Mengheningi Kehidupan Wong Cilik yang Kompleks

Catatan Rizka Nur Laily Muallifa pada buku :

Judul :  Rumah Bambu
Penulis : Y. B. Mangunwijaya
Tahun:   Maret 2020
Penerbit:  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Dua puluh cerpen yang termaktub dalam Rumah Bambu (KPG, 2020) menggambarkan sosok pengarangnya. Sebagaimana pengantar yang ditulis oleh penyelia aksara buku ini –yang saya baca setelah lebih dulu merampungkan seluruh cerpen. Saya meminjam pendeskripsian dua penyelia aksara –Joko Pinurbo dan Th. Kushardini— terhadap sosok Romo Mangun untuk mendeskripsikan cerpen-cerpen karangannya.

Cerpen-cerpen Romo Mangun dalam buku kumpulan cerpen Rumah Bambu terasa lembut, terbuka, kadang juga keras. Tegar, perkasa, sekaligus sensitif. Sederhana sekaligus kompleks, bahkan cenderung rumit. Hangat, humoris, sekaligus sinis. Toleran, kritis, mudah terharu dan trenyuh dengan penderitaan orang lain, serta mudah tersentak oleh segala bentuk penindasan (hlm. ix).

Sebagian besar cerpen memilih tokoh wong cilik dengan pernak-pernik kehidupannya. Cerpen pembuka, Tak Ada Jalan Lain memiliki tokoh bernama Baridin. Lelaki muda yang cuma punya satu jalan untuk menghidupi ibunya, yakni dengan menjadi pengamen wadam. “Baridin bukan wadam bukan priwa, bukan psikopat ataupun maniak seks. Dia biasalah, pemuda penganggur yang serba kalah karena lemah lembutnya dalam kancah pertarungan nasi dan nafkah. Ibunya menangis ketika Baridin memberitahukan niatnya untuk serba halal menggaet duit orang-orang di Pecinan selaku pengamen wedok. Tetapi akhirnya toh kain dan setagen, anting-anting, dan kalung 6 karat yang pernah laku dijual dipinjamkan anaknya.” (hlm. 3)

Jalan toh tak ada yang lain, ibu yang dalam hati tak ikhlas harus juga melepas kepergian anaknya sebagai pengamen wadam. Cerpen ini tidak cuma memberi pengisahan tentang kehidupan Baridin dan ibunya, tetapi juga menggambarkan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Baridin misalnya perlu meminjam wig dan kebaya, meminta sedikit bedak dan lipstik, serta numpang berdandan di kamar pelacur yang tak lain adalah pacar dari kawannya yang seorang gali.  Betapa sebenarnya yang tidak beruntung dalam laga pencarian rezeki bukan cuma Baridin seorang, tetapi juga orang-orang di sekelilingnya.  

Humor dalam Kegetiran

Selain Tak Ada Jalan Lain, beberapa cerpen juga sarat dengan kehidupan wong cilik yang karib dengan kegetiran. Kendatipun demikian, kegetiran yang ada tidak dibiarkan berlarut-larut sehingga akan berdampak pada kesedihan yang terlalu dalam bagi para pembaca. Selalu ada yang bisa memantik tawa terkikik-kikik atau kalau bagi pembaca santun mungkin ya tersenyum lebar mendapati kisah-kisah getir yang diramu Romo Mangun hampir di setiap cerpennya.

“…tiba-tiba kriiiing! Terkejut seperti digigit marmut aku terbangun. Sejak kapan aku punya telepon? Pikirku baur. Ternyata Lilian, gadis pujaanku, putri rektor, duduk di tepi ranjangku. Senyumnya secerah Taman Ancol, yang bisa menghimbau Pak Panggabean, Sudomo sekali pun. Aduh, kejutan teknologi apa ini, bengongku tak habis-habis. Sebab, masih kemarin malam dia kulihat berangkulan kohesip sekali dengan juara angkat besi Kampus Asean, si Badak tengik itu. Kucubit lenganku yang kurus kayak tangkai gitar. Kucubit juga dadaku yang berdisain gambang kulintang. Aku tidak mimpi. Ah! Dalam bingung-bengongku menaung, aku dicium lembut, sopan menurut adat Timur, tetapi modern ilmiah biologis. ” (hlm. 117-118).

Itulah pembuka cerpen berjudul Renungan Pop, satu dari tiga cerpen dalam buku Rumah Bambu yang pernah diterbitkan media massa. Cerpen itu didominasi percakapan antara tokoh Bongki, mahasiswa tingkat II yang indekos di kawasan kumuh di Tanjung Priok dengan seorang yang disebut Kolonel Gidion. Dalam percakapan telepon itu, dikisahkan bahwasanya Bongki dan sekian kawannya di kampus mendapat amanat masuk dalam jajaran pemerintahan. Konon, kursi pemerintahan akan seluruhnya diserahkan kepada Generasi Muda. Bongki sendiri akan menjadi Menteri Sosial. Salah satu fasilitas yang ia dapatkan ialah sopir pribadi, yang ternyata adalah Harold Untahurug, atlet angkat besi yang pernah ia dapati berangkulan dengan Lilian pacarnya.

Cerpen ditutup dengan kabar pernikahan Lilian dan atlet angkat besi yang ia sebut Badak tengik. “Telah menikah dengan bahagia: Lilian Kampusiawati dengan Harold Untahurug. Aku mulai melihat puisi tersenyum dalam komposisi hijau enceng gondok dengan kontras sintetik  yang wahai, betul, semerbak memarfumkan de la Joie de Paris. Dan bukankah tumpukan besi tua dan drum-drum bekas aspal PTUL itu ekspresi strukturalisme estetis yang transparan menggetarkan warta senja yang menawarkan suatu fajar baru? Adieu Lilian! Berbahagialah Harold! Kupersembahkan bunga anggrek padamu, o para killer tersayang.” (hlm. 127).

Humor-humor khas Romo Mangun antara lain mewujud dalam istilah atau pendeskripsian mengenai suatu hal. Ia misalnya menyebut gladi kotor dengan gladi reged, becak terjungkal disebutnya akan menjadi tulisan Cina, mulut mecucu disebut mirip buldoser mini, mata jengkol untuk menggambarkan mata bulat, seseorang yang cerewet disamakan dengan atap bocor, berkalung-gelang tali ari-ari untuk mengganti perumpamaan makan asam garam kehidupan, angka-angka Marxis untuk menyebut nilai rapor yang merah warnanya, konser keroncong raya untuk menyebut kondisi lapar, ibu Kalkun, ibu Tenggorokan Tokek, dan lain sebagainya-sebagainya.

Perasaan yang Lembut

Selain getir dan humoris, sekian cerpen Romo Mangun juga menggugah perasaan dasar kemanusiaan kita, empati. Dalam cerpen berjudul Cat Kaleng, mungkin Romo Mangun sendiri turut hadir sebagai salah satu tokohnya. Cerpen ini berkisah tentang Siyah, gadis berumur 9 tahun yang suatu hari datang untuk menjual sekaleng cat kepada Romo. Romo yang tahu bahwa cat itu dicuri dari proyek pembangunan jembatan di samping desa bermaksud memarahi atau minimal memberi khotbah kepada gadis kecil itu. Tapi toh pada kenyataannya, Romo tak sampai hati memarahi Siyah. Terhadapnya, hanya diajukan pertanyaan-pertanyaan retoris yang dijawab sekenanya oleh Siyah.

Romo akhirnya memberi Siyah sejumlah uang dan menyuruh gadis kecil itu membawa pulang cat yang ia bawa. Keesokan harinya, Siyah dikabarkan sudah ditahan polisi karena mencuri cat di proyek dan betapa menyesalnya Romo. “Sangatlah terkejut aku. Ah, semua salahku. Mengapa kaleng sekilo itu tidak kuterima saja. Ternyata aku toh masih terlalu egois dan hanya cuci tangan saja.” (hlm. 15).

Begitu juga dengan tokoh Kasirin si kutu buku dalam cerpen berjudul Colt Kemarau. Kasirin anak orang tak punya, ayahnya seorang penebang kayu yang kian hari kian langka mendapat pesanan. Dalam kehidupan keluarganya, Kasirin tentu lebih dikenal sebagai pemalas. Membaca buku tidak termasuk pekerjaan produktif bagi keluarga yang serba kurang untuk makan sehari-hari. Suatu hari Kasirin kena tipu, saat sedang menggembalakan domba, tiba-tiba ia dimintai tolong membelikan bensin oleh pengemudi colt yang lewat. Begitu Kasirin sampai ke tempat semula dengan dua liter bensin di tangannya, colt itu sudah tidak ada, begitupun dengan sebelas ekor dombanya.

“…ia tidak takut dipukuli ayahnya atau diumpat abang-abangnya. Hanya jika nanti Simbok menangis dan kedua mata kelinci adiknya Siyem terlonong-lonong basah, barulah terasa penderitaannya. Kasirin ikhlas dihukum seberat apapun. Yang membuat hatinya hampa hanyalah: mengapa peristiwa sekejam itu dapat terjadi? Itulah, di bawah sadar, yang membuat Kasirin menangis lirih, seperti arus selokan di tepi jalan itu.” (hlm. 38).

Sementara cerpen Rumah Bambu yang pilih sebagai judul buku ini menghadirkan rupa-rupa perasaan bagi pembaca. Bagaimana Parji sebagai seorang suami dan menantu akhirnya berhasil memiliki rumah kontrakan sendiri. Pelbagai perabotan dan tampilan luar rumah dipertimbangkannya betul. Supaya kelak, ketika Pinuk istrinya dan bayi pertamanya pindah dari rumah mertua ke rumah baru itu akan bangga dan nyamanlah mereka.

Tetapi yang terjadi sungguh di luar prediksi. Pinuk mengklaim rumah kontrakan itu tidak sehat untuk bayi karena lantainya tidak terbuat dari ubin. Tetapi Parji toh sulit marah kepada istrinya yang muda dan tergolong cakap itu. Mengimbangi gaya bicara Pinuk yang tinggi, Parji menahan dirinya untuk tidak terprovokasi. “…bayi kita ini kan bayi Jawa yang, itu lihat, gemuk dan sehat. Mana, tanyakan ibu-ibu tetanggamu, ada bayi mati cuma karena lantainya bukan ubin.” (hlm. 95).
***

Rizka Nur Laily Muallifa. Reporter media daring dan sukarelawan Podcast Jangan Nyasar. WordPress:   bacaanbiasa.wordpress.com, Instagram:            @bacaanbiasa