Keping Kenangan, kumpulan memoar orang biasa

Liston P. Siregar

Penulis : Heyder Affan, Selma W. Hayati, Rhuly Nyomandani, Ningrum Natasya Sirait, Andi Prawira, Eliakim Sitorus, Susan Ismianti, Liston P. Siregar, Farah Rahmat, Ging Ginanjar, Hendri Kremer, Hayat, Maya Susiyani, Nabiha Shahab, Titi Irawati, Ahmad Taufik, Arie M.P. Tamba, Dody Iskandar, Deny Suwarja, Dodiek Adyttya Dwiwanto, Syam Asinar Radjam
Kata Pengantar : Bambang Bujono
Cover : Gatot B.W
Layout : Wiratmo Probo
Penerbit : ceritanet
Tebal :xv+365 halaman

Karena sudah jelas-jelas mengandung orang biasa, atau orang yang tak bernama –begitulah istilah Bambang Bujono dalam Kata Pengantarnya– maka jelas-jelas pula tidak akan ada aksi hebat maupun konyol dalam buku terbitan ceritanet pertama ini.

Hanya ada dua puluh satu orang duduk di kursinya masing-masing, dengan komputer masing-masing, merenung sebentar dengan caranya masing-masing, pula tentang perjalanan hidup masing-masing, dan tentu dengan gaya masing-masing, untuk dikumpul dalam sebuah buku.

Dan mereka 21 orang itu adalah orang biasa, bukan siapa-siapa. Mungkin satu dua nama pernah sesekali terdengar di media massa karena pekerjaan mereka –seperti Arie M.P. Tamba Achmad Taufik, Ging Ginanjar, Liston P. Siregar– atau muncul di www.ceritanet.com –seperti Selma W. Hayati, Syam Asinar Radjam, Eliakim Sitorus, Henri Kremer– tapi hampir pasti mereka bukan menjadi berita.

Itulah dia orang biasa, yang tidak pernah jadi berita walau menjadi bagian dari berita. Bayangkan, apa jadinya Presiden Megawati –atau mungkin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono– kalau tidak ada warga biasa. Bagaimana pula dengan Iwan Fals, kalau tidak ada pendengar biasa. Bahkan kalaupun sekali waktu kelak, seandainya ceritanet kemudian bisa jadi berita, maka apa artinya ceritanet kalau tidak ada pengguna internet biasa.

Dan Bambang Bujono, lewat kata pengantarnya, mengaku akhirnya memahami orang biasa. “…seperti dalam wayang dan roman modern itu: orang biasa adalah orang yang tak bernama, jumlahnya berlipat lebih besar dibandingkan dengan yang punya nama,” tulisnya dalam Siapa Orang Biasa, Siapa Bukan?

Orang biasa memang hanya meramaikan, sehingga tak besar perannya, dan karena biasa-biasa saja, kadang agak menjemukan pula. Jadi kadang tidak menjemukan juga.

Misalnya saja, perasaan ke’Arab’an jelas bukan hal baru dalam pluralisme masyarakat Indonesia. Sudah biasa jadi perdebatan dan pembahasan. Tapi kenangan Heyder Affan, dari kampung di Malang hingga menikah di Jakarta dengan wanita bukan keturunan Arab, seperti siraman ke indahan. Tipis, lembut, dan terasa.

“Kebahagian itu terasa lengkap, utamanya setelah beberapa menit yang lalu aku mendengar suara ibuku di ujung telepon. Aku restui kamu, katanya pelan, sesunggukan menangis.,” kenang Heyder Affan di Hujan Kemanten.

Walau sudah melewati batas-batas Arab dan non-Arab, Heyder tetap saja tak bisa menjawab; “Jadi, bagaimana sikapmu kalau anakmu ini menikah dengan orang bukan keturunan Arab.”

Di Gadis Kecilku, Selma W. Hayati mengenang masa kerjanya di Hong Kong, sebagai pegiat para TKI. Ini bukan pekerjaan mudah, apalagi ternyata perlakukan buruk di Hong Kong setali tiga uang dengan perlakuan di Bandara Soekarno Hatta. Memang hidup orang biasa kadang pedih, tapi hidup orang biasa harus berjalan juga.

Jadi, “Setiap malam usai kerja, kuhabiskan bersama Warna. Kadang dia menelpon pada jam kerjaku, hanya untuk menanyakan kabarku atau bercerita kalau sudah menyiapkan makan malam buatku, tanpa daging, sayuran saja. Ia menjadi teman malamku. Bulan purnamaku tak sendirian lagi,” seperti tertulis dalam Gadis Kecilku.

Ada pula dua cerita tentang kematian anjing. Ningrum Natasya Sirait mengenang Getuk; “Dan Getuk suka sok pamer setiap kujemput pulang ke rumah dengan mobilku. Dia selalu meloncat-loncat kesenangan dan langsung duduk di sebelahku, bagaikan dua wanita karir yang letih dan siap pulang kerumah untuk saling berbagi.”

Sedang Rhuly Nyomandani menulis; “Bruno dikubur di dekat pagar tembok di belakang halaman rumah. Obat yang sudah terbeli tidak terminum sebutirpun. ‘Good bye Bruno.’ Dan sekarang kesibukan harus berjalan kembali seperti biasa, tanpa Bruno.”

Hidup memang harus berjalan seperti biasa. Kalau Presiden sakit, politisi langsung kong kalikong, pedagang saham menghitung-hitung, tentara mungkin bersiap-siap. Sedang siginifikansi orang biasa nyaris tidak ada, kecuali untuk kelompoknya, untuk jagad ciliknya.

Jagad cilik itu amat terasa dalam Edi Adikku dan Doktorandus Mangaraja Salem Siregar. Keduanya tentang kematian, yang satu adik dan yang satu bapak. Kematian orang biasa memang amat sulit dibagi kepada jagad gede karena sifatnya yang terlalu personal. Hanya saja, intensitas kepersonalan dalam keduanya mungkin seperti sebuah obrolan dari seorang sahabat, yang tak hanya kita kenal dari wajah dan pakaiannya, juga dari perasaannya.

Dua tulisan membatasi perjalanan hidupnya pada sastra. Arie M.P. Tamba dalam Kisah Sastra dan Tiga Kota menulis sebagai berikut; “Sayup-sayup, sang anak merasa tersiksa oleh sastra yang tak nyaman itu, yang didatangkan oleh novel Siti Nurbaya ke dalam pemahaman sastranya. Sastra, ternyata, bukan sekadar lintasan pemikiran dan suasana yang tergoreskan lewat kata-kata minimal dan bertenaga seperti dalam puisi.” Dari Medan, Arie M.P. Tamba menyeberang ke Bandung, sebelum merapar di pelabuhan sastra Jakarta.

Sedang Sebab Aku Menulis Puisi, dari Dody Iskandar, menuturkan eksplorasinya di dunia puisi. ” Hari demi hari; minggu demi minggu; bulan demi bulan berlalu. Sekitar 7 bulanan, aku telah berhasil mengumpulkan lebih dari 200 puisi. Tak terbayang bisa terkumpul sebanyak itu. Apakah aku terlalu kreatif, atau aku ini terlalu berlebihan?”

Bagaimanapun, mungkin ada juga sedikit aksi dalam Keping Kenangan, persisnya di Hampir Kisah Pertama-nya Ging Ginanjar. Paling tidak di sini ada aksi tiga anak kecil, dua laki-laki dan satu perempuan, di malam hari ketika sedang dirawat di rumah sakit. Tapi bukan aksi itu yang penting dalam kenangan Ging, melainkan; “Imas adalah orang yang memberi saya pengalaman pertama tentang kesedihan, dan rasa kehilangan. Orang pertama yang membuat saya berpikir tentang nasib orang lain.”

Lantas, pertanyaan dasarnya mungkin akan muncul kembali; ‘kenapa cerita-cerita biasa ini harus dibagikan kepada banyak orang, kepada umum?

Tak ada jawaban, tapi.kalau alasannya, jelas ada.

Keping Kenangan, lebih pada sebuah cerminan hidup sehari-hari di sekitar kita. Jika dalam biografi atau otobiografi, ada kecenderungan untuk mengemas jati diri, maka dalam keping kenangan tak akan ada gunanya kemasan itu. Jadi keseharian amat nyata, dan itulah hidup sehari-hari. Di tengah rutinitas, tak mudah rasanya menjaga jarak sebentar dengan kehidupan sehari-hari, dan mungkin, sekali lagi mungkin, Keping Kenangan bisa membantu.

Keping Kenangan juga masuk dalam keranjang belajar menulis, karena cara terbaik untuk belajar menulis -dan mungkin cara termudah pula- adalah menulis tentang sesuatu yang paling diketahui. Dan orang biasa, atau orang rata-rata, mestinya amat tahu tentang dirinya sendiri: tentang perasaannya, karakternya, atau peristiwa yang dialaminya.

Alasan lain adalah membagi cerita. Dan cerita di sini tak banyak beda dengan obrolan sesama teman, kenalan, rekan, atau keluarga. Orang bercerita tentang perasaan, tentang keluarga, pekerjaan, kekesalan, kegembiraan, atau tentang sebuah hari yang datar yang tidak terjadi apa-apa selain rutinitas yang membosankan. Bedanya dari obrolan, Keping Kenangan dalam bentuk tertulis.

Ternyata ada 21 yang menyumbang memoarnya, angka yang agak di luar dugaan walau jumlah awal yang berminat lebih banyak lagi. Mereka adalah warga komunitas ceritanet yang menanggapi undangan untuk kumpulan memoar ini -walau satu sebenarnya ditulis untuk sebuah mailing list dan kemudian diminta ikut Keping Kenangan .

Akhirnya, Keping Kenangan, berharap sifat ‘biasa’nya akan mendorong lebih banyak orang untuk menulis, untuk bercerita tentang hidupnya.

Jadi jika memang anda tertarik, belilah dulu Keping Kenangan, kumpulan memoar orang biasa dan bacalah, dan dari sana bisa jadi anda jadi yakin; “ya, saya orang biasa dan saya mau ikut menulis.”

Mungkin itu jadi jawaban dari pertanyaan dasar tadi.