Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara – Septianda Perdana

Sekitar dua jam perjalanan mobil dari Sibolga, kota pelabuhan di pesisir Barat Sumatra, atau delapan jam dari Medan, maka tibalah Anda di Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara. 

Begitulah resminya, sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo 24 Maret 2017 lalu di Barus, salah satu kota dagang dunia yang penting seputaran abad ke-6 hingga kira-kira pudarnya masa kejayaan kamper atau kapur barus pada abad ke-16. 

Makam Mahligai

Perdagangan kamper itulah yang menarik para pedagang-pedagang dari Arab dan Timur Tengah datang ke Barus, dan sekaligus pula mereka menyebarkan agama Islam ke wilayah-wilayah Nusantara lain. 

Makam Mahligai di Aek Dakka, desa berjarak sekitar 11 menit perjalanan mobil dari Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam, adalah salah satu sisa-sisa peninggalan kejayaan Barus. Kota kecamatan ini sudah menjalin kontak dengan kawasan Timur-Tengah, Eropa, dan Cina jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. 

Ada 215 makam dengan batu nusan bertuliskan Arab dan Persia Kuno oada tahun 48 Hijrah atau abad ketujuh Masehi, tahun 661.

Makam Mahligai, Aek Dakka -Barus

Nama makam Mahligai, konon, diambil dari istana kecil Tuan Syekh Abdul Khatib Siddiq. Setelah wafat, dia dimakamkan di Aek Dakka, yang juga menjadi lokasi pemakaman ulama-ulama penyebar Islam lainnya, seperti Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, dan sejumlah syekh.

Makam Mahligai, Aek Dakka -Barus

Makam Mahligai hanyalah salah satu dari beberapa makam kuno lain di Barus selain Makam Papan Tinggi, Makam Tuan Syech Machdun, Makam Tuan Ibrahim Syah. Masih ada lagi Benteng Barus, peninggalan VOC yang diperkirakan dibangun pertengahan 1600-an.

Peta Barus

Barus jelas tidak terbatas pada peninggalan sejarah. Pantai-pantainya yang indah bisa menjadi pelengkap wisata ke Barus, walau belum masuk dalam peta wisata Indonesia. 
***

Septianda Perdana, jurnalis lepas kelahiran Medan dengan pendidikan S2 Ilmu Komunikasi.