Walimahan – Tosca Santoso

Bulan sedang murah hati. Kuningnya memendar turuni bukit. Singgah sekelebat di kebun kopi. Kemilau terangi wajah Neng, yang malam itu tak kalah cantiknya. Indah malam purnama, bersanding kecantikan gadis tanah Pasundan.  Ia sedang bungah. Duduk berdua dengan Bandi, kekasihnya. Sejuk, di antara lebat buah kopi yang hampir merah. Waktu panen tak lama lagi.

“Neng sudah bilang ke Abah?” tanya Bandi membuyarkan angan. Ini bukan kali pertama, Bandi mendesak. Ia ingin Neng segera kasih tahu Abahnya, kalau keluarga Bandi bermaksud datang meminang.

“Tunggulah panen kopi selesai,” kata Neng. 

Sebulan lagi, kopi yang merah mulai dipanen. Kalau tiap minggu dipetik, panennya akan tuntas tiga bulan kemudian. Neng tak ingin memberi beban pada Abahnya. Ia ingin panen selesai, baru bicara pada ayahnya, meminta restu tentang rencana Bandi melamarnya.

Neng mengenal Bandi, hampir sepanjang umurnya. Mereka lahir, dan tumbuh bersama di Kampung Kenanga, di lereng Gunung Halang. Tempat kopi ditanam sejak zaman kakek moyang mereka diperbudak Belanda. Sedari kecil, mereka telah bersama membaui wangi bunga kopi, gembira dalam semaraknya panen. Dan terbiasa menggantang harapan : segala hal dikaitkan pada harga kopi yang baik bila panen tiba.  

Ia sama sekali tak ragu menerima lamaran Bandi. 

Hanya perlu menunggu. Tunggu panen selesai. Semoga harga baik.  Dan tabungan mereka menebal. Mestinya Bandi paham kebiasaan Kampung Kenanga karena mereka tumbuh bersama kopi.

Hening. Neng tak ingin bersilang pendapat lagi. Bandi pun tak hendak mendesak. Masih ditaburi cahaya purnama, pemuda itu hanya lirih berbisik : ”Aku tak banyak waktu. Setelah walimahan, mau berangkat.”

“Jadi juga Akang ke kota?” 

“Iya. Wa Dasman sudah masukkan Akang kerja di restoran,” ujar Bandi.

***

Seperti banyak keluarga di Kampung Kenanga, kebun kopi Pak Kunang, Ayah Bandi, kian lama kian sempit. Ada saja keperluan yang memaksa petani menjual kebun. Pernah karena lahiran anaknya, Kunang melepas sebagian lahan. Kali lain karena istri yang sakit dan butuh biaya berobat. Kini, Kunang kesana-kemari, menawarkan kebun kopi. Bahkan tak mau tunggu panen. Tekadnya sudah bulat, ingin membiayai walimahan Bandi. Demi sulungnya, ia siap melepas kebun kopi.

Kabar itu cepat menyebar. Dari satu mulut ke telinga lain. Dari rumah ke kebun, Kampung Kenanga tak punya sekat untuk membendung informasi sepenting itu. Kunang juga menawarkan sampai ke luar kampung. Berharap ada bandar-bandar sayur yang minat pada kebun kopinya. Kebunnya ada empat patok, kalau dilepas dua  patok, cukuplah membiayai walimahan sederhana. Kunang ingin kewajiban pada anaknya tuntas. Sebelum Bandi berangkat kerja ke kota.  

Abah Sulaeman, ayah Neng, mendengar kabar itu dengan prihatin. Rasa kehilangan.  Kunang tetangga dan teman baiknya sejak muda, ia tak tega kalau kebun temannya itu terus-menerus susut. Apa pula yang bisa dilakukan petani, tanpa kebun. Seperti nelayan kelihangan laut. Mereka akan kehilangan gairah hidup.  Bahkan, kehilangan alasan untuk bangun di pagi hari.  

Abah berusaha menyimpan risau itu sendiri,  tapi tak sanggup. Ia tanyakan itu pada Neng, karena sudah lama tahu anaknya dekat dengan Bandi.

“Jadi kenapa harus dijual kebun Kang Kunang teh? Sayang hampir panen,” ujarnya. 

Neng tak menyahut. Ia punya gelisahnya sendiri. Apakah ini waktu yang baik untuk menyampaikan pesan Bandi. Ia masih berharap, hal itu dapat ditunda sampai setelah panen.

“Apa Bandi tidak cerita?” desak Abah.

“Dia bilang mau ke kota Bah,” kata Neng.

“Jadi kalian kumaha?” Abah bertanya memudahkan percakapan. Sebagai orang tua, di kampung kecil, tak sulit bagi Abah meraba hubungan Neng dan Bandi kian serius. Mata tuanya cepat menangkap, kalau gadisnya pun telah menyandarkan hati pada Bandi, sulungnya Kunang.

“Ndak tahu Bah. Kata Kang Bandi, ayahnya mau datang bicara sama Abah. Saya bilang, sebaiknya setelah panen selesai,” ujar Neng.

“Tapi kalau sampai mau jual kebun, pasti sudah mendesak,” Abah bergumam lirih.

Ia teringat pengalamannya sendiri. Ketika harus melepas kebun kopi, saat Rustam, kakaknya Neng menikah. Ia lepas dua patok kebunnya senilai Rp. 8 juta. Cukup untuk modal walimahan. Tanpa pesta, tapi resmi nikah secara agama. Kebun yang dilepas itu, secara hukum memang bukan tanah milik petani. Mereka menggarap saja di hutan negara. Jadi, yang dijual bukan tanah bersertifikat tapi hak garap, dan tanaman kopi di atasnya yang sudah produktif. Maka harganya pun bukan harga jual tanah. Tetapi harga jual kebun.

Kebun itu diwarisi dari kakek-kakek-kakeknya. Bermula ketika Belanda memaksakan tanaman kopi di Tanah Pasundan. Talun dibabati untuk komoditi kopi yang jadi andalan ekspor Belanda. Termasuk di kaki Gunung Halang. Mereka diwajibkan tanam kopi, satu keluarga 1.000 batang. Empat tahun merawat tanpa diupah. Setelah panen, kopi disetor ke kabupaten. Harga beli ditentukan sepihak oleh kompeni. Masa perbudakan itu, ironisnya sering dianggap sebagai kejayaan kopi dari Tanah Pasundan.

Lama sesudahnya, generasi berganti generasi, kopi tetap ditanam di Gunung Halang. 

Tak lagi pakai cambuk kompeni yang dibantu sepenuh hati oleh bupati yang juga dapat untung besar.  Tetapi hidup Abah dan teman-temannya tak kunjung sejahtera. Tiap kali ada kebutuhan penting, seperti menikahkan anak, sepatok-dua patok kebun terpaksa dilepas ke pemilik uang. Apes-apesnya, ketika kebun tak lagi jadi milik mereka, para petani di Kampung Kenanga akan terpaksa kuli di kebun orang, menjual tenaga – satu satunya aset yang masih mereka punya.  Mereka dibayar Rp. 50 ribu sehari, setara harga secangkir kopi di kafe-kafe kota besar.

Tak peduli kerisauan Abah,  Kunang sukses menjual kebunnya. Sepekan kemudian, mereka adakan walimahan untuk Neng dan Bandi. Akad nikah yang mengesahkan mereka jadi sepasang suami istri. Pernikahan mereka dimateraikan, dengan kebun yang lepas dari tangan keluarga Kunang. Beberapa hari setelah walimahan, Bandi berangkat ke kota. Ia bekerja jadi pelayan restoran, mengikuti ajakan pamannya.  

Bandi tinggalkan istrinya, tanpa menunggu kopi menjadi merah. 

***

Tiap pagi, Neng pergi sendiri ke kebun kopi. Sejak Bandi ke kota, ia tak lagi mendatangi kebunnya sore-sore atau sengaja menunggu purnama di sana. Tak pernah lagi. 

Perjalanan ke kebun hanya pagi hari : membawa makan untuk abah, dan membantu merawat kopi yang hampir panen. Setiap hari sepanjang pekan, kecuali Jumat – hari libur mereka, Neng khusuk menemani Abah di kebun kopi.

Menjelang panen, kopi makin perlu dirawat. Daun-daun yang menutup biji, dipangkas. Supaya biji terpapar matahari dan lebih cepat matang. Dahan-dahan air, yang menghabiskan makanan tanpa terlihat calon bunga, disingkirkan dari batang. Tangannya trampil memegang gunting. Membuat pohon kopinya terlihat ramping.

Ia betah memandangi biji kopi yang berubah warna. Mula-mula hijau, lalu kuning, dan kemudian memerah. Tentu tidak dalam sehari. Tapi, ia hapal tahap-tahap itu. Dan semakin mendekat merah, hatinya lebih berdebar. Abah biasanya juga makin bersemangat menjelang panen. Tapi tidak kali ini.

“Harga jatuh. Murah sekali,” kata Abah.

Ia mendengar bandar-bandar yang biasa menampung kopi petik merah, membuka harga hampir separo dari tahun lalu. Gelondong basah dari kebun panen lalu dibeli Rp. 8.000 per kilo. Sekarang hanya Rp 5.000,-. Itu pun tak semua panen dapat ditampung. Anjloknya harga kopi ini memuat petani se Kampung Kenanga lesu. Mereka tak paham, kenapa tiba-tiba harga turun drastis. Panen setahun sekali yang lama dinanti, menjadi hari-hari yang pucat tanpa semangat.

“Tapi ini harus tetap dipanen Bah. Kalau tidak, akan busuk di pohon,” kata Neng. Seolah Abahnya tak tahu, kapan kopi harus dipetik. Abah tak menyahut. Ia hanya mengangguk. Kopinya akan terpaksa  dipanen, berapa pun harga dari bandar.

Musim panen tahun ini, Kampung Kenanga terasa sepi. 

Orang orang memetik kopi tanpa bicara. Tak ada gurau juga tetabuhan yang biasa dimainkan anak-anak muda mengiring panen. Bahkan ada sedikit cemas. Mereka mendengar kabar dari kota, tentang sejenis penyakit yang menghinggapi orang dengan dadakan. Menular dengan cepat. Sejenis wabah. Mematikan. Membuat warung-warung tutup. Tempat kerja ditutup. Tak banyak yang beli kopi. Itu sebabnya, harga gelondong juga ambruk. 

Kabar pagebluk itu tiba di Kampung Kenanga, bersama harga yang anjlok. Tapi, kopi tetap harus dipanen. Kalau terlambat akan terlalu matang. Fermentasi tak terkendali di buahnya sendiri. Neng memetik kopi hampir tanpa gairah. Sudah tiga bulan Bandi ke kota. Makin hari makin jarang kabar darinya. Kalau masih ada paket di telepon, Neng rajin bertanya kabar. Sekarang paket telepon Neng jarang diisi. Panen kopi tak banyak hasilnya. Ia harus berhemat membeli pulsa.

***  

Suatu sore di Kampung Kenanga. Bandi terlihat pulang dari kota. Langkahnya gontai menenteng tas tangan. Tas yang sama, yang dibawanya ketika berangkat kerja di restoran, empat bulan lalu. Neng menyambutnya di halaman. Dengan hati berbinar.   Wajah cantiknya menghapus letih yang digendong Bandi dari kota.

Dengan setumpuk malu, ia beranikan diri pulang kampung. Tempat asal yang pernah dicampakkannya ketika ia bermimpi rezeki lebih baik di kota.  Kampung yang ditinggalkan, dengan kebun yang makin menyempit.

“Restorannya tutup. Sudah dua bulan Akang menganggur di kota. Lebih baik pulang,” katanya.  Neng tak hendak menyela. Ia sudah lega, suaminya pulang dengan selamat. Empat bulan berpisah, rasanya bertahun-tahun. Apalagi ketika kabar dari Bandi makin jarang didengarnya.

“Banyak orang sakit. Demam, sulit nafas dan terus meninggal. Di restoran tempat akang kerja, ada yang sakit. Jadi restoran ditutup. Lagipula pengunjung juga sepi. Orang-orang kota takut keluar rumah,” kata Bandi. 

Wabah yang tak dipahami, memungkas harapannya mengais rezeki di luar kebun.  Ia pun sedikit merasa jeri. Ada ketakutan ketika melihat teman sekerjanya tiba-tiba mati.  Kota seperti rimba dengan hantu kematian yang belum  pernah dikenalnya. Nyawanya bisa saja tiba-tiba melayang, tanpa sempat bertemu Neng. Itu sungguh bukan hal yang diinginkannya. 

Panen kopi sudah selesai. Sehemat apapun Neng mengatur, uang hasil panen kali ini tak akan cukup untuk dapur, sampai panen kopi lagi nanti.  Panen ini, bahkan tak cukup untuk membeli pupuk. Mengganti hara yang dibutuhkan tanamannya.  Dulu, kakek dan juga abahnya, selalu berpesan, “ kalau kita petik dua kilo gelondong dari pohon kopi, kembalikan pupuk kandang empat kilo. Supaya tahun depan lebih lebat buahnya.”  

Kini, hasil panennya tak cukup untuk membeli pupuk sebanyak yang diperlukan. Jadi, tahun depan dipastikan panen akan kian berkurang. 

Bandi dan Neng melewatkan sore yang muram di halaman rumah. Kabar tentang pagebluk sesekali terdengar di radio. Tetapi kemurungan muncul  karena harga kopi yang buruk. Dan diperburuk oleh lepasnya kebun yang dijual untuk biaya walimahan mereka. Kebun yang hilang, bagi petani adalah semacam tanda penyerahan kaum yang mencoba bertahan dari kepunahan. 

Dan memang, sehari-hari mereka telah dipaksa menanggung kekalahan demi kekalahan. 

***

Catatan
Walimahan : kenduri kecil, syukuran atas akad nikah yang mengesahkan pasangan suami-istri.
Patok : ukuran luas, sekira 400 m2
Talun : kebun-hutan. Cara mengelola tanah yang kombinasikan tanaman hutan dan semusim.
Kumaha : bagaimana?

Tosca Santoso, hampir tiga dekade berkarir sebagai wartawan. Pernah mengelola terbitan AJI, Independen, dan mendirikan Kantor Berita Radio, sekarang  menikmati pensiunan yang asyik menanam kopi bersama petani Sarongge. Kopi untuk merawat hutan dan menambah penghasilan petani. Di sela-sela mengolah Kopi Sarongge (https://kopisarongge.com), ia menulis fiksi, antara lain : Sarongge (2012) dan Ladu (2016). Sesekali masih liputan untuk diterbitkan sendiri, misalnya : Cerita Hidup Rosidi (2016), Lima Hutan Satu Cerita (2019). Pandemi membuatnya belajar menulis cerita pendek. Email : kopisarongge@gmail.com  IG : toscasantoso