Kenangan Pribadi Dengan Mas Arief Budiman 3

Bela Kusumah Kasim

Tahun 2001, dunia dikejutkan oleh peristiwa 9/11, yang merubuhkan Twin Tower di kota Metropolitan New York. Peristiwa mengerikan tanggal 11 September itu disaksikan milyaran manusia melalui layar televisi.

Beberapa Minggu ke depan peristiwa itu menjadi topik diskusi Group Melbourne Discussion. Pada waktu itu nara sumber untuk menjadi pembicara tidak kekurangan. Berkat pendekatan AB dengan para mahasiswa S2 dan S3 Melbourne University, kawan-kawan seperti Lufty Asakurani, Syafii Anwar, Syafii Antonio, sering menjadi nara sumber menyemarakkan arena diskusi.

AB sering mengingatkan bahwa peristiwa 9/11 di New York itu bagian dari rentetan dampak dari kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat di Timur Tengah. Negara-negara Islam merasa termaginalisasi oleh dominasi negara-negara Kapitalis Barat. Dalam diskusi, AB sering membuat para partisan untuk berpikir kritis, tidak emosional dan bisa melihat dari sudut Geo-Politik yang lebih luas.

Bulan Maret tahun 2003, pemerintahan Goerge W Bush memutuskan untuk menggempur Irak bersama negara-negara sekutunya, termasuk Australia. Keputusan Bush menimbulkan reaksi protes dari masyarakat umum di seluruh kota-kota besar Australia. Aksi unjuk rasa anti perang terjadi di seluruh ibukota negara bagian, yang pada waktu itu diikuti 60.000 sampai 80.000 orang yang berduyun-duyun memenuhi jalan-jalan utama CBD-Melbourne menuju Gedung Parlemen Victoria di Spring St.

Saya mendengar AB ikut aksi unjuk rasa, tapi kami tidak sempat ketemu.

Beberapa hari setelah aksi unjuk rasa, saya telepon AB, untuk melepaskan rasa kekhawatiran saya terhadap serangan AS ke Irak yang akan berdampak terhadap Indonesia terutama reaksi dari kelompok radikal Islam.

”Halo Mas, apa kabar, apa topik diskusi hari Jumat nanti?” sapa di telepon.

”Oh Bela, tadi saya ditelepon oleh Duta Besar Amerika di Canberra.” AB langsung to the point.
”Apa, Mas ditelepon Duta Besar langsung dari Canberra? Kenapa mau dicekal Mas?” saya kaget namun berusaha guyon. ”Hebat dong Mas ditelepon Dubes AS, untuk diundang makan malam, rubbing shoulder with the Top brass.

”Masalahnya itu, tulisan saya di Jakarta Post dianggap anti Amerika, karena dalam tulisan itu saya dituduh menyebut Presiden Goerge W Bush sebagai “War Monger,” jawab AB.

Saya hanya terdiam bisu.

”Saya jelaskan memang saya sebut GOERGE W. Bush “War Monger” tapi konteksnya lain, karena kalimat saya diedit oleh Jakarta Post. Sudah saya terangkan,”jawab AB.

”Tapi Mas Arief tidak akan dicekal kalau ke Amerika ya, seperti Jendral Wiranto,” jawab saya menahan rasa khawatir.

”Hehehe, tidak, Saya sudah jelaskan konteks dari tulisan saya, Pak Dubesnya juga mengerti penjelasan saya. Nanti saya kirim copy artikel saya yang dimuat Jakarta Pos,” penjelasan AB memuaskan kegalauan saya.

Tapi pikiran saya mulai bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seorang Perwakilan Pemimpin Negara Adikuasa di Australia menelpon secara pribadi kepada Arief Budiman karena tulisannya di Jakarta Post. Betapa canggihnya jaringan intelegen Amerika, yang bisa memantau isi berita koran dan media–media Indonesia. Bagaimana Dubes AS di Canberra mendapat informasi tentang tulisan AB? Apakah CIA juga tahu topik atau tesis S3 AB di Harvard University tentang jatuhnya Pemerintah Sosialis Salvador Allende yang tewas oleh pemerintahan Militer Pinoche yang dibantu CIA?

Bukankah peristiwa pembunuhan terhadap Alende tanggal 11 September tahun 1973 itu mirip dengan apa yang dialami pemerintahan Sukarno pada bulan September 1965. Jendral Agusto Pinoche yang dibantu CIA menjadi diktator militer yang dikenal kejam, dan Jendral Suharto yang juga mendapat bantuan dari CIA menjadi Presiden RI selama 32 tahun. Informasi tentang dua peristiwa sejarah ini pernah dibeberkan oleh AB dalam obrolan informal dengan saya dan teman-teman dalam suasana santai di cafe dan restoran.

ISLAMIC PHOBIA PASCA BOM BALI

Setelah kejadian pemboman di Kuta, Bali, pada tahun 2001, Saya, Hila, dan teman-teman MDG (Melbourne Discussion Group) mengusulkan kepada AB untuk menyelenggarakan seminar sehari untuk mengimbangi dampak sosial Islamic Phobia. Media pers Australia memberitakan serangan teroris di Bali sampai berhari-hari dengan liputan-liputan dari berbagai ‘angle’, yang tentunya sangat mempengaruhi perasaan dan rasa keamanan rakyat Australia umumnya.

Usul untuk menyelenggarakan diskusi Islamic Phobia, disambut baik oleh AB dan kami segera mengambil keputusan untuk mengundang para pembicara, sementara AB mengurusi izin, dan menghubungi Asia Link yang menjadi sponsor utama. Kami undang organisasi pelajar dan mahasiswa PPIA, perkumpulan masyarakat Indonesia di Victoria, serta sejumlah media dan NGO.

Seminar itu adalah puncak dari kegiatan-kegiatan yang saya dan teman-teman MDG lakukan bersama. Peran, upaya dan posisi AB yang memiliki jaringan luas itu, bisa menjembatani antara komunitas non-akademi dan akademi. Artinya, sangat mudah bagi saya dan teman-teman untuk mengundang para pembicara dari berbagai disiplin untuk ikut berpartisipasi dalam seminar tersebut, karena didukung reputasi, dan komitmen AB sebagai tokoh intektual.

Seminar itu kami selenggarakan untuk mengimbangi Islam Phobia pasca Bom Bali yang dampaknya sangat ‘significantly negative’  terhadap citra Indonesia, mengingat mayoritas korban Bom Bali adalah warga Australia, yang berjumlah 88 dari seluruh korban 202 orang.

Aksi unjukrasa Menjelang Suharto Lengser
Menjelang lengsernya Presiden Suharto tepatnya hari Selasa siang, tanggal 19 Mei 1998, PPIA, organisasi pelajar Indonesia–Australia di Melbourne mengundang para mahasiswa-mahasiwi untuk berkumpul di depan gedung Parlemen Victoria. Pengumuman yang disebarkan itu, menarik para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berjumlah sekitar 600 orang. Mereka mendesak Presiden Suharto untuk segera mengundurkan diri.

Saya menjemput AB di kantornya.

“Bela nanti tidak ikut orasi? Tanya AB.
”Tidak Mas, aksi unjukrasa ini panitianya PPIA, para mahasiwa yang muda-muda, saya kurang kenal dengan mereka.”
”Lho tapi Bela mestinya diundang jadi orator?” AB menegaskan.
”Saya bukan ‘dissident’ setingkat Mas Arief?” jawab saya menyembunyikan kekecewaan.

AB menatap saya, dan sayapun mencoba menghindar tatapannya yang tajam.

Di pelataran teras Gedung Parlemen Victoria yang berarsitektur Roma menghadap Collins St, kami berjajar berhadapan dengan ratusan orang yang hadir dalam aksi solidaritas gerakan reformasi. Anak-anak muda mudi yang memakai bandana merah putih sibuk mengatur acara. Ada yang membawa video kamera, bendera merah putih, berfoto, saling bergantian, bahkan ada yang berjingkrak-jingkrak. Para pembicara satu persatu maju melakukan orasi, setelah selesai mereka disambut tepuk tangan dengan yel-yel “Hidup reformasi”, “Turunkan Suharto”.

Giliran AB maju dengan gaya yang kalem, memegang corong speaker. Saya berdiri di jajaran belakang, terharu, namun tidak memperhatikan orasi yang disampaikan oleh AB, karena badan seolah-olah beku, pikiran saya melayang, pada waktu saya orasi dalam aksi protes pemberedelan majalah Tempo, Detik dan Editor di depan GPO (Gedung Kantor POS) di Burke Road tahun 1994.

Aksi protes di Burke St berbeda, tetapi misinya sama. Bedanya para pengikutnya berkisar 200 orang, itupun hampir semuanya orang Australia, yang terdiri dari para pendukung Kemerdekaan Timor Timur, West Papua, dan simpatisan Organisasi sosialis kiri di Melbourne. Terharu, mata saya berkaca-kaca, menyaksikan tokoh 66 yang pada waktu itu mendukung Orde Baru namun hari itu AB berdiri sebagai orator menuntut Turunnya Sang Raja Orba.

Presiden Suharto Lengser

Pada tanggal 21 Mei, hari Kamis presiden Suharto lengser. Saya dan Kepala Bagian Bahasa Portugis Radio SBS, Maria Gabriella Carascalao (adik Gubernur Timor Timur Mario Carascalao) menyaksikan pidato terakhir Presiden Suharto di layar Televisi. Saya merasa terharu tidak kuat menahan air mata. Saya lari ke studio tempat rekaman, diikuti Maria. Kami berpelukan sambal menangis, ”Maria kami sama-sama korban rezim militer Suharto”.

Sore itu saya mengunjungi AB di ruang kantornya, yang tampak tidak emosional menanggapi turunnya Presiden Suharto. Seperti biasa kami berdiskusi apa yang akan terjadi terhadap Indonesia, pasca Suharto.

Saya selalu ingat komentarnya,”Jangan terlalu euphoria, karena tahun 66 begitu Orde Baru berhasil menurunkan pemerintah Sukarno, banyak teman-teman saya merasa exciting dan gembira, sehingga mereka masuk ke lingkaran kekuasaan, dan malah jadi bagian dari kekuasaan. Harus ada tokoh, pemimpin, dan aktivis yang tetap di luar pagar, sehingga pemerintahan akan tetap terkontrol dalam kerangka sistim demokrasi”.

Kenangan Pribadi yang merubah Hidup saya

Jumat sore itu, Group Diskusi Melbourne, kedatangan tamu yang menjadi nara sumber kami. Franz Magnis Suseno sedang berkunjung ke Melbourne, namun masih sempat datang karena diundang khusus. Ternyata kedatangan Romo sahabat AB sore itu menarik puluhan orang sehingga kami harus memindahkan ruangan ke ruangan yang lebih besar. Setelah Krisis Moneter dan lengsernya Suharto, suasana di kalangan mahasiswa-mahasiswa, baik di kampus-kampus dan di tempat-tempat pertemuan masyarakat Indonesia, mulai lebih terbuka. Seolah-olah kekuatan sihir Pemerintah Orba yang mencekam kita semua mulai pudar.

Para peserta diskusi makin membesar, karena para mahasiswa-mahasiswi dan masyarakat Indonesia yang biasanya tertutup atau diam selama Orde Baru sudah berani ikut berpartisipasi dalam diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh AB.

Pada diskusi sore itu, saya bertemu dengan Diana Pratiwi, seorang mahasiswi S2 (MBA- Melbourne Economic School). Dari perkenalan itu, hubungan kami berdua menjadi dekat, dan kami aktif menjadi bagian penggerak Melbourne Discussion Group yang melebarkan sayapnya melalui internet. Perkenalan saya dengan Diana akhirnya diakhiri dengan sebuah acara pernikahan yang sederhana di kantor catatan sipil di Melbourne. Saya tidak akan lupa selama hidup saya, kepada Mas Arief dan Mbak Leila Budiman, karena perkenalan kami bedua dalam diskusi itu, berlanjut membawa hidup baru bagi kami.

***

Bela Kusumah Kasim: wartawan yang tinggal di Melbourne dan berperan aktif pada masa reformasi politik masa 1998 lewat tulisan-tulisannya dan mengelola diksusi-diskusi politik.

LondonEditor

Leave A Comment