Eskalator di Atas Tartarus – Liswindio Apendicaesar

Hari itu adalah hari yang sama seperti setiap harinya, adalah hari yang akan berlalu oleh hujan atau sengangar matahari, adalah hari yang diisi oleh curam tanjakan dan peluh, adalah hari yang tidak akan pernah mencapai tujuannya, dan sebuah batu akan terus menaik-turuni bukit besar dan tinggi berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu kali. 

Hari itu seperti halnya hari-hari lain sebelumnya, entah sudah berapa ribu atau puluh ribu atau ratus ribu tahun berlalu, Sisifus akan tetap sibuk berusaha mendorong batu besar di hadapannya menuju puncak bukit. Lalu batu itu akan jatuh ke dasar bukit sesaat dia hampir sampai pada tujuannya, untuk kemudian didorong lagi oleh Sisifus menuju puncak bukit. Sebuah kisah yang tak akan pernah berakhir kecuali jika Tuhan mengampuni Sisifus atau memutuskan dunia berakhir.

Sisifus tentu tidak pernah menghitung sudah berapa lama dia melakukan itu semua sehingga dia tidak tahu seperti apa peradaban dunia saat ini. Sisifus tidak tahu tahun berapa ini atau Dewa apa yang saat ini paling populer disembah dan diberikan persembahan oleh manusia. Tentu saja yang dipedulikan dan dicita-citakan Sisifus hanya agar batunya sampai ke puncak, berusaha yakin suatu hari tujuannya tercapai, dan fokus pada tujuannya tersebut. Sampai suatu hari segerombolan manusia modern mengeriapi bukitnya.

“Besar sekali bukit ini, Pak Mandor,” kata seorang pekerja A.

“Pasti akan butuh waktu lama menyelesaikan pekerjaan ini,” sahut pekerja B.

“Aku tidak yakin kita bisa selesai tepat waktu,” tambah pekerja C.

“Sudah, jangan banyak bicara! Segera kerjakan saja. Semakin banyak mengeluh, semakin tidak menghasilkan apa-apa.”

Setelah Pak Mandor membentak, semuanya segera mengambil peralatan mereka dan mulai mengerjakan bagian masing-masing. Pak Mandor memang terkenal sangat galak dan disiplin, tidak suka berbasa-basi, dan tampaknya seluruh hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Tidak terhitung sudah berapa gedung pencakar langit yang telah dibangun yang dimandorinya. Perusahaan-perusahaan kontraktor terkenal hampir selalu memintanya menjadi mandor setiap ada proyek pembangunan agar cepat selesai dengan hasil sesuai yang diharapkan.

Dari tengah-tengah bukit, sambil menahan batunya, Sisifus melihat bukitnya dihancurkan oleh beragam peralatan yang tidak dipahaminya. Tentu dia tidak memahami itu sebagai peralatan. Awalnya dia mengira ada Titan, atau monster-monster yang entah berasal dari mana, berusaha menghancurkan bukit yang telah sekian lama dihuninya ini.

Sisifus sesungguhnya tidak begitu keberatan kehilangan bukit, toh sebenarnya bukit ini bukan rumah baginya, tapi penjara. Sudah lama sekali dia tidak memiliki rumah. Hal yang membuat khawatir Sisifus adalah kemarahan Tuhan, karena Sisifus harus terus berada di bukit ini mendorong batu ke puncak sampai —seandainya memang ada— kiamat (seandainya tidak ada, maka celakalah Sisifus).

Apabila bukit hancur, lalu apa yang harus dilakukan Sisifus? Ke mana lagi batunya harus didorong?

“Aku harus memberi tahu mereka soal ini. Jangan sampai monster-monster itu mengundang kemurkaan Tuhan.“

Maka Sisifus memutuskan menuruni bukit bersama batunya. Agak disayangkan sebenarnya, karena cukup sulit dan butuh waktu yang sangat lama untuk mendorong batu besar tersebut sampai ke tengah bukit. Namun, apa pedulinya, toh Sisifus tidak akan pernah mencapai puncak, dan entah bagaimana akhirnya batu itu tiba-tiba sudah ada di kaki bukit lagi dan Sisifus harus mendorongnya dari awal. Jadi tidak apalah menggelinding-turunkan batu walau baru sampai setengah perjalanan.

Para pekerja terkejut ketika melihat ada sebuah batu yang sangat besar menggelinding ke arah mereka. Bisa rusak mesin-mesin dan segala macam peralatan yang sudah mereka pasang di sekitar untuk meratakan bukit itu. Pun demikian, tidak cukup waktu untuk menyelamatkan semua mesin-mesin berat itu, lebih baik mereka melarikan diri demi menyelamatkan diri mereka sendiri.

“Lekas lari! Selamatkan diri kalian! Cepat!” Pak Mandor pun segera memberi komando agar semua pekerjanya tidak ada yang perlu kehilangan nyawa. Meskipun galak dan sangat berorientasi pada hasil pekerjaan, Pak Mandor ternyata memiliki jiwa pemimpin yang memerhatikan para pekerjanya.

Semua pekerja segera lari kocar-kacir. Namun, tepat di saat batu itu hampir sampai di kaki bukit, salah seorang pekerja terjatuh dan batu itu tepat mengarah kepadanya. Dia berteriak memanggil nama ibunya. Semua temannya berteriak memanggilnya, “Pekerja eeeeeeF!”


Tiba-tiba batu itu berhenti dengan jarak satu kaki dari Pekerja F. Semua orang tercengang. Berhentinya batu tersebut sangat mendadak dan tidak masuk akal. Batu tersebut menggelinding dengan sangat cepat dan semakin cepat, tapi tiba-tiba berhenti begitu saja seolah mengabaikan fisika momentum.

Di atas batu itu, ada seseorang tinggi besar dan tidak berbusana berdiri tegak. Tubuhnya tampak kurus sehingga ruas-ruas tulang iganya dapat terlihat, tapi lengannya dan kakinya kekar berotot walau tidak terlalu besar. Kulitnya seperti seorang berkulit putih yang terpapar sinar matahari cukup lama sehingga menjadi matang kecoklatan.

Semua pekerja termasuk Pak Mandor menjatuhkan rahang mereka seraya menatap pria yang berdiri di atas batu itu. Pria di atas batu itu pun menatap balik mereka. Dia agak kebingungan ketika melihat orang-orang belarian keluar dari perut monster-monster baja dan kini terdiam menatapnya dengan mata yang penuh curiga.

Pria itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia tidak bisa keluar dari perimeter kaki bukit tepat di mana batu di bawah kakinya berhenti menggelinding, tapi dia merasa harus menyelamatkan manusia-manusia di hadapannya dari monster-monster baja yang hendak memangsa mereka dan menghancurkan bukitnya.

“Apa kalian baik-baik saja?” Sisifus tampaknya tidak bisa memikirkan kata-kata yang lebih baik dari menanyakan kabar, dan tentu pertanyaanya menambah tatapan curiga dari semua pekerja dan Pak Mandor.

Bukankah yang seharusnya bertanya-tanya atas semua hal ini adalah para pekerja dan Pak Mandor? Mengapa dia telanjang dan menuruni bukit mengendari batu? Sedang apa dia di bukit besar kosong dan tak berpenghuni tersebut? Apakah dia baik-baik saja dengan proporsi tubuhnya yang tampak agak tidak normal, dengan wajahnya yang penuh rambut yang sepertinya tidak dicukur bertahun-tahun, dan rambut di kepalanya yang jelas terlihat sangat kering?


“Namaku Sisifus. Kalian siapa? Apakah monster-monster ini telah menyakiti kalian dan membawa kalian ke sini?“ Sisifus masih berusaha mencairkan suasana dengan gesturnya yang sesungguhnya canggung. Namun, kita harus tetap menghargai usahanya. Tiba-tiba Sisifus tersadar bahwa monster-monster baja tersebut tidak lagi bergerak sejak manusia-manusia ini keluar dari perut mereka.

Mereka semua akhirnya sama-sama terdiam dan saling mencurigai. Tidak ada yang bergerak atau bersuara selama berbelas menit kemudian. Semua tampak bersiaga apabila salah satu pihak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.

“Aku adalah Pak Mandor. Dan mereka semua ini para pekerjaku. Yang sebelumnya kau sebut sebagai monster-monster baja itu adalah peralatan kami. Kami sedang bekerja di bukit ini sebelum akhirnya kau dan batu besar itu menggelinding ke bawah hampir mencelakai kami.“

Pak Mandor akhirnya teringat bahwa dia memang pernah mendengar nama Sisifus di suatu tempat, atau suatu diskusi, atau suatu halaman di buku-buku tua di rumah kakeknya. Sisifus, bukit, dan batu. Ya, semua itu sangat jelas. Pak Mandor tahu siapa pria di hadapannya ini. Beliau pun akhirnya berani berjalan mendekati Sisifus dan menjabat tangannya, berkenalan sekali lagi, lalu menjelaskan secara detail apa yang sedang ia dan para pekerjanya lakukan di bukit ini. 


Sisifus mendengarkan secara saksama, tidak memotong sedikit pun, tidak bergerak, dan wajahnya berubah dari penuh kecurigaan menjadi wajah yang berpikir keras sambil terduduk di atas batu tersebut, persis seperti sebuah patung pahatan.


“Tidak bisa seperti itu. Jangan sampai bukit ini kalian hancurkan. Demi Zeus, jangan sampai Tuhan menjatuhkan hukumannya kepada kalian karena telah menghancurkan bukit ini.”


“Ini kan bukan bukit Sinai. Untuk apa Tuhan memedulikan sebuah bukit sampai menghukum kami semua?” tanya pekerja E yang memang paling sembrono mulutnya di antara semua pekerja.


“Ini adalah bukit tempatku dipenjara sampai kiamat. Aku adalah Sisifus yang telah dihukum Tuhan karena telah menipu kematian dengan kecerdikanku. Tidak ada azab yang lebih sadis daripada kesia-siaan yang abadi seperti mendorong batu menuju puncak bukit yang tak akan pernah sampai. Bukan siksa badani yang paling mengerikan, tapi keberadaan dan usaha yang ditakdirkan sia-sia.“ Sisifus berakhir mencurahkan isi hatinya kepada para pekerja.


“Tapi ini bukan Tartarus, ini dunia manusia, dan bukit ini berada di tanah yang telah dibeli oleh perusahaan pengembang untuk dibangun pusat perbelanjaan terbesar di negeri ini. Kehadirannya nanti akan membawa manfaat bagi banyak orang. Tidak mungkin Tuhan murka atas pembangunan yang menghidupi hajat orang banyak.“


“Bagaimana mungkin bukit ini bisa naik ke permukaan? Tetap saja, kalau bukit ini diratakan dan diubah jadi bangunan yang kau sebutkan tadi, bagaimana dengan hukumanku? Ke mana batu ini harus kudorong? Kalaupun kalian tidak dimurkai Tuhan, pasti Tuhan akan melampiaskan amarah-Nya kepadaku karena telah menipunya lagi. Hukumanku bisa ditambah atau diberi yang lebih berat dan lebih menyedihkan dari sekadar mendorong batu.“

Pak Mandor dan para pekerjanya hanya terdiam memandang penuh iba kepada Sisifus.

“Aku mohon, kasihanilah diriku.” Sisifus pun menangis. Diam-diam dia telah berusaha bahagia dan bersyukur dengan semua keadaannya selama ini. Meski batunya tidak pernah sampai ke puncak, tapi setiap hampir yang dialaminya, mendatangkan secuil perasaan bahwa dia telah menyelesaikan sebuah tugas dan memberinya semangat baru untuk mendorong batu itu lagi dari awal. Siapa tahu suatu hari batu itu ternyata benar-benar dapat sampai ke puncak bukit, pikirnya.

Akhirnya Pekerja D, yang paling cerdik di antara semuanya, berbisik sesuatu kepada Pak Mandor. Pak Mandor mengangguk dan berkata bahwa itu adalah ide yang bagus.

Kemudian Pak Mandor berbisik pada Sisifus, “Tenang saja, serahkan semuanya padaku.“ 


Pak Mandor sengaja tidak mengatakannya secara lantang dan tidak menjelaskan detailnya agar ide gila ini tidak diketahui oleh Tuhan. Bisik-bisik antara Pak Mandor dengan Pekerja D tentu saja tidak akan dianggap penipuan atas hukuman Sisifus karena itu hanya ide iseng dan tidak melibatkan Sisifus dalam bisik-bisik tersebut. Pak Mandor berusaha meyakinkan Sisifus agar percaya padanya sebab dia adalah mandor terbaik di negeri ini.

Maka pekerjaan pun dilanjutkan. Bukit diratakan, lalu dibangun sebuah pusat perbelanjaan terbesar dan sangat tinggi. Setelah pembangunan selesai dan pusat perbelanjaan tersebut diisi dengan banyak gerai-gerai dari merek terkenal di dunia, maka pengunjung dari berbagai kota pun berdatangan. Pusat perbelanjaan itu sungguh ramai dan berhasil memberikan lapangan pekerjaan kepada banyak orang, khususnya penduduk sekitar.

Di tengah-tengah gedung pusat perbelanjaan yang tinggi dan besar tersebut, terdapat sepasang eskalator, naik dan turun, yang cukup besar dan tidak boleh digunakan oleh siapa pun kecuali satu orang yang selalu menaik-turuninya bersama sebuah batu besar. Pengunjung menganggapnya sebagai sebuah ikon dari pusat perbelanjaan ini, terutama karena setiap hari dia mengenakan pakaian trendi berbeda yang berasal dari toko-toko berbeda yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.

Sisifus kini bisa menjalani hukumannya sambil tersenyum—tidak ada lagi peluh bercucur atau terkuyup hujan— dan ia tak lagi sendirian.
***

Bogor, 12 Juni 2019

Liswindio Apendicaesar, berasal dari Bogor dan bergiat di Komunitas Sastra Pawon. Pada tahun 2019, beberapa karyanya terpilih mengikuti Festival Sastra Bengkulu (Puisi), Hari Puisi Riau Membaca Asap (Puisi), dan Festival Literasi Tangsel (Puisi dan Cerpen). Akhir tahun 2019 juga tergabung ke dalam tim penerjemah di Intersastra untuk menerjemahkan cerpen. Puisinya pernah dimuat di Tempo, Pikiran Rakyat, Buruan.co, sedang kolom pendapat di The Jakarta Post, serta esei di Magdalene dan  Pijar Psikologi.