Olahraga dan Bangsa

Mula Harahap

Kalau sebuah negara mati-matian bertarung untuk mengejar piala atau medali di sebuah kejuaraan olahraga, maka salah satu tujuannya tentu adalah demi prestise dan harga diri bangsa tersebut. Tapi disamping prestise dan harga diri, maka ada tujuan lain yang tak kalah
penting.

Kwalitas dan kwantitas piala atau medali, yang diperoleh sebuah negara dalam sebuah kejuaraan, adalah indikator kemajuan olahraga di negara tersebut. Dan olahraga memiliki kaitan yang erat dengan karakter/mentalitas bangsa. Jadi, kwalitas dan kwantitas piala atau medali, yang diperoleh sebuah negara, adalah juga indikator karakter/mentalitas bangsa dari negara tersebut.

Saya tidak menafikan bahwa tentu masih banyak indikator lain yang bisa dipakai untuk mengukur karakter/mentalitas sebuah bangsa. Tapi sejak zaman Yunani Kuno dahulu, umat manusia telah sepakat (dan menyadari) bahwa olahraga adalah salah satu sarana penting untuk meningkatkan karakter/mentalitas bangsa. “Sebagai sarana untuk nation and character building,” kata Bung Karno.

Kalau sebuah negara meletakkan urusan olahraga di tangan sebuah kementerian, atau mengeluarkan anggaran yang sedemikian besar untuk membangun fasilitas olahraga di berbagai lingkungan pemukiman atau pendidikan; maka alasannya tidak lain daripada bahwa olahraga dianggap sebagai salah satu sarana penting untuk menempa dan meningkatkan karakter/mentalitas bangsa.

Untuk lebih memperjelas apa yang saya katakan di atas, marilah kita melihat daftar peraih medali terbanyak di Olimpiade. Di papan atas antara lain adalah : RRC, AS, Rusia, Jerman, Inggeris, Perancis, Korea Selatan, Korea Utara, dan Kuba

Dan kalau kita melihat berbagai aspek lain dari kehidupan negara- negara/bangsa-bangsa tersebut, maka kita tentu akan bisa meraba ‘benang merah’ bahwa mereka memang bukan negara/bangsa yang sembarangan.

Dalam hal ekonomi atau pendapatan per kapita, Kuba dan Korea Utara mungkin masih sekelas dengan Indonesia. Tapi bagi saya mereka tetap adalah sebuah bangsa yang punya karakter/mentalitas tinggi.

Begitulah, kalau dalam SEA Games di Manila tahun lalu, Indonesia menempati urutan kelima dalam perolehan medali, maka bagi saya itu adalah juga gambaran bahwa memang demikianlah derajat karakter/mentalitas kita sebagai bangsa. Dengan lain perkataan, keinginan kita untuk berprestasi, daya juang kita, disiplin kita dan sportifitas kita memang sudah jauh di bawah Filipina, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Inilah yang membuat gusar, malu dan sedih. Ternyata kita memang ‘bangsa bermental tempe.’

Kalau kita hendak memajukan olahraga, maka menurut hemat saya kita perlu menyadari benar fungsi dan tujuan olahraga. Tujuan olahraga bukan sekedar meraih piala atau medali. Tujuan olahraga adalah membangun karakter/mentalitas bangsa.

Saya sangsi apakah para petinggi olahraga kita di Kementerian Olahraga atau KONI juga menyadari hal yang penting ini. Saya curiga, jangan-jangan mereka hanya memandang olahraga sebagai sebuah ‘proyek’ atau ‘arena lobby’ untuk memperkaya diri sendiri.

Hal berikut yang perlu dilakukan ialah menyediakan fasilitas olahraga. Olahraga adalah sesuatu yang harus dilakukan di tanah lapang, kolam, laut, lintasan lari dan berbagai tempat lainnya. Olahraga tidak bisa sekedar diomongkan di mulut dan dibayangkan di kepala.

SMP dan SMA–paling-tidak–harus dilengkapi dengan ‘hall’ tertutup untuk bermain badminton, tenis meja atau senam. Akan lebih baik lagi kalau sekolah-sekolah tersebut juga dilengkapi dengan lapangan sepakbola atau atletik.

Kampus perguruan tinggi pun demikian halnya. Kampus perlu memiliki stadion terbuka sepakbola dan atletik, stadion tertutup untuk badminton–basket–dsb, dan kolam renang. Kota-kota pun demikian pula halnya.

Sejak tahun 70-an, karena alasan kurangnya fasilitas olahraga (dan mahalnya biaya untuk membangun fasilitas yang baru) maka PON hampir selalu di Jakarta –syukurlah Palembang berani jadi tuan rumah juga. Bagi saya ini adalah sebuah tindakan yang ‘bodoh.’ Kalau sejak tahun 70-an kita menggilir penyelenggaraan PON di ibukota propinsi, maka sudah berapa banyak kota yang memiliki fasilitas olahraga yang lengkap untuk sebuah ‘venue’ internasional, seperti stadion sepakbola, stadion atletik, stadion basket–tinju–bulu tangkis dsb, stadion renang dan velodrome?

Jangankan membangun fasilitas olaharaga yang baru; menjaga fasilitas yang sudah ada pun kita tak mampu. Dari sekian ratus hektar tanah Kompleks Gelora Senayan, maka hanya tinggal berapa puluh hektar saja yang tersisa untuk olahraga. Sebagian lagi telah tersita oleh bangunan perkantoran, apartemen, mall, hotel dsb.

Di berbagai kota, lapangan sepakbola tergusur menjadi perumahan, pertokoan atau ‘driving range

Saya pernah membuka website Bundesliga. Bukan main kagumnya saya ketika membaca bahwa di seantero Jerman ada ribuan klub amatir dan ada 6.000 lapangan sepakbola!.

Dan sebaliknya, setiap kali melintasi Lapangan Banteng pada hari Minggu pagi, saya selalu ‘geleng-geleng’ kepala. Ada ratusan siswa dari puluhan sekolah di Jakarta yang berebut tempat di ‘venue’ yang sangat terbatas itu.

Setelah menyadari pentingnya olahraga bagi pembangunan mentalitas/karakter bangsa, dan setelah menyediakan berbagai fasilitas olahraga, maka hal lain yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah menggerakkan masyarakat agar mengambil prakarsa untuk mengorganisir olahraga. Pemerintah jangan berpretensi bisa mengurus olahraga secara keseluruhan.

Ketika saya masih kanak-kanak maka setiap ‘bond’ sepakbola (Persija, PSMS, Persib dsb) selalu menyelenggarakan kompetisi yang teratur bagi klub-klub amatir yang menjadi anggotanya. Demikianlah saya mengenal Medan Putera, Bintang Utara, Sahata (sebagai klub anggota PSMS), atau UMS, Maesa, Indonesia Muda (sebagai anggota Persija).

Klub-klub amatir inilah yang menjadi tempat persemaian pemain ‘bond.’ Tapi kini saya tak pernah lagi mendengar nama-nama klub amatir tersebut. PSMS, Persija, Persib dsb telah menjadi sebuah klub ‘pseudo professional.’ Pemain-pemain digaji dengan anggaran Pemerintah Daerah.

Ketika saya masih kecil, saya juga sering mendengar klub-klub amatir bulutangkis yang lapangannya berada di rumah-rumah orang berduit. Klub-klub ini melakukan turnamen secara teratur. (Rudy Hartono dibesarkan di klub amatir kepunyaan ayahnya di Surabaya). Tapi kini
saya tak pernah lagi mendengar klub-klub amatir bulutangkis yang demikian. Dan saya selalu bertanya-tanya, darimana PBSI menjaring pemainnya?

Masyarakat harus digerakkan untuk mengurusi dan melakukan olahraga. Kecenderungan berbagai induk olahraga untuk memilih jenderal, menteri atau konglomerat sebagai ketua, bagi saya adalah sebuah gambaran ketiadaan-inisiatif dan kekurang-percayaan diri masyarakat
dalam mengurusi olahraga.

Selalu ada anggapan, bahwa kalau sebuah induk organisasi olahraga dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, maka dana akan mengalir dan olahraga akan maju. Mungkin saja dana memang mengalir. Tapi karena tokoh tersebut bukan orang yang mengerti olahraga, maka sering sekali timbul percekcokan antara dirinya dengan para pelatih atau teknokrat yang memahami olahraga di induk organisasi tersebut.

Masyarakat harus belajar memimpin, mendanai dan mengurus olahraga secara gotong-royong. Saya pernah membaca iklan penggalangan dana di majalah Star Weekly terbitan tahun 1950-an, ketika PBSI membutuhkan biaya untuk membeli tiket Ferry Soneville pulang dari Belanda dan memperkuat Tim Thomas Cup Indonesia. Sungguh suatu hal yang sangat indah!

Tugas untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan prakarsa di masyarakat dalam mengurusi olahraga adalah tanggung jawab Pemerintah.

Kita sudah lama menjadi ‘bangsa yang hanya bisa menonton olahraga’ tapi ‘malas untuk berolahraga.’ Kebiasaan untuk mengorganisir acara ‘nonton bareng’ final Piala Dunia di kafe-kafe itu bagi saya adalah sebuah perbuatan yang konyol dan memalukan. Olahraga itu seyogianya ditonton di arena dimana dia sedang digelar. Dengan duduk di Stadion Wemble atau Sirkuit Sepang maka barulah kita bisa merasakan ‘flavour’, ‘getaran’ dan ‘roh’ olahraga yang sebenarnya.

Memang, karena faktor jarak, waktu dan biaya, kita tidak mungkin pergi menonton Piala Dunia ke Stadion Muenchen. Kita hanya bisa menontonnya lewat layar televisi. Tapi–menurut hemat saya–kalau hanya sekedar menonton lewat layar televisi di sebuah kafe, tak perlulah kita terlalu ‘heboh’ dan ‘berpretensi’ seperti menonton di stadion. Apalagi kalau yang kita tonton itu adalah kesebelasan atau tim balap mobil negara lain. Malu kita.

Lebih baiklah kita menontonnya dengan diam-diam bersama sanak famili di rumah atau bersama teman sekampung di depan televisi umum di kelurahan.

Rasa kebangsaan saya selalu terusik manakala melihat sekelompok orang Indonesia memakai kostum Jerman dan Brazil, duduk di sebuah kafe yang mewah di Jakarta, lalu disorot oleh teve ketika sedang berteriak-teriak dan melompat-lompat seperti layaknya suporter yang sedang menonton secara “real” di Stadion Heysel atau Stadion Meksiko. Memalukan sekali.

Ketimbang menjadi sebuah bangsa ‘”produsen’ olahraga; kita sudah menjadi sebuah bangsa ‘konsumen’ olahraga. Dan sempurnalah ketidak-berdayaan kita: Menjadi konsumen apa saja yang dihasilkan oleh bangsa-bangsa lain.

Daftar yang bisa diperpanjang; konsumen peralatan militer, konsumen filem, konsumen beras, dan konsumen pelaku teror bom.