Pisau – Risen Dhawuh Abdullah

Kembali terjadi! Istriku merebut paksa benda yang kupegang. 

Kami berdua sedang duduk di ruang makan. Sekarang waktunya mengisi perut. Jarum pendek di jam dinding menusuk tepat ke angka delapan. Malam bergerak cepat di luar.

“Papa, kok masih saja pakai pisau, sih? Sepertinya Mama perlu membawa Papa ke psikiater?” ucapnya.

“Mama yang gila, jelas-jelas yang Papa pegang bukan pisau! Kalau masih terus seperti ini, Papa yang tidak segan-segan membawa Mama ke psikiater!” ucapku marah. 

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan istriku. Dua minggu belakangan aku sering uring-uringan dengannya, urusan alat untuk menyuapkan makanan ke mulut.

Sama sekali tidak ada yang salah. Saat aku memasukkan makanan ke dalam mulut dengan benda yang direbut istriku,  tidak ada darah yang mengalir dari rongga mulut. Bibirku tidak tergores benda tajam. Aku sungguh tidak merasakan apa-apa, kecuali kelezatan masakan istriku yang luar biasa. 

Jadi siapa yang gila?

Istriku bersikeras; yang dilihatnya bukanlah sendok. Ia selalu merebut paksa benda yang kucekal, begitu aku hendak memasukkan makanan ke mulut. Sebelum makan, selalu ada prosesi cekcok terlebih dulu, meskipun istriku selalu pasrah mengalah pada akhirnya. 

Pikiranku selalu menjadi kisruh, tapi masakan istriku selalu berhasil  menenangkanku.

Akhir-akhir ini makanku jadi tidak nyaman. Aku risih dilototi wajah istriku yang cemas sesekali melihat ke arahku saat mengunyah makanan.
***

Tujuh tahun rumah tangga kami berjalan, makanku selalu nyaman, dan kami saling cinta sampai urusan pisau atau sendok ini menteror makan kami berdua. 

Tujuh tahun kami jalani berdua karena rumah kami belum juga mendengar tangis bayi yang meminta susu. Kata dokter, istriku kurang subur. Segala usaha kami tempuh, namun hingga detik ini, tidak  ada tanda-tanda yang memperlihatkan usaha kami berhasil. Aku mulai menyiapkan diri kalau istriku tidak kunjung mengandung janin. Kubayangkan hari-hari tuaku tanpa kehadiran anak dan masa tua kami berdua dihabiskan bersama kesepian. Masing-masing hanya menunggu siapa yang mati lebih dulu. 

Namun bila takdir Tuhan begitu, aku bisa apa?
***

“Hari ini Mama memasak lauk kesukaan Papa. Ayam goreng dengan sambal bawang,” ucap istriku, begitu aku masuk rumah sepulang dari kerja.

Saat membersihkan diri, yang ada di rongga kepalaku hanyalah bayangan ayam goreng dengan sambal bawang. Rasa-rasanya sudah lama sekali aku tidak dibuatkan menu itu. Namun tiba-tiba saja, ada sesuatu tumbuh di hatiku, semacam perasaan jengkel. Bayangan lezatnya ayam goreng hilang begitu saja.

“Jangan-jangan ia masak ayam goreng hanya siasat agar aku tidak menggunakan sendok?” gerutuku —ia tahu aku tidak pernah makan ayam goreng dengan sendok. 

Ia tahu betul suaminya dan ia melewati hari-harinya dengan penuh kesabaran, menyelesaikan urusan rumah, melayaniku sepenuh hati. Jarang sekali ia membantahku, selain urusan sendok makanku belakangan ini. Urusan yang aku tak terima:  yang kugunakan untuk makan bukan sebilah pisau!

Aku menuju meja makan, mengambil piring, dan seperti hari yang telah berlalu, istriku duduk di hadapanku. Setelah cukup mengambil nasi, kuraih piring besar berisi ayam goreng. Kupilih paha, bagian kesukaanku. Kukorek sambal bawang dari cobek. Rasa lapar semakin menggebu, tetapi tiba-tiba aku sedikit menahan diri untuk menyantapnya.

“Mau ke mana, Pa?” tanya istriku, begitu aku beranjak dari duduk. “Mau cuci tangan? Ini kan sudah ada air?” sambil menunjuk mangkuk penuh air di atas meja makan.

“Aku mau mengambil sendok.”

Istriku berdiri, “Aku ambilkan. Bukannya biasanya pakai tangan? Tumben dengan sendok?”

Aku pun kembali duduk. Semalam aku telah memutuskan akan benar-benar membawa istriku ke psikiater bila ia masih saja menyatakan benda yang kupegang adalah sebilah pisau.

Istriku malah mencekal pisau! 

Pertengkaran edisi malam terlaksana lagi. Sesudah menghabiskan tenaga untuk adu mulut, akupun makan dengan tangan sendirian. Istriku tidak jadi makan. Isi piringnya masih utuh. Ia masuk ke dalam kamar, dan menangis.
***

Esok harinya aku paksa istriku ke psikiater. Sepanjang perjalanan, aku menahan luapan amarahnya. Ia menantangku untuk konsultasi juga masalah kejiwaanku. Aku terima tantangannya.

Hasilnya, ada gangguan kejiwaan istriku, sedang aku bersih tanpa gangguan. 

Ia tidak terima. Aku membawanya pulang,  menenangkannya, memeluknya, dan mengatakan apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkannya. 

Tapi istriku marah besar. Esoknya, ia pergi dari rumah, entah ke mana. Seminggu lamanya aku tidur seorang diri. Kucari ke mana saja, tidak kutemukan.

Ketika aku sudah menerima istriku memang pergi meninggalkanku dan ketika aku sudah siap mencari calon penggantinya, ia malah pulang.  

Maka malam ini kami kembali makan bersama.

Sebenarnya, tidak ada yang terganggu jiwanya. Istriku baik-baik saja. Alat makanku yang dilihatnya benar. Aku memang memegang pisau, bukan sendok seperti yang kutegaskan padanya. Itu semua skenarioku. Kubuat seakan-akan istriku gila dan kubayar psikiater untuk berbohong agar rencanaku berjalan tanpa hambatan.

Aku ingin istriku enyah dari kehidupanku. Aku bosan menunggu ia mengandung. Aku butuh keturunan. Aku ingin menceraikannya. Aku ingin menceraikan seorang istri yang gila.

Kuambil pisau —aku sadar yang kuraih memang pisau. Yang membuatku aneh, istriku tidak menyerobot pisau itu. Ada apa ini? Batinku.

Aku arahkan ujung pisau ke arah mulut. Bersamaan dengan itu istriku berdiri dari duduknya. Kukira ia akan mengambil sesuatu di dapur, tetapi ternyata menghampiriku. 

Saat ujung pisau yang penuh makanan sudah di dalam rongga mulutku, ia dorong kuat tanganku yang memegang gagang pisau sembari berkata, “Itulah hal yang pantas diterima lelaki sepertimu!”

*** Bantul, 2020

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul ‘Aku Memakan Pohon Mangga’ (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.