Mewariskan Sastra Tutur

Anton Bae bin Yazid Amri

Satra tutur atau biasa disebut juga tradisi lisan (oral tradition) lahir pada masa kenabian Nuh. Akan tetapi, perkembangannya yang sangat pesat terjadi di Mesir, puncak keemasan Firaun. Sastra tutur identik dengan ajaran-ajaran dan nilai-nilai alam semesta; langit dengan segala isinya, bumi dengan kekayaan di atas dan di bawahnya, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan mahluk hidup dan penciptanya.

Para ahli pikir, tukang sihir dan penyair saat itu merevitalisasikannya ke dalam bentuk syair, legenda, mantra, dan fabel. Tujuan mereka adalah meyakinkan atau merangsang pengikutnya untuk percaya dengan apa yang mereka pikirkan.

Saat Firaun dan pengikutnya ditenggelamkan Allah lewat perantara Musa di Laut Merah, perkembangan sastra tutur itu masih terus berjalan. Allah menurunkan kitab suci Taurat, yang mengutamakan Iqro yang juga disinggung Al-Quran (dalam surat Al-Iqro, 1-5, surat pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad). Taurat diturunkan untuk menghadapi Samiri, pengikut Musa yang hengkang, serta untuk memberi arahan kepada seluruh umat Musa dan manusia-manusia sesudahnya.  Namun, Taurat juga tidak bisa membinasakan sastra tutur yang sudah mengental di seluruh organ tubuh manusia.  Hingga terjadilah metamorfosis tradisi yang turun-temurun..

Ketika saya teringat dengan hal yang fundamentalis di atas, saya jadi tergambar dengan perkembangan sastra tutur di Sumatera Selatan yang disosialisasikan dalam bentuk festival oleh Lembaga Budaya Kobar 9 bekerjasama dengan Bank Sumsel, akhir Oktober 2007. Tradisi yang pernah hidup di dunia primitif itu, tidak lagi ditempatkan dalam sebuah gua, atau lapangan terbuka, atau sebuah perbukitan yang dikelilingi pepohonan, tetapi dalam sebuah ruangan luas dengan tehnik pencahayaan yang indah.

Puluhan orang berbondong-bondong datang dari segala daerah di Sumatera Selatan, untuk menonton dan mengikuti lomba dengan tujuan mengapresiasikan sastra tutur (yang sudah direvitalisasikan) sebagai budaya yang mesti dikembangkan.

Tradisi Tutur
Tutur atau lisan, yang terbayang di otak kita adalah seorang yang menggumam, melamun, atau sedang bercerita tentang sebuah kisah atau riwayat kepada seseorang atau dirinya sendiri. Sumatera Selatan termasuk provinsi yang kaya dengan tradisi lisan tersebut, di antaranya tadut, guritan, andai-andai, jemaram atau bujang jemaram, jelihiman atau bujang jelihiman, senjang, njang panjang, nanday panjang, warahan dan masih banyak lagi istilah lainnya. Istilah tersebut dikelompokkan dan disesuaikan dengan isi dan amanat yang dituturkan.

Walaupun tidak mengarahkan manusia untuk menyembah berhala, di dunia realis-magis ini sastra tutur di Sumatera Selatan adalah tradisi yang sampai hari ini terus berkembangan pesat. Perevitalisasian tidak lagi sebatas pertujukkan atau pergelaran dalam sebuah panggung, akan tetapi sadar-tidak sadar masyarakat Sumatera Selatan sudah menempatkan posisi sastra tutur dalam kehidupan keseharian.

Penyair Sutan Iwan Sukri Munaf, pernah berkata tentang keunikan bahasa yang ada di Palembang dan di Prabumulih tempat dia bekerja. Dia mengatakan bahwa di Palembang –maksudnya Sumatera Selatan– untuk menulis sebuah puisi tidak lagi bersusah payah untuk merangkai kata, Apa yang diucapkan sudah menjadi sebuah puisi, katanya, yang bangga dengan dialek Sumatera Selatan yang penuh dengan keunikan bahasa, dan penganiayaan kata.

Dan ada pula diksi-diksi sebagai singgungan, seperti wong-rumah, polisi-tiduk, raden ayu, dan lain sebagainya. Diksi yang keluar tersebut tidak serta merta keluar mulut tanpa adanya tujuan yang jelas. Jika dirangkai antara kalimat yang satu dengan yang lainnya, akan terbentuklah sebuah hikayat, epos atau sebuah fabel.

Atau cobalah berandai-andai membuat sebuah novel. Saya menuturkan etos kepada pendengar. Ada plot yang saya gambarkan dan latar sebagai deskripsi ruang yang membantu imajinasi pendengar. Saya juga menampilkan sesuatu kepada pendengar yang bersifat lelucon atau sebuah misteri. Biar mereka percaya, saya bermain dengan kalimat-kalimat yang logis.

Apa bedanya ini dengan sebuah dongeng? Apa bedanya ini dengan ande-ande?

Artinya, ada kebingungan ketika ada yang mengatakan sastra tutur di Sumatera Selatan akan punah, seperti yang dicemaskan oleh Lembaga Kebudayaan Kobar 9 dalam setiap tuturannya.

Sastra Tutur dalam Bentuk Buku
Jika niat baik yang dibangun komunitas atau lembaga kebudayaan seperti Kobar 9 masih berputar mengenai persoalan menjaga dan melestariakan aset budaya, sangat disayangkan kalau hanya sebatas sebuah pertujukkan atau pembentukkan komunitas. Alasannya hal tersebut tidak memiliki output yang jelas. Hanya akan menjadi angin lalu yang berputar-putar menjadi tuturan yang baru.

Tradisi yang memiliki nilai budaya tinggi itu seharusnya banyak dikemas dalam bentuk buku, bukan lagi pada sebuah pertunjukkan. Sastra tetaplah identik dengan tradisi membaca dan menulis, menulis dan membaca. Jika tetap mengkondisikan tradisi tutur, artinya kembali kepada kemunduruan yang pernah dilakukan oleh manusia-manusia prasejarah.

Saya sangat berharap sastra tutur sudah menjadi pendidikan muatan lokal di bangku-bangku sekolah. Dan keponakan-keponakan bisa berimajinasi sendiri ketika membaca sebuah fabel.

sonkski ekalya

Leave A Comment