Keluarga Pak Guru

Denny Suwarja

Ketika aku duduk di beranda, merasakan rasa penat membetulkan pagar belakang rumah, jam menunjukkan sekitar pukul 07.00 pagi. Dena anaku yang bungsu, dengan penuh semangat siap berangkat ke sekolah. Dirambutnya terselip sebuah pita bunga-bunga putih. “Walah-walah puteri dari mana ini mau sekolah ya!”

Dia hanya tersenyum dikulum. Manis sekali. Sikapnya yang lucu dan menggemaskan serta celetukan-celetukannya yang kritis, membuat aku selalu ingin menggodanya.

Fera, anaku nomor 2 tertawa renyah ketika dibentak oleh kakaknya, Danial. Ia dibentak kakaknya karena naik ke atas motor, padahal Danial belum siap, sehingga hampir terjatuh.

Fera, sekarang 14 tahun. Perawakannya tinggi semampai, tapi sedikit kurus. Tinggi tubuhnya setinggi ibunya. Ukuran baju, sendal atau sepatu sudah sama dengan nomor ibunya. Sifatnya aneh dan sedikit unik. Tidak sampai satu detik dia, bisa berubah. Dia bisa tertawa renyah ketika berkumpul dan mengobrol dengan kita, tapi dalam sedetik bisa berubah menjadi pendiam. Mengurung diri di dalam kamar seharian.

Danial, anaku yang pertama pagi itu bersiap untuk mengantarkan adik-adiknya ke sekolah, naik motor Suzuki tuaku yang sudah berusia 10 tahun. Perawakan Danial tinggi, kurus juga.

Aku terkadang sering kasihan melihat kondisi tubuhnya. Dengan tubuh yang tinggi seperti itu, seharusnya dia mempunyai badan yang besar pula. Tapi karena nutrisi yang kurang baik, badannya kurang ideal. Keadaanlah yang memaksa tubuhnya seperti itu.

Anakku yang pertama ini, sifatnya keras sekaligus kritis. Bila dia mempunyai satu pendapat, dia akan mempertahankannya dengan alasan yang terkadang tidak rasional. Tidak jarang aku harus bertengkar dengan dia mempertahankan pendapat masing-masing.

Hobinya adalah mengutak-ngatik program komputer, lebih-lebih game. Bila dia sudah kerasukan main game, aku tidak bisa mengontrolnya. Hanya ibunya yang bisa memberhentikan dia untuk main game.

Otaknya lumayan cerdas, hanya malasnya minta ampun. Bahkan untuk sekedar membersihkan kamar atau mandi sajapun jadi pekerjaan yang tidak mungkin, khususnya kalau malas tulennya keluar. Kamarnya selalu acak-acakan seperti kapal pecah. Dia sepertinya tidak peduli dengan lingkungan bila sudah duduk di depan komputer. Sifat buruk lainnya, Danial itu ceroboh dan seringkali menganggap remeh pekerjaan.

Mereka bertiga, pagi itu, siap berangkat sekolah. Danial, memakai seragam SMA putih abu-abu, dan bajunya dikeluarkan. Aku tidak pernah menegurnya, karena aku pun dulu ketika SMA juga melakukan hal yang sama.

Fera, berseragam putih biru. Dia sudah ‘diwajibkan’ untuk berkerudung. Dena, berseragam putih merah. Tidak lama kemudian, motorpun berderu. Mereka melaju meninggalkan aku dan isteriku yang menatap dengan perasaan galau.

Galau? Ya, kegalauan yang seringkali muncul di saat mereka berkumpul dan melakukan senda gurau bersama. Kegalauan menyaksikan mereka memasuki usia remaja, bahkan dewasa. Hampir 16 tahun berumah tangga, beranak pinak, dan bahkan ketika rambutku mulai diselingi dengan rambut putih. aku tetap saja belum mampu memberikan mereka rumah yang tetap.

Rumah yang sekarang kami tinggali, sebenarnya tidak pantas disebut rumah. Gubuklah yang paling tepat untuk sebutan tempat tinggal kami sekarang. Bangunan terbuat dari bambu pada bagian depan, dengan tembok yang semennya sangat tidak layak di bagian belakang. Gubuk itu dulu pertama kalinya dibangun oleh salah seorang ‘pasien’ si Buya.

Buya itu kakeknya anak-anakku, seorang pimpinan pesantren salafiyah di Garut.

Salah seorang ‘pasien’ Buya mengalami gangguan kejiwaan, dan mencoba untuk menyembuhkan diri di pesantren. Ketika dia sembuh, bangunan tempat dia bersembunyi itu kemudian diwakafkan untuk pesantren. Baru tahun 1998 aku menempati gubuk itu, setelah sempat ditempati oleh santri sekitar 5 tahun. Aku masuk ke tempat di Garut itu ketika pindah dari Banten.

“Gak terasa ya, anak-anak kita sudah sebesar itu!”, isteriku berujar.
“Ya, tapi aku sebagai ayahnya terkadang merasa kasihan kepada mereka.”

Dena masih tidur di atas tempat tidur yang selalu berderit kalau dia mengubah posisi tubuhnya, karena dipannya sudah tidak layak. Jeruji jendelanya, yang terbuat dari kayu tidak jarang copot dan menimpa kepalanya. Aku seringkali menangis, bila melihatnya malam hari ketika dia sedang tidur. Tubuhnya seringkali dalam keadaan tertekuk. Kakinya hampair menyentuh dada dengan tangan dilipat. Kedinginan. Kamlumlah dinding kamarnya hanya terbuat dari bambu dengan lantai papan. Selimutnya tebalnya aku tutupkan ke atas tubuhnya dengan perasaan yang tidak tergambarkan. Dan itu berulang setiap malam.

Keadaan kamar Fera tidak jauh berbeda. Tapi dia sudah bisa membetulkan jeruji jendelanya sendiri, dengan caranya sendiri tentunya. Pagi tadi aku masih sempat memaku kembali jeruji tersebut, tapi merasa aneh karena selalu bergoyang tidak mantap. Dia tertawa,”Ayah, pasti akan goyang terus atuh, kan sama De Fera tengahnya dilakban bening. Kan waktu itu patah, ya udah ama Fera dilakban!” Aku tersenyum kecut.

Enam belas tahun aku berumah tangga. Enam belas tahun aku tidak punya rumah. Enam belas tahun kerja sebagai guru SMP masih belum untuk punya rumah. Untunglah mertuaku mengerti dan membiarkan kami menempati rumah itu. Gratis.

Isteriku yang bekerja sebagai tenaga laboran PNS di Puskesmas kecamatan tidak jauh berbeda denganku, paling tidak dari segi gaji. Jangankan membangun rumah, sekedar menyediakan makanan lebih untuk Danial, Fera dan Dena kami harus berpikir dua tiga kali. Baju-baju seragam yang mereka pakai sudah kusam warnanya.

“Ayah, lihat baju De Fera. Lucu, putih tapi kok tidak kelihatan putih ya? Hehehehe….!”begitulah Fera pernah nyeletuk ke aku. Kami berdua tertawa.

Bagaimanapun segala kekurangan aku jalani dengan penuh rasa syukur. Aku seringkali mengajarkan kepada anak-anak untuk melihat ke bawah, melihat orang-rang yang lebih tidak beruntung. Mereka yang mungkin setiap hari berkata, “Apa kita bisa makan hari ini?” karena memang tidak ada uang untuk membeli makanan.

Entahlah sampai kapan, aku menempati gubuk yang ditempati sekarang. Mungkin suatu saat, aku harus meninggalkannya dengan segala kenangan selama tinggal di sana. Aku yakin saat itu akan tiba, tidak lama bila mertuaku meninggalkan alam fana ini. Keberadaannyalah yang membuat keluargaku bisa tinggal di sana.

Aku kini hanya bisa termangu, mengetikan huruf demi huruf dan menatap monitor menuliskan semua yang bisa aku tuangkan. Aku hanya bisa berharap, bila aku meninggalkan alam fana ini. Anak-anakku bisa hidup dan tinggal di rumahnya sendiri. Tidur di kamar dengan kondisi yang layak. Harapanku adalah menjadikan mereka manusia yang bisa mandiri, jujur, saleh dan selalu menerapkan ajaran agama. Yang terutama, aku berharap. Setiap selesai sholat mereka mendoakan aku di alam kubur. Agar aku mendapat keridloan dan kebahagiaan di akhirat.

Tapi mungkinkah mereka akan mendoakan aku, sementara aku merasa belum pernah memberikan kebahagiaan yang layak kepada mereka?

sonkski ekalya

Leave A Comment