Cornelia,Pembantuku…

Ayu Hermawan

“Mereka tuh susah. Dianggap keluarga atau saudara malah ngelunjak!” Trina, rekan kantorku selepas makan siang ngomel-ngomel. Aku sih berusaha menunjukan simpati, Keluhan Trina seperti itu untuk kesekian kalinya terjadi, setelah dia berulang kali ‘kehilangan’ pembantu.

Trina tidak sendirian. Omelan, gerutuan soal pembantu sepertinya tidak pernah lepas dari obrolan teman-temanku. Macam-macam. Selain memuji, banyak juga yang menggerutu. Apalagi kalau menjelang Lebaran. Pembantu mudik, semua kerepotan.

Tapi Trina terkenal paling sering gonta-ganti pembantu. Rekornya, ada pembantu yang cuma bertahan empat hari. Dan, anehnya semua salah itu seolah-olah berada pada pembantunya yang datang dan pergi itu.

Pernah suatu kali dia mengomel setelah memecat pembantunya. “Pembantu apaan, mosok berdandan pake lipstik juga kayak pecum aja. Gue aja kalah keren,” katanya sinis. Biasanya kita saling pandang dan menunggu apa lagi mengenai pembantunya yang pasti sudah dipecat itu.

Trina tidak sendirian.

Ada lagi rekan kerjaku yang menurutku sih aneh banget sikapnya terhadap pembantu. Obrolan itu terjadi ketika makan siang, saat kita membicarakan jenis-jenis nasi atau beras yang enak. Semua adu argumentasi mana yang lebih enak: cianjur, rojolele atu pandanwangi atau bahkan beras jepang yang katanya enak dan pulen itu.

“Pokoknya, yang namanya nasi di rumah aku usahain paling enak deh. Kalo perlu lauknya enggak usah enak-enak, yang penting nasiku wangi, lembut dan pulen. Makan dengan lauk ikan asin pun pasti nikmat banget apalagi dimakan hangat-hangat,” kata Hani.

Eh, di antara obrolan seru tentang nasi enak itu, Agni dengan enteng menyela. “Kalo aku sih ngapain nasi di rumah enak-enak. Bukan karena aku lebih sering makan di luar, tetapi enak banget tuh pembantu kalo beras di rumah mahal dan enak,” kata Agni, ibu dengan dua anak itu.

Jep! Seketika keningku berkerut. “Lha, kan anak-anaknya di rumah kan makan nasi juga?” pikirku. Tetapi aku enggak mau usil menimpali Agni. Cuma tersenyum saja.

Selain berbagai keluhan, ada juga sih pujian terhadap para pembantu. Puji misalnya bangga banget dengan pembantunya yang dia panggil Si Nany.

“Pokoknya aku ibarat punya asisten pribadi,” katanya bangga. Menurut Puji, ibarat kata dia tinggal jalan saja. Semua sudah disiapkan Si Nani. Mau jalan-jalan, ke mal, ke pesta pernikahan semua kebutuhan sudah disiapkan pembantunya. Anak-anaknya yang balita pun, katanya, sudah beres diurus.

“Ibaratnya, aku tinggal pake dan angkat saja. Mana masakannya leker lagi,” katanya. Namun lain, kali dia juga komplen karena ternyata suatu hari kedatangan keluarga Si Nani, yang katanya ikut nginep segala di rumahnya.

“Emangnya rumahku, tempat kos-kosan, bisa sembarang orang menginap,” katanya.

Aku juga bukannya tidak punya pengalaman. Di rumahku, para pembantu itu dianggap seperti saudara dan tidak membeda-bedakan. Ibaratnya kita makan apa, dia pun akan memakan hidangan yang sama. Bagiku, para pembantu itu orang-orang kepercayaan yang harus diandalkan. Lha, bagaimana selagi aku dan suamiku bekerja, kan merekalah “penguasa” rumah. Merekalah yang menunggu, mengurus rumah, terutama kedua putra-putriku

Dulu kami punya pembantu namanya Cornelia. Mirip nama bintang sinetron di teve-teve. Bukan nama asli, memang. Nama sebenarnya Mbak Jum cuma anakku yang empat tahunan, waktu itu, lebih suka memanggil namanya Cornelia.

“Biar keren, ganti saja namanya,” katanya. Ya sudah karena Mbak Jum setuju, kami pun memanggil namanya seperti bintang sinetron itu.

Cornelia, eh.. Mbak Jum, memang sangat bisa diandalkan. Ibaratnya dia sudah menjadi bagian penting dari lancarnya roda kehidupan kami. Saking akrabnya kami, seringkali dia lebih galak dari aku. Pernah suatu saat, suamiku baru pulang dinas luar kota. Setumpuk pakaian kotor masih tersimpan di tas travellingnya. “Pak, cepetan beresin tasnya, aku mau cuci pakaian kotornya!” katanya tegas.

Eh, suamiku malah tertawa dan menurut saja apa maunya Cornelia, eh Mbak Jum.

Sayang, Mbak Jum sudah tidak di rumah kami lagi. Ketika pulang lebaran lalu, dia masih kembali ke rumah. Namun begitu tiba di rumah dia langsung sesenggrukan menangis. “Saya mohon maaf dan meminta izin untuk tidak bekerja lagi di sini,” katanya. Kami semua kaget, apa ada yang salah. Rupanya, orang tuanya di kampung memintanya segera menikah.

Persis – seperti cerita Siti Nurbaya. Perempuan sebuah desa di Cilacap itu tidak mempunyai pilihan lain. Upaya kami memberi pengertian kepada orang tuanya tidak berhasil. Akhirnya, dengan berat hati kami merelakan Mbak Jum pergi dan menikah

Setelah Mbak Jum, kami mendapatkan sejumlah pembantu. Ada yang datang, ada yang pergi. Sebenarnya perlakuan yang diberikan kepada mereka sama seperti yang kami lakukan kepada Mbak Jum. Namun memang ibarat kata, rambut sama hitam namun perilaku belum tentu. Demikian juga dengan para pembantu kami.

Namun kami menghadapinya dengan tenang dan sikap yang jelas. “Ya, kita berusaha sebaik mungkin dan memberi kepercayaan kepada mereka. Lha, kalo mereka enggak betah mau bagaimana lagi.Kita pasrah saja dan kita cari yang lain…” kata suamiku.

Iya, dia sih enak. Lha, karena yang repot mencari pembantu baru biasanya aku….

sonkski ekalya

Leave A Comment