pesawat. Cramer mengatakan kepada AP dalam sebuah laporan yang diberitakan secara meluas pada tanggal 11 September bahwa penumpang itu berbicara selama satu menit. “Kami dibajak, kami dibajak,” teriak pria itu lewat telepon tangannya. “Kami kukuhkan hal itu beberapa kali,” kata Cramer, “dan kami minta dia untuk mengulang apa yang dikatakannya. Dia amat bingung. Dia mengatakan pesawat mau jatuh . Dia mendengar semcam ledakan dan melihat asap putih dari pesawat namun tidak tahu dari sebelah mana. Dan kami kehilangan kontak dengan dia.”

Menurut informasi yang diketahui umum, telepon itu adalah yang terakhir dari sejumlah hubungan telepon dari dalam pesawat. Tidak ada lagi hubungan telepon dalam waktu delapan menit terakhir setelah pria di dalam toilet mengatakan ia mendengar ledakan.

4. Para saksi mata melihat ‘pesawat misterius’ terbang rendah di atas lokasi jatuhnya Penerbangan 93, tak lama setelah pesawat itu jatuh. Lee Purbaugh adalah salah satu dari sekitar belasan orang yang disebut melihat pesawat kedua terbang rendah dan tidak jelas, tidak jauh dari puncak pohon di atas lokasi kecelakaan dalam waktu beberapa menit setelah Penerbangan 93 jatuh. Mereka menggambarkan pesawat itu kecil, jet berwarna putih dengan mesin di belakang dan tanpa tanda-tanda jelas. Purbaugh yang pernah bertugas di AL Amerika selama tiga tahun mengatakan tidak yakin kalau pesawat itu milik militer. Kalau memang itu bukan pesawat militer, salah satu dugaan yang disebut dalam kelompok diskusi internet adalah bahwa Pihak Bea Cukai Amerika menggunakan pesawat dngan ciri-ciri itu untuk menghalangi penyeludupan obat bius. Apapun, kehadiran pesawat jet misterius itu tetap jadi teka-teki.***
bersambung ; reaksi pemerintah AS

The Independent Review, 13 Agustus 2002

TAGS :

sonkski ekalya

Leave A Comment