Ziarah – Iman Herdiana

TPU Khusnul Khotimah, demikian nama pemakaman umum itu.  Lokasinya di pinggir jalan raya di tepi sungai Cisanggarung yang menjadi batas provinsi. Selepas salat Iduladha, warga bergerak dari masjid dan tanah lapang untuk ziarah kubur. 

Matahari pagi yang hangat menyinari tanah makam gersang dan retak-retak. Daerah pertanian di utara itu sudah lama tak disiram hujan. Namun pepohonan dan rumput liar tetap tumbuh hijau di antara barisan nisan. Pohon beringin tumbuh mencakar langit, kanopinya menaungi hampir separuh luas TPU, ratusan kamboja berbunga sempurna mewarnai kompleks kuburan.

Semua tumbuhan itu sengaja ditanam petugas makam atau ahli waris untuk menaungi yang mati agar teduh di alam kubur. Konon, setiap tanaman di makam akan selalu tumbuh subur karena mendapat kehidupan dari kematian, di musim kemarau yang ganas sekalipun. 

Warga terus berdatangan: tua, muda, anak, dewasa. 

Pemakaman yang hijau, gersang dan berdebu itu pun didominasi warna putih pakaian para peziarah. Mereka mengular dari satu kuburan ke kuburan lain seperti jamaah haji yang mengitari kabah. Saling bertukar sapa dan berjabat tangan, mereka juga mengucap salam kepada yang mati, “Asalmualaikum ya ahli kubur,” seperti yang dianjurkan Nabi. 

Masing-masing peziarah membawa keresek berisi daun pandan yang dicincang, melati, selasih, dan bunga salihara yang merah dan kuning menyala. Katanya, perpaduan wangi kembang tersebut sebagai simbol agar kematian terasa harum dan tak menakutkan, walaupun akhirnya wangi kembang tersebut jadi identik dengan bau kematian.

Tiba-tiba perhatian warga tersedot pada kedatangan sosok paruh baya memakai baju koko dan celana kampret hitam. Sabuk kulit melingkar di bawah perutnya yang buncit seperti perut perempuan hamil tujuh bulan. Pria bersetelan pendekar itu diiringi keluarga dan para centeng. Dialah kuwu desa sekaligus pengusaha angkutan batubara yang truknya hilir-mudik di sepanjang jalur Pantura. Dia juga dikenal sebagai tuan tanah karena sawahnya luas di mana-mana. Warga biasa memanggilnya juragan kuwu. 

Warga berebut menyalami juragan kuwu yang sebenarnya sering mereka gosipkan. Sudah menjadi bisikan umum bahwa kekayaan juragan kuwu diraih dengan cara tidak halal. Tuan tanah itu sering dikaitkan dengan ilmu nyupang, ilmu hitam yang menjadi jalan pintas menuju kekayaan. Orang nyupang telah bersekutu dengan iblis untuk menukar jiwa-jiwa malang dengan harga melimpah. Meski demikian, warga cuma berani ngomong di belakang, di hadapan sang juragan mereka silau dan hormat, bahkan takut. 

Di tengah makam, Gofar dan putri kecilnya mengawasi hingar bingar itu tanpa beranjak dari depan pusara yang baru ditaburi kembang. 

“Ayo kembali berdoa, Nok Ayu,” kata Gofar kepada putrinya yang masih melongo melihat euforia warga atas kehadiran juragan kuwu. Gofar sendiri tetap menatap tajam ke arah juragan kuwu. 

Putrinya kembali menaburkan daun pandan dan selasih. Gofar sengaja tak membeli bunga melati atau salihara. Sejak kematian istrinya, ia menghindari warna merah dan harum melati. Selain itu, uang yang ada di sakunya hanya cukup buat beli pandan dan selasih. 

Setelah kematian istrinya, Gofar lebih sering menganggur. Untuk melanjutkan hidup ia terpaksa menjual hampir semua barang berharganya. Terakhir, ia menjual tiga cangkul, dua bilah golok, dan garpu. Yang terakhir ini paling menyesakkan dadanya. Dengan peralatan itu ia bisa mengolah sawah, menggerakan roda ekonomi rumah tangga sampai punya rumah mungil. Dan yang lebih penting, ia bisa meninggalkan kerasnya hidup di jalanan ibu kota sekaligus memulai kehidupan baru sebagai petani desa bersama bunga desa yang mengaruniai putri mungil yang cantik.

Ia merogohkan tangannya ke balik kemeja, sebuah belati terselip di pinggangnya. Cuma belati itu yang tersisa, dan ia tak mungkin menjualnya. Belati yang menyelamatkannya selama berkelana di kota, pula yang mengantarnya ke penjara. Sejak memutuskan menjadi petani, ia sudah melupakan belatinya —meski tak melenyapkannya. 

Kini si belati harus kembali ke balik kemejanya. Dan menunggu dikeluarkan dari sarung kulitnya, yang sudah mengilap seperti kaca.

Sesekali Gofar melirik putrinya yang celingukan mengamati para peziarah yang sudah tidak mengerumuni juragan kuwu lagi. Kepedihan yang menyelinap di relung hatinya segera berubah menjadi marah dan dendam. Gadis kecilnya tidak mungkin lupa bagaimana ibunya meninggal. Sosok seorang ibu sudah terpatri dalam ingatan. Hal itu yang membuat si nok ayu selalu bermuram durja. Bagaimanapun, kehadiran seorang ibu tak mungkin tergantikan, kendati kini putrinya diangkat anak oleh bibinya yang sudah lama mendambakan anak perempuan. Sang bibi berjanji akan menyekolahkan si nok sampai tinggi. 

Tanah makam semakin penuh. 

Wangi pandan dan selasih kian semerbak. Setiap lebaran haji maupun Idulfitri, tanah makam seakan menemukan kehidupannya. Orang hidup mengunjungi yang mati, demikian yang dianjurkan khatib Iduladha, pagi tadi. Silaturahmi, lanjut khatib itu, harus dijalin dengan orang-orang yang hidup maupun yang mati. Berziarahlah.

Maka setelah salah Id, Gofar pun membulatkan niat yang sudah lama direncanakan. Untuk pertama kalinya ia menziarahi makam istrinya yang meninggal setahun lalu. Ziarah ini akan penuh makna dan mungkin dicatat sejarah.

Iduladha tahun lalu ia bersama istri dan putrinya menziarahi makam orang tua mereka di TPU itu. Waktu itu ia sendiri memimpin membacakan doa ziarah kubur. Meski lama hidup di jalanan, ia masih ingat cara membaca Ayat Suci yang pernah dipelajari sewaktu kecil. Itu yang membuat istrinya kagum dan semakin yakin bahwa suaminya sudah kembali ke jalan yang benar. 

Habis ziarah mereka berkumpul di rumah mungilnya sambil makan ketupat yang disiram opor ayam kampung. Tetangga datang silih berganti untuk silaturahmi. Malamnya mereka bercinta penuh nafsu. Gofar tak pernah puas menggumuli tubuh istrinya yang harum melati.

Masa lalu yang teramat indah sekaligus menyakitkan, pikir Gofar. 

Mulanya keputusannya kembali ke desa berjalan sesuai rencana. Ia berusaha hidup bersahaja seperti petani desa lain yang cukup hidup dari hasil pertanian. Ia berhasil lepas dari kerasnya kehidupan di kota. Sepetak sawahnya cukup untuk makan sekeluarga, cukup menyediakan beras sampai bertemu musim tanam berikutnya. Ia juga bisa menabung untuk masa depan anaknya sambil merawat mimpi bahwa kelak putrinya bisa menjadi sarjana pertanian. 

Tiba-tiba kehidupannya yang tenteram terusik rencana pembangunan industri baru di kawasan pertanian itu. Yang punya rencana tentu pemerintah, pihak yang berkuasa di negeri ini. Rencana ini diamini juragan kuwu yang agresif memperluas tanahnya. Bagi juragan kuwu, rencana pemerintah itu peluang besar untuk menyulap sawah menjadi gudang penyimpanan batubara.

Semua warga kampung sudah tahu rencana juragan kuwu sulit dibendung. Juragan kuwu akan mudah membeli sawah dari siapa pun tanpa penolakan sengit. Si pemilik sawah yang sawahnya diminati juragan kuwu, tidak akan berani menolak karena takut dijadikan tumbal. 

Konon, sudah banyak korban yang menjadi tumbal juragan kuwu. Bahkan orang tua juragan kuwu sendiri disebut-sebut mati ditumbalkan. Kalaupun saban tahun dia menziarahi makam orang tuanya, itu hanya kamuflase saja, demikian bisik-bisik warga. Berkat tumbal-tumbal itulah dia jadi orang paling kaya sekecamatan, bahkan sekabupaten.

Awalnya Gofar yakin juragan kuwu tak menginginkan sawahnya. Sepetak sawahnya tak berarti apa-apa bagi juragan yang sudah menguasai sawah di mana-mana, masih banyak tanah lain yang lebih luas, pikir Gofar. Dan begitu centeng juragan kuwu menawar sawahnya, dengan tegas Gofar menolak. 

Sawah warisan leluhurnya tidak boleh dijual dan diganggu gugat. Ia tak takut dengan ilmu gaib juragan kuwu. 

Hingga suatu hari, tanah sawah menelan tubuh istrinya yang lagi tandur. Putrinya menjerit panik melihat petaka itu. Tak ada seorang pun warga yang menolong. Gofar berusaha menarik keluar tubuh istrinya. Namun terlambat. Tubuh istrinya melepuh dan memerah seperti kembang salihara. Tak ada lagi harum melati yang biasa ia cium dari tubuh istrinya.

Sejak peristiwa itu istrinya sekarat. Gofar sudah mengobatinya ke mana-mana hingga terpaksa menjual sawahnya untuk biaya pengobatan. Namun nyawa istrinya tak bisa tertolong. Dokter bilang istrinya mengalami luka bakar serius akibat limbah batubara.

Gofar akhirnya tahu bahwa seseorang sengaja membuang limbah batubara di sawahnya. Istrinya celaka bukan karena makhluk halus ilmu nyupang sebagaimana diyakini warga kampung, melainkan disebabkan tangan-tangan jahat yang serakah. Belakangan ia tahu bahwa orang yang membeli sawahnya ternyata kaki tangan juragan kuwu yang duitnya tentu bersumber dari sang kuwu. 

Kini, di depan kubur istrinya ia akan menunaikan niatnya. Untuk yang satu ini, ia tak sepakat dengan khatib Iduladha yang mengatakan bahwa setiap orang harus saling memaafkan di hari pengorbanan. Jika Ibrahim mengorbankan Ismali, maka aku mengorbankan diriku demi balas dendam atas kejahatan, Gofar membatin.

Gofar berdiri seraya menuntun tangan putrinya. 

“Nok Ayu, pulanglah duluan ke rumah bibi,” katanya.

Seakan mengerti dengan apa yang ada di benak ayahnya, anak itu nurut saja. Gofar melangkah menuju juragan kuwu yang masih khusyuk ziarah, tangan kanannya terselip ke balik kemejanya, gagang belati terasa dingin di hari yang panas itu. 

Hari ini hari berkurban untuk ziarah istrinya. Ia bisa merasakan kembali harum melati tubuh istrinya.
***

Iman Herdiana, jurnalis yang tinggal di Bandung dan kerap menulis cerpen. Satu romannya berjudul ‘Yang Pergi dan Yang Di Tepi’ diterbitkan Majelis Sastra Bandung (2017).