Dan Ia Lantas Tertawa – Yoga Palwaguna

Aku berangkat.

Kutinggalkan Doni yang sudah lelap. Lelah sekali dia nampaknya. Libur panjang memang selalu menguras tenaga. Kayak ngasih makan satu negara—begitu dia biasa mengeluh padaku.

Jika aku sedang tenang, aku akan menyuruh dia berbaring kemudian memijitinya. Berbeda jika aku juga sedang tak kalah lemas. Aku akan membalasnya dengan keluhan yang sedikit menyebalkan: Padahal aku sudah biasa masak buat keluargamu yang banyak dan rakus itu, tetap saja capek. Mendengar itu, Doni akan cemberut dan tidak mengacuhkanku semalaman. Dia begitu menyayangi keluarganya. Kadang-kadang, itu membuatku ingin menjadi adiknya saja, bukan istrinya.

Aku memesan ojek online meski ada motor di kosan. Bukan karena aku tidak bisa mengendarainya, tapi aku perlu mengendap-endap. Malas kalau Doni tahu aku pergi. Bisa jadi alasan untuk ribut lagi. Sudah cukup bertengkar minggu ini. Yang penting aku pulang sebelum dia bangun besok pagi. 

Terusan Jakarta yang biasa sesak kini sepi. Akhirnya ia bisa bernapas setelah seharian mengemban tugas. Tak jauh beda seperti ibu rumah tangga yang baru bisa rehat setelah semua penghuni rumah lelap beristirahat. Jalanan yang kulewati basah oleh hujan pertama di bulan ini. Sepertinya musim penghujan sudah bersiap menebus dahaga selama kemarau. 

Ah, seandainya hidup juga bisa berlaku sesuai musim. 

Pada musim panas aku menjadi perempuan yang berjalan-jalan ke pantai. Pada musim semi aku menjadi perempuan yang diberi seikat bunga. Pada musim dingin aku menjadi perempuan yang duduk di depan perapian sambil bersenandung atau membaca buku. Pada musim gugur aku menjadi perempuan yang mengajak anaknya jalan-jalan sore kemudian duduk di bangku taman.

Namun, Bandung tidak punya empat musim. Hanya ada musim kemarau dan musim penghujan. Lebih parah lagi bagiku. Hanya ada satu musim bagi perempuan yang sudah menikah dan punya anak: musim mengalah.

Tiga hari yang lalu sebuah pesan masuk ke telepon genggamku, dari nomor tidak dikenal. Begini isinya:

ASASS..YTH kdp BPK/IBU
Maaf jiak menganggu wkt,y
Kami menawarkan m0d4L us4h@
Dengan bunga rendah untuk
Info chat langsung WA.
083872483783

Saat itu aku sedang menunggu kabar dari temanku, Rina. Aku mengajaknya untuk pergi karaoke. Rina teman baikku waktu aku masih bekerja di restoran A. Sama sepertiku, dia senang keluar malam untuk cari hiburan setelah bekerja menghadapi pelanggan dan atasan yang sering sama-sama bikin pusing. Kami senang sekali pergi karaoke. Di antara dentum musik dan kerlap-kerlip lampu aneka warna, kami menyanyi, berjoged dan tertawa. Hahahaha. Aku ingin ada hahahaha keluar dari mulutku. Takut mulutku keburu lupa cara tertawa jika lama tidak berlatih. Karaoke terakhirku bersama Rina adalah sekitar empat tahun yang lalu, sebelum aku menikah.

Karena pesan yang masuk ternyata bukan dari Rina dan isinya menyinggungku, seolah aku bakal tertipu, maka aku segera menghapus pesan itu.

Pesan selanjutnya datang. Kali ini sesuai dengan apa yang kutunggu. Pesan dari Rina. Namun sayang, jawaban Rina tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Ia bilang tidak bisa ke mana-mana. Suaminya sedang sakit, Rina harus stand by siapa tahu suaminya butuh sesuatu sewaktu-waktu.

Ponselku bergetar lagi, kali ini dari rumah. Sebuah panggilan video.

Seperti sihir, gambar yang muncul di layar langsung membuat bahuku kembali tegak dan bibirku merekah lebar seolah tak pernah mengenal kepedihan. Dua bocah kembar yang tiga tahun lalu keluar dari rahimku melambai-lambaikan tangannya sambil beradu volume suara, berebut ingin jadi yang paling kudengar dan paling dulu kusapa. 

Mereka sudah bawel sekali sekarang, bercerita tentang ulat yang mereka temukan di teras rumah, dengan kata-kata seadanya yang mereka ucapkan sebisanya. Tidak apa, aku selalu mengerti. Bahkan dulu ketika yang keluar dari mulut mereka hanya rengekan, aku bisa mengerti.

Beres mengobrol dengan Kakak dan Adik, giliran muka ibuku yang memenuhi layar telepon genggam. Dari tarikan napasnya saja aku sudah tahu bahwa yang akan keluar dari mulutnya adalah keluhan. Si Kakak jajan terus. Si Adik gak mau kalah. Minggu lalu mereka sakit dan aku belum mengganti biaya dokter dan obat. Uang. Ibu perlu uang. Tentu saja, uang itu untuk mengurus kedua anakku.

Telepon ditutup dan bahuku seolah mati meski dadaku masih bernapas. 

Sebuah pesan masuk. Lagi-lagi dari nomor tidak dikenal. Aku sudah bersiap hendak menghapusnya saja, tetapi kalimat pertama yang kubaca membuatku ragu.

Begini bunyi pesannya:

OPEN KARAOKE
Capek? Ingin penyegaran? Ingin lepas dari rutinitas?
Gabung
Open Karaoke ke-13 kami.
Kami siapkan teman-teman yang senasib denganmu.
Hubungi 081322191100 untuk pendaftaran.
Karaoke?

Bahuku kembali naik tapi dahiku berkerut. Apakah ini penipuan? Apakah ini jebakan dari para pemerkosa, penculik, atau pembunuh gila? Cerdik sekali mereka melempar umpan yang begitu aku suka. 

Was-was tapi penasaran, aku mencoba menghubungi nomor yang tertera pada pesan itu melalui WhatsApp, sambil dalam hati membaca surat al-falaq karena khawatir akan digendam dari jarak jauh. Gendam online. Ngeri. 

Aku bertanya tentang Open Karaoke yang disebut di dalam pesan. Di luar dugaanku, aku mendapatkan balasan yang ramah dan aku tidak merasa linglung atau kehilangan kesadaran. Orang yang aku hubungi menjelaskan bahwa open karaoke bisa dianggap sama dengan open trip. Ya, aku tahu apa itu open trip. Aku sering melihat iklan open trip di Facebook.

Aku lalu bertanya dari mana dia bisa dapat nomorku. Mencurigakan. Dia menjelaskan bahwa nomorku didapat dari arsip data milik Karaoke B, tempat yang dulu sering aku dan Rina kunjungi. Dia mantan karyawan di sana, tapi sekarang kerjaannya membuat acara-acara open karaoke, dengan kata lain membawa pelanggan bagi tempat karaoke, lalu mendapatkan komisi. Aku sebal bahwa nomor teleponku disebar-sebar begitu, tapi apa sih taktik pemasaran yang tidak menyebalkan?

Orang itu juga mengirimkan foto-foto yang menunjukkan open karaoke sesi sebelumnya. Semua orang nampak senang. Aku ingin merasa senang seperti orang-orang di dalam foto. Namun, aku tidak langsung mendaftar. Setelah mendapatkan informasi tentang kapan dan di mana karaoke akan digelar (Karaoke B cabang Braga, malam ini, mulai pukul 12 malam) aku melakukan perhitungan terlebih dahulu. Menghitung uang dan menghitung amal.

Aku masih punya simpanan dari sisa-sisa uang belanja yang aku irit selama setahun belakangan. Aku bisa menggunakannya untuk mendaftar dan membayar ojek pulang pergi ke tempat karaoke. Oke, uang aman.

Selama empat tahun menikah, aku tidak pernah pergi tanpa izin suamiku meski aku sangat ingin. Aku rajin memasak dan mengurus rumah meski aku juga bekerja. Aku tidak terlalu rajin solat tapi aku tidak pernah mencuri uang dari dompet suamiku. Jika malam ini aku pergi diam-diam (karena Doni tidak mungkin memberi izin), sepertinya amal baikku selama empat tahun masih cukup untuk menutupi dosanya. Bahkan mungkin masih ada sisa, aku bisa menggunakannya untuk merokok sebatang-dua batang jika ada peserta lain yang menawarkannya padaku.

Perhitungan itulah yang membuatku percaya diri untuk pergi. 

Aku tiba di Braga dan segera menuju lokasi karaoke sesuai informasi yang aku dapatkan. Aku tahu akan ada seseorang yang menungguku di gerbang, mengenakan topi putih dan kaos hitam. Ia bersandar di tembok sambil mengisap rokok, aku bisa melihatnya. Kupercepat langkahku dan segera menyapa si penjaga pintu. Ia menanyakan nama dan memintaku menunjukkan bukti pendaftaran. Aku dipersilakan masuk dan diantar menuju room yang sudah dipesankan oleh panitia. 

Dari pintu room yang terbuka, aku bisa melihat apa yang ada di dalam. Di sofa dekat pintu aku melihat seorang laki-laki mengobrol akrab dengan seorang perempuan. Tubuh mereka begitu dekat seperti sudah saling mengenal lama. Aku melangkah melewati ambang pintu. 

Barulah saat itu aku bisa melihat sisi lain ruangan. Di sofa yang menempel pada dinding terjauh dari pintu, aku melihat seorang laki-laki berada di atas seorang perempuan. Perempuan itu tidak sadarkan diri. Ada hahahaha keluar dari mulut lelaki itu.

Aku mundur dan hendak berlari, tetapi tangan si penjaga pintu mencengkram pundakku. Dengan sekali dorong, ia melemparku ke dalam ruangan. Kudengar pintu dikunci. Seorang laki-laki bermata serigala gesit mendekat. Aku menyeret tubuhku ke sudut kemudian menyilangkan kedua tangan di depan muka. Namun serigala itu tidak mulai dari muka, ia memulai perburuannya dari bawah. Ada yang koyak seiring suara hahahaha, aku bisa merasakannya.

Hanya ada satu musim bagi perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak: musim mengalah. Aku kembali menyadari hal itu ketika beberapa hari lalu di kamar mandi, pada sebuah batang plastik berwarna putih, kulihat dua garis merah lahir dari kencingku. 

“Melawan musim adalah perbuatan mengundang bala,” kudengar suara malaikat berbicara dari botol minuman keras yang ada di meja. 

Ia lantas tertawa.
***

Jalan Jambu, 31 Maret 2020

Yoga Palwaguna, tinggal di Bandung, aktif di Kawah Sastra Ciwidey dan Prosa7. Suka karaoke dan jalan-jalan tapi suka kesulitan cari teman. Tulisan lain bisa dibaca di caption Instagram: @ypalwaguna.