Agama, Masyarakat, dan Politik di Indonesia

Musim Natal, sejak tahun lalu rasanya, saya banyak dapat pesan selamat Natal bergaya baru. Bukan lagi sekedar di WA grup, tapi seolah-olah japri dari seorang kawan. Sebenarnya tidak. Orang itu cuma mengirim pesan yang sama ke banyak nomor kontak di HP-nya. Isinya, bisa jadi video, gambar animasi meriah, maupun foto riang gembira keluarga si pengirim. Sama persis dengan saat Idul Fitri. Saya yakin sama persis karena pernah mendapat pesan umum Selamat Hari Raya, Mohon Maaf Lahir Bathin.
Para pengirim seperti itu, menurut saya, menyebalkan dan sekaligus tidak punya rasa kemanusiaan karena tidak pernah menempatkan orang lain sebagai individu yang berbeda satu sama lain. Dalam perayaan yang paling penting sekalipun, mereka masih tidak mampu juga melihat orang lain sebagai umat manusia yang beragam. Padahal Natal –dan juga Idul Fitri-  menjadi saat untuk seharusnya jadilah manusia yang bernyawa yang mengirim pesan  ke manusia yang bernyawa danitu hanya dua kali setahun.  
‘Samuel, Selamat Hari Natal ya. Juga untuk istrimu Natasya, dan tiga anakmu. Maaf lupa namanya,” rasanya jauh lebih hangat dan tulus dibanding cuma mengirim foto keluarga yang tertawa riang di depan pohon Natal atau video tentang bintang-bintang berkilauan berjatuhan di atas pohon cemara. Sekali setahun pada perayaan agama paling penting –kalau memang si pengirim itu merasa taat beragama- sapalah si Samuel  dengan semangat kemanusiaan, bukan cuma numpang lewat dengan pesan generik atau di WA grup.
Terlalu banyak yang harus dikirim jadi capek? Makanya jangan sok jadi merasa pejabat tinggi yang akan membuat penerima pesan menjadi senang dan bangga. Sekali atau dua kali setahun, perlakukanlah orang lain sebagai individu yang unik dan bernyawa. Jadilah manusia beneran!
Ayat-ayat Suci
Salah satu pesan umum di Musim Natal adalah kutipan ayat-ayat Alkitab. Para pengirim ini lebih canggih lagi derajat ketidakmanusiaannya dan berani-beraninya pula berkedok agama. Di zaman internet, sejalan pula dengan makin berkembangnya pengkotbah komersial, amat gampang menemukan ayat-ayat yang relevan dengan hari-hari besar tertentu. Tinggal copy paste ayat-ayat dan pilih nomor-nomor  WA penerima dan tinggal pencet kirim. Para pengirim seperti ini, menurut saya lagi, memukul rata bahwa semua orang tidak setaat dia atau persisnya ‘tidak pura-pura’ setaat dia sampai harus disuguhkan ayat-ayat. Sementara para pengirim–dalam kasus saya- jelas bukan pendeta walau bisa jadi aktifis gereja. Mereka juga masuk lebih  jauh ke dalam kehidupan individu yang unik, termasuk dalam kehidupan beragama: baik yang menjalin hubungan pribadi langsung dengan Tuhan, yang memisahkan keyakinan agamanya dengan hubungan keseharian dalam masyarakat, maupun yang memang hidup detik demi detik dengan ayat-ayat suci. Hanya Tuhan yang tahu yang mana yang benar.  Tapi datanglah para pengirim ayat-ayat suci ini yang malah merasa lebih tahu. Baik, lupakanlah jenis pesannya generik atau japri, juga siapapun pengirimnya namun terimalah ayat-ayat suci itu, resapi, dan wujudkan dalam kehidupan sehari-bari. Tapi, tunggu dulu, apakah memang semua orang memerlukannya, apakah spritualitas seseorang hanya bersumber dari agama-agama yang sudah dilembagakan, apakah semua orang harus beragama dalam koridor agama utama yang diberlakukan mantan Presiden Soeharto dulu.
Di Indonesia, jelas masih ada koridor agama. Gampang sekali rasanya menemukan buktinya, seperti yang dialami umat Ahmadiyah maupun Islam Syiah, agama-agama tradisional seperti Parmalim di Batak, apalagi yang terbuka menatakan atheis.  Itu pula yang mungkin membuat ‘beragama’ menjadi alat survival dalam banyak bidang kehidupan sehari-hari. Pegawai negeri atheis di Sumatra Barat yang masuk penjara, rumah umat Ahmadiyah yang dirusak di Lombok Timur, dan umat Syiah yang belum juga bisa pulang ke kampung asalnya di Sampang, Madura. Oleh karena itu marilah kita beragama, atau paling tidak pura-pura beragama karena akan membuat kehidupan lebih aman dan karier lebih lancar. Dan saya menduga para pengirim ayat-ayat –dari Alkitab maupun Al Quran- sebenarnya cuma sekedar menjalankan naluri manusia yang paling utama untuk bisa bertahan hidup, di Indonesia. Cuma mereka mungkin lebih canggih karena pada saat bersamaan, mungkin, menempatkan pemuka agama sebagai tokoh panutan sehingga meniru-niru sebatas di permukaan.
Agama di Pilpres
Beberapa hari ini, saya –sama seperti banyak orang lainnya- mendapat dua poster tentang tes ngaji capres dan cawapres. Kedua poster berbeda gambarnya dan isinya, yang satu lengkap dengan ayat yang harus dibaca di Masjid Baiturahman, Banda Aceh, pada 15 Januari sedang yang satu lagi lebih umum berupa seruan dan sekalian menyimpulkan  ‘supaya agama tidak dibawa-bawa lagi di Pilpres’. Saya –juga sama seperti banyak orang lainnya- yakin tes itu tidak akan terjadi walaupun cawapres Ma’ruf Amin yang menjadi pasangan Jokowi, diberitakan siap berangkat ke Aceh untuk ikut tes. Setelah saya baca-baca dan telusuri lebih lanjut, sepertinya gagasan itu muncul dan disebar oleh para pendukung Presiden Joko Widodo. Dan buat saya itu tetap agak mengagetkan karena saya –yang tinggal di rantau, jauh dari Indonesia- selama ini berpendapat para pendukung Joko Widodo yang selalu menjauh dari isu agama.  Padahal sudah ada kekagetan pertama, ketika Ma’ruf Amin menjadi cawapres yang mendampingi Jokowi. Di bawah pimpinan ulama itulah, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa  “Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan menghina Al-Quran dan atau menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum. Cuma jika pemilihan Ma’ruf Amin bisa disederhanakan sebagai taktik praktis semata, maka gagasan tes ngaji rasanya ikut meyakini bahwa agama harus juga dimainkan dalam pemilihan presiden 2019. Jadi bukan lagi sebagai taktik saja melainkan terkesan sebagai sebuah keyakinan untuk membuktikan pasangan mana yang lebih Islami ‘Jowo Widodo-Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno’.  Padahal selama ini, kesannya, para pendukung Prabowo dan Sandiaga yang mengajak agar agama harus selalu dipertimbangkan dalam pilihan politik. Kini rasanya semakin jelas pula pesannya bahwa, di Indonesia, agama belum bisa dipisahkan dari pilihan politik, juga kehidupan bermasyarakat.
Dan sayapun harus makin bersiap-siap dengan para pengirim WA yang semakin yakin untuk membuktikan ketaatanya dalam setiap kesempatan secara terbuka. Soalnya gaya mereka itu justru semakin mendapat penguatan, 18 tahun lebih setelah memasuki Abad 21.
***

pencerita

Leave A Comment