Bebas – Anggun Safitri

Sorot mata yang penuh misteri, terlihat lemah tetapi berani, seperti rapuh tetapi memberontak. Kelopak matanya turun, semua yang melihatnya tahu kalau dia lelah, sangat lelah, tetapi ia tak ingin lelah, tak ingin lemah.

Perempuan itu menarik bibirnya ke atas, ingin membuat lengkungan yang manis. Gagal. Beberapa tahun lalu, ia masih berhasil senyum manis walau hatinya remuk. Kini waktu telah menggerus senyum itu. Senyum palsu sekalipun.

Di ruangan yang sesak, ia duduk di satu-satunya sudut yang kosong, seluruh ruangan penuh mainan. Diamatinya dua bocah yang tertawa-tawa, melemparkan apa saja ke arah mana saja. Mereka sedang menjadi jagoan yang menyelamatkan kota dari monster. Ia bahagia melihat dua anaknya bersemangat, tetapi tak mengerti mengapa tersenyum saja begitu sulit baginya.

Perempuan itu beranjak, meninggalkan dua anaknya yang tengah asyik main, menuju dapur, lalu mondar-mandir mengurusi segala macam urusan dapur.

Makanan telah siap, kamar dan ruangan lain telah bersih dan wangi, kecuali kamar anak-anaknya yang tetap berantakan, yang berkali-kali dirapikan tak ada gunanya.

Ia baru saja menikmati sofa empuk beberapa menit, pinggangnya yang terasa nyeri sedikit terselamatkan. Tiba-tiba pintu diketuk tidak sabar. Dipandangnya jam dinding putih  bulat dengan angka-angka berwarna hitam, benda yang disukai suaminya semenjak pandemi  namun sangat dibencinya. Jarum detiknya terus bergerak, sementara jarum menit di titik tiga, dan jarum jam di angka tujuh.

“Lebih cepat dari biasanya,” katanya pada diri sendiri, bersegera membuka pintu.

Lelaki di balik pintu itu memasang wajah datar saat melihatnya. Lalu melangkah cepat menuju kamar mandi. Ia sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan Rian, suaminya, untuk mandi.

Usai mandi Rian memakai kaos berwarna gelap dan sarung yang katanya dibeli di toko dekat kantor seminggu yang lalu. Kedua anaknya berhamburan ingin dipeluk ayah. Rian memeluk mereka sambil melihat layar gawai ketika dua anaknya berceloteh ingin diperhatikan, begitu bersemangat.

Tak lama keduanya melepas pelukan itu, menyadari tak ada bayangan mereka di bola mata ayah yang seharian ditunggu. Anak-anak kembali ke kamar, menghamburkan apa saja lalu duduk diam menonton acara televisi kesukaan.

“Boleh aku pergi sebentar?”

“Tentu, tapi kau harus bawa anak-anak,” jawab lelaki berkulit bersih itu.

Wanita itu menatap kosong ke arah lantai keramik putih yang mengkilap, hasil kerjanya setiap hari membersihkan dan menjaga kebersihannya.

“Aku hanya pergi sebentar, menemui temanku. Besok dia akan pulang kampung, menikah, dan entah kapan bisa kembali lagi ke sini.”

“Bawa anak-anak bersamamu, Lisa! aku sibuk, dan mereka terlalu berisik, tolonglah.”

“Tetapi di luar tak aman untuk anak-anak.”

“Kau pilih saja, kalau ke luar bawa anak-anak, atau tetap di rumah dan hubungi temanmu dengan cara apa saja yang bisa.”

Perempuan itu terdiam di tempatnya berdiri. Lama memandang suaminya, penuh harap agar sang suami membalas tatapan itu. Sesuatu yang dulu sering mereka lakukan, yang biasa ada semenjak malam lamaran, sembilan tahun lalu.

Setelah beberapa menit berdiri dan tak mendapat perhatian suaminya, ia sadar tak ada lagi yang bisa diperbaiki. Menghabiskan waktu bersama anak-anak adalah satu-satunya pilihan.

Pukul dua puluh tiga, lewat sepuluh menit. Perempuan bertubuh kurus itu terbangun. Rupanya ia tertidur di kamar anaknya, ia memandang dua bocah yang sudah tertidur pulas, diselimutinya, lalu diciuminya penuh kasih.

Diambilnya jaket dan masker dari kamarnya lalu bergegas menuju pintu rumah. Saat memutar gagang pintu ia berucap pelan, “Tuhan, tolong jaga anak-anakku.”

***

Pukul tiga selepas tengah malam.

Rian, lelaki berkulit bersih itu, menggosok kumis tipisnya dengan punggung ibu jari, lalu menopang dagu, tak lama kemudian mengetuk-ngetuk bibir atasnya dengan jari telunjuk, sembari sesekali melihat ke arah jam dinding bundar. Biasanya ia selalu tersenyum melihat benda itu, tetapi kali ini tak bisa. Menurutnya waktu bergerak terlalu lambat.

Seseorang memutar gagang pintu, Rian bergegas berdiri di depan pintu. “Dari mana saja kau?”

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Pak.”

Rian langsung melompat, ingin mencengkeram lelaki di belakang istrinya, tetapi lelaki itu telah pergi. Istrinya menghalangi dengan kekuatan yang entah datang dari mana di tubuh kurusnya itu.

“Ternyata begini kelakuanmu saat aku tak ada di rumah, biadab!” Ia menampar pipi kiri istrinya yang diam di hadapannya.

Perempuan itu jatuh terduduk, sembari menggosok pipinya yang terasa terbakar. Ia buru-buru berdiri lalu berjalan terhuyung-huyung, duduk perlahan di sofa.

Rian membanting pintu dengan keras, matanya melotot dan merah, wajah juga tubuhnya bergetar. Ia murka pada Lisa.

Lelaki bertubuh tinggi itu mulai memaki istrinya kalap dengan segala sumpah serapah kasar dan jahat.  Tapi istrinya tak perduli selai melihat ke arah pintu kamar anak-anaknya.

“Sudah selesai sandiwaramu?” istri buka suara ketika sumah serapah sudah terucapkan mulut suaminya.

Rian masih menatap. Tatapan murka itu perlahan mereda dan menjadi garis kebingungan.

”Mengapa kau begitu murka suamiku? Aku baru sekali ini ke luar rumah.”

“Kau mencoba mengelak, Lisa! kau sudah tertangkap basah, kau pulang bersama lelaki lain, lihat jam itu… kau benar-benar tak tahu malu, setelah selama ini aku memperlakukanmu dengan baik. Kerja kerasku untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak-anak kau balas dengan perbuatan biadab!”

“Kau saja jarang ada di rumah… tapi tunggu dulu,” kata perempuan bertulang pipi menonjol itu berjalan setengah berlari membuka pintu kamar anak-anaknya. Bersyukur  ia melihat anak-anaknya tertidur nyenyak, lalu tersenyum dan kembali ke suaminya.

Tapi ia berbelok dulu ke meja kerja Rian, menarik laci lalu mengambil amplop, dan membuang amplop itu ke depan suaminya, “Besok datang ke pengadilan, surat panggilanmu sudah berapa hari di sana. Aku sudah memberi tahu, kau terlalu sibuk dengan gawaimu.”

Rian diam, masih tak paham dengan pergantian suasana yang terlalu tiba-tiba. 

Setelah beberapa saat mengerjap, baru dia bersuara, “Kau tahu aku sibuk, di masa pandemi ini pekerjaanku bertambah berat dan banyak. Harusnya kau mengerti.”

“Aku sudah cukup mengerti sebulan ini, aku memberi kesempatan, aku tahu yang terjadi padamu hanya tersesat sebentar, kau akan kembali ke rumah, kembali menyayangi aku dan anak-anak. Tapi kau semakin berulah dan aku tahu tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari pernikahan ini.”

“Apa maksudmu?”

Lisa menyusun runut yang selama sebulan ini tersimpan di dalam hatinya, mulai dari awal pandemi, ia berhenti kerja dari toko buku, mulai berjualan kecil-kecilan dari rumah lewat Facebook dan Instagram, dan suaminya yang mulai jarang di rumah: lembur.

Tapi sekali waktu sebulan yang lalu itu, dia melihat Rian berjalan masuk ke pusat perbelanjaan tidak sendirian. Lelaki yang sangat dicintainya itu melingkarkan pelukan ke pinggang perempuan muda, yang membalas peluk itu dengan mesra. Ditelusurinya hubungan suaminya dengan perempuan muda itu dengan hati-hati dari teman-teman kantor suaminya: -bersandiwara menelepon, pura-pura datang mengantar surat penting, termasuk ngobrol dengan tukang parkir dan satpam kantor.  Perempuan muda itu adalah salah satu teman sekantor suaminya.

Dan banyak barang-barang baru yang bermunculan di rumah mereka. 

Jam dinding bundar, sarung baru, sandi di layar gawai yang telah diubah, senyum pada layar gawai, sepasang sepatu cantik untuk hadiah pernikahan teman kantor, noda merah di baju, parfum yang beda, celoteh anak-anaknya yang diabaikan, dan banyak hal-hal baru yang berubah dalam masa pandemi.

Dia merasa lelah. 

“Kau tahu! pura-pura bahagia itu, capek! Aku sudah muak dan  aku ingin mengakhiri semuanya. Terserah apa kata orang-orang. Kau bilang bawa anak-anak jika ingin ke luar. Baik besok aku akan membawa mereka ke rumah baru kami, jika kau ingin menengok mereka, aku persilakan dengan senang hati. Soal cinta… semua sudah habis, mati!”

“Maafkan aku … maafkan aku, kita bisa bicara dulu, kita bisa memperbaikinya.”

“Bahkan malam ini, aku sangat lelah menguntitmu, melihatmu bermesraan dengan wanita itu, hampir tertabrak mobil, semua kelelahan ini ingin kuakhiri segera. Jangan minta maaf padaku, mintalah maaf pada Tuhan yang kau sembah lima kali sehari tanpa terlewat, aku tak berhak atas maaf itu.”

Perempuan itu lega mengeluarkan semua yang sudah dia susun dengan runut.

“Selamat menjalani kehidupan new normal di masa pandemi, kau benar-benar mempersiapkan kehidupan new normal-mu dengan baik. Selamat. Aku bersyukur,” tambahnya sebelum bergegas masuk ke dalam kamar anaknya.

Dari dalam dikuncinya kamar itu dan duduk ke satu-satunya sudut yang bersih dari tumpukan mainan. Ditutupnya matanya, sambil memegang gagang pisau dapur di dalam tas selempangnya. Dia tak mau rencananya ke rumah baru bersama kedua anaknya terhalang oleh siapapun, juga oleh suaminya, oleh bapak kedua anaknya.
***

Anggun Safitri, lahir di Banggai kini tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Suka menulis cerpen, youtuber pemula, dan aktif diri di komunitas Rumah Gagasan Palu. Novelnya ‘Lihat Aku, Tuhan’ dan antologi ‘Serupa Dandelion’ sudah diterbitkan, juga beberapa buku antologi dengan penulis-penulis lain. Bisa ditemui di Facebook Anggun Ihsan, Instagram @anggunsafitri92 dan kanal Youtube Anggun Ihsan.