Tarek Pukat di Gampong Jawa, Pesisir Aceh – Fakhrurrazi

1. Gampong Jawa

Pantai Gampong Jawa, terletak sekitar 15 menit perjalanan motor dari Banda Aceh, ibukota provinsi ter-Barat Indonesia dan hampir tiga jam penerbangan dari Pulau Jawa. 

Gampong artinya kampung, dan Jawa merujuk kepada orang Jawa, yang aslinya berasal sekitar 2.500-an kilometer dari Gampong Jawa. 

Kawasan ini pada awal abad ke-16 menjadi tempat singgah tentara Kerajaan Demak pimpinan Pati Unus yang berperang melawan tentara Portugis di Malaka. Pasukan Pati Unus kalah dalam perang tesebut dan pesisir Aceh menjadi tempat untuk memulihkan kekuatan. 

Kalah perang, tak semua tentara Jawa pulang ke tanah asalnya. Sebagian memillih  menetap dan beranak pinak. Maka lahirlah Gampong Jawa, walau tak semua penduduknya berasal dari Jawa. Di kampung nelayan di pesisir Banda Aceh, keturunan tentara Kerajaan Demak berbaur dengan penduduk setempat. 

Pemerhati Budaya dan Sejarah Aceh, Cek Midi atau Tarmizi Abdul Hamid, memperkirakan 75% warga Gampong Jawa turunan tentara Kerajaan Demak itu hilang terbawa air bah dalam bencana tsunami 2004 lalu. Sekitar 25% lagi selamat karena sedang tidak berada di rumahya ketika gelombang menghantam Gampong Jawa dan kampung-kampung pesisir lainnya. 

“Jadi yang sekarang ini adalah penduduk baru atau pendatang,” jelas Cek Midi

Para pendatang baru pasca-tsunami berbaur dengan komunitas nelayan di bawah panduan Panglima Laot. Gelar ini dijpegang  secara turun temurun, meski ada juga yang terpilih berdasarkan pengalamannya melaut. Selain menjadi penengah jika terjadi sengketa antar sesama nelayan, Panglima Laot juga punya wewenang untuk melarang nelayan melaut pada hari-hari tertentu, antara lain pada hari Jumat.

2. Tarek Pukat

Tarek Pukat adalah tradisi penangkapan ikan sejak masa Kesultanan Aceh, yang masih dilakukan hingga saat ini, dan dikampanyekan sebagai salah satu tujuan wisata di Banda Aceh.

Beginilah persisnya Tarek Pukat. 

Beberapa nelayan menggunakan perahu membawa pukat ke laut, sektar 1,5 km dari bibir pantai. Di laut lepas itulah pukat dilepaskan.

Di pantai, belasan nelayan berbaris dengan mengikat tali pukat ke pinggang masing-masing. Sambil sesekali berteriak menghitung ‘satu, dua, tiga’ barisan nelayan itu menarik pukat yang dilepas di laut tadi secara serentak. Semuanya pria dewasa walau kadang satu dua remaja ikut juga menarik pukat.

“Beban terasa ringan karena dilakukan secara bersama-sama, dengan teriakan yang membakar semangat,” ungkap Cek Midi.

Walau tampak seperti sebuah peragaan seni-budaya yang disaksikan banyak pengunjung, Tarek Pukat adalah kerja berat untuk mencari nafkah. Pukat yang berisi ikan semakin mendekat ke pantai akan semakin berat dan biasanya diperlukan waktu sekitar satu jam sejak mulai pertama kali menarik pukat yang memerangkap ikan sampai di daratan. 

Biasanya nelayan mulai menyebar pukat pukul 14.00 atau setelah salat Ashar. Dan Tarek Pukat dilakukan setiap sore enam kali seminggu, selain Jumat. Jika cuaca buruk, para nelayan bermufakat untuk memutuskan untuk tetap menarik pukat atau membatalkannya.

Hasil penarikan pukat beragam setiap hari, juga tergantung musim, namun umumnya antara delapan sampai 10 keranjang ikan segar. Sebagai kerja gotong royong, tangkapan ikan dalam pukat akan dibagi untuk sesama nelayan setelah dijual langsung di pantai 

3. Wisata Tarek Pukat di Gampong Jawa

Sebagai pekerjaan mencari nafkah sehari-hari, Tarek Pukat juga cerminan saling bantu masyarakat pesisir, jelas Cek Midi. 

“Melalui Tarek Pukat ada pesan sosial dan pendidikan bahwa mencari nafkah di laut itu perlu bersatu.”

Kini  ada tambahan pesan lain Tarek Pukat: pariwisata yang partisipatif.

Tarek Pukat

Saban sore, -kecuali Jumat- pantai sepanjang Ulee Lheue-Gampong Jawa tak pernah sepi pengunjung. Mereka bukan hanya menonton, memotret, atau berfoto narsis, namun bisa ikut menarik pukat, jika siap berkeringat dan berkotor baju karena harus melilitkan tali pukat ke pinggang. Bagi yang tak mau berkeringat, bisa sekedar ikut mengumpulkan tangkapan ikan maupun langsung membelinya.   

Tapi Tarek Pukat bukan satu-satunya wisata di pantai Gampong Jawa.

Terletak di ujung Pulau Sumatra, orang bisa menikmati pemandangan jauh ke Pulau Weh dan Pulau Aceh dengan siraman sinar merah matahari yang terbenam. 

“Selain itu juga kami bisa menyaksikan sunset. Ini menjadi daya tarik pengunjung, juga tarik pukat sangat keren dijadikan objek foto lanskap. Kita bisa melihat tarik pukat sambil menyaksikan matahari terbenam,” ungkap seorang pengunjung, Mufti Tamren.

Dan mana mungkin ada wisata di Aceh tanpa makanan. 

Di sepanjang jalan menuju pantai Gampong Jawa, giliran pedagang jajanan yang berbaris: ada pisang. goreng, sate, siomay, kelapa muda, jagung bakar maupun kopi Aceh yang tersohor. Bayangkan, menikmati jajanan nikmat dan kopi hangat sambil menunggu sunset tenggelam dipeluk bumi.

Jadi jika ke Aceh, jangan lupa berwisata ke Pantai Gampong Jawa, sekaligus ikut langsung menjaga tradisi Tarek Pukat.
***

Foto-foto oleh Fakhrurrazi

Fakhrurrazi, lahir di Alue Sungai Pinang, Kabupaten Aceh Barat Daya. Lulus dari Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara tahun 2019 lalu, kini bekerja sebagai jurnalis di Banda Aceh.