Utang – Tosca Santoso

Duka mengambang, seperti laron lepas sayapnya. 

Mula-mula dengung itu bersliweran. Hilir-mudik di sepetak rumah Endi. Dari sana terdengar ratap tangis kian lirih.  Sebelum Elis terjatuh di lantai. Diam. Tak bergerak. Tanpa suara.  Duka perempuan yang baru ditinggal mati suaminya. 

“Pinjam uang ke pamanmu.” Itu kalimat pertama Elis setelah siuman. 

Heri, anaknya segera paham.

Mereka perlu Rp 4 juta. Segera. Tak dapat ditunda. Untuk penguburan bapaknya. Tak ada simpanan sepeserpun di rumah mereka. Menabung bukan kebiasaan keluarga Elis. Bahkan ketika Endi masih sehat dan mampu bekerja. Uangnya selalu habis untuk makan sesehari. Kalau perlu dana dadakan, mereka bersandar pada utang.  Sekalipun dengan bunga yang seringkali teramat tinggi. 

Kali ini, Elis butuh untuk : gali kubur, pernak-pernik urus jenazah dan tukang doa.  Tak ada yang gratis. Bahkan untuk urusan kematian.

Untunglah sang paman, adik Endi yang bandar sayur itu, punya simpanan. Tanpa banyak tanya, ia serahkan uang untuk pemakaman kakaknya. Tiga penggali kubur juga sudah bekerja, tanpa perlu disuruh-suruh. Beberapa pengurus langgar, sudah menyiapkan perangkat jenazah : kafan, kapas, minyak wangi. Dan, di pagi yang mulai terik, mereka menguburkan jasad Endi. Petani Kopi di Kampung Kenanga, kaki Gunung Halang itu, mati. Belum 55 tahun usianya.

Setelah doa dirapal, mengantar jiwa Endi ke alam baka, Ustad Ade atas nama keluarga tak lupa berpesan agar bila ada utang-utang almarhum, segera disampaikan kepada keluarga.  Peringatan tentang utang-piutang, selalu diulang dalam tiap pemakaman.  Bukan basa basi. Juga bukan hanya karena agama memerintahkan semua orang membayar lunas utang mereka.  Tetapi, pesan itu menggaris-bawahi pentingnya utang dalam hidup keluarga di Kampung Kananga.  Hampir semua orang pernah berutang. Oleh karena satu dan lain sebab. 

“Kalau almarhum ada sangkutan utang, jangan ragu sampaikan pada keluarganya,” kata Ustad menegaskan sekali lagi.

Elis mendengar samar-samar tentang utang suaminya yang akan didaftar.  Dan ia masih berpikir keras kemana lagi harus mencari utang dalam beberapa hari ke depan.  Setelah pemakaman, ia harus siapkan biaya tahlilan 7 hari beruturut-turut. Ada besek makanan yang harus disiapkan tiap hari untuk tahlilan itu.  Lalu tahlil akan berubah jadi mingguan, sampai 40 hari. Total masih dibutuhkan Rp 10 juta untuk  tahlilan sampai tuntas.

Meski jasadnya sudah dikubur, petani Kampung Kenanga tidak berhenti membuat utang baru. Duka perlahan boleh pergi.  Tetapi sisa utang, masih akan tinggal lama bersama keluarga. 
***

Elis membawa STNK motor anaknya kemana-mana. 

Ia tawarkan motor itu, sebagai jaminan utang untuk  biaya tahlilan mendiang suaminya. Sayangnya tak mudah bertemu orang yang tebal kantong di masa pandemi ini. Bahkan bandar-bandar sayur yang biasanya ringan mengambil gadai motor, kini terlihat enggan. Harga sayuran ambruk. Perdagangan lesu.  Mereka lebih suka menyimpan uang tunai.

Lelah dan gagal mencari utang, Elis kembali ke warung tempat ia biasa mengambil beras. Juga kebutuhan lain selama tahlilan. Tiba di warung, Elis disambut wajah masam tetangganya. Penjaga warung sudah tahu, Elis akan nganjuk lagi.

“Ini STNK-nya simpan saja,” kata Elis putus asa.  

Pemilik warung tak semangat. Tapi juga tak menolak. Karena tahlilan masih akan beberapa kali. Ia berhitung : utang Elis makin akan menumpuk sampai ritual itu selesai. Lebih baik, kalau STNK motornya dipegang, sebagai jaminan. Pedagang itu sekalian minta supaya motornya disimpan di warung.  Jadilah, pulang belanja, Elis berjalan kaki. Motornya digadaikan ke warung tetangga. 

Heri, anaknya terpaksa berhenti ngojek mulai besok. Entah apa yang bisa dilakukan pemuda tanggung itu, selain narik ojek. Setelah lulus SMK yang dibiayai dengan banyak utang, Heri tak pernah mau lagi ke kebun kopi membantu bapaknya. Mungkin ia merasa, ijazah SMK tak cocok ada di kebun. Malu bergaul dengan parang dan cangkul.

Tentu bukan kali ini saja, Elis minta tolong sana-sini untuk berutang. Waktu harus ke dokter karena tekanan darahnya melonjak naik, ia juga pinjam uang tetangga. Setelah bolak-balik ke bidan Puskesmas, tensinya tak kunjung turun, ia memutuskan ke dokter di kecamatan. Perlu dana Rp 300 ribu, itupun harus utang. Untungnya tekanan darah Elis cepat kembali normal sekembali dari dokter kecamatan, dan teratur konsumsi labu siam.

Utang paling besar terjadi tahun lalu. Ketika tiba-tiba Endi tak bisa bangun dari tempat tidur. Kakinya bengkak tak dapat digerakkan. Disentuh saja ia mengaduh. Dibawa ke dokter kecamatan tak sembuh, Endi akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Seminggu di sana, mereka sudah berhutang Rp 10 juta ke Haji Elan, bandar sayur terbesar di Kampung Kenanga. 

Ketika dibolehkan pulang, Endi tetap tak bisa ke kebun. Kakinya hanya bisa digeser-geser sedikit. Tapi tak mungkin dibawa berjalan ke kebun, yang 3 kilometer jaraknya dari rumah mereka.  Kebun kopi seluas setengah hektar itu jadi terlantar. Panennya tak maksimal. Sampai Endi meninggal, utang pada Haji Elan belum terbayar.

“Sekalian dibeli saja kebunnya,” ujar Elis ketika bandar sayur itu ikut tahlilan di rumahnya. 
“Mau dilepas berapa?” tanyanya.
“Dua puluh juta,” jawab Elis.

Haji Elan berhitung cepat. Piutangnya ke Endi Rp 10 juta. Ditambah bunga 20%, total menjadi Rp 12 juta. Ia hanya perlu menambah Rp 8 juta untuk dapat kebun kopi 12 patok lebih.  Kalau dirawat baik, kebun itu dapat menghasilkan gelondong robusta 2,5 ton satu musim panen. Dengan harga panen petik merah Rp 5.000 per kg, omsetnya 12,5 juta/tahun. Dua kali panen saja, sudah balik uangnya. Maka, ia dengan ringan menyanggupi akan menambah utang Rp 8 juta, dengan imbalan kebun kopi. 

Setelah tahlilan hari ke tujuh, perjanjian alih kebun itu ditandatangani.  Bukan hanya Elis yang membubuhkan cap jarinya di sana, tetapi semua anak-anaknya juga. Heri yang lulusan SMK sudah bisa tanda tangan. Maka, ia torehkan tanda tangan itu dengan gemetar. Dalam sepekan, ia kehilangan bapak. Juga kehilangan kebun yang sangat dicintai bapaknya.
***

Tanpa motor di tangan, Heri gelisah sejak pagi. 

Biasanya, jam begini dia sudah berangkat ke pangkalan ojek. Kalaupun tak ada tarikan, ia lebih senang ngobrol dengan banyak kawan di sana. Tapi beberapa hari ini, Heri memilih diam di rumah. Tak ke pangkalan. Ia malu, motornya masih digadaikan ke tukang warung.  Uang dari Haji Elan, hanya cukup untuk biaya tahlilan. Ia lega karena tahlilan Bapaknya sudah tuntas.  Tapi, tak dipungkiri, ada kecewa juga. Karena motornya tak dapat ditebus.

Mondar-mandir di rumah sepetak, Heri segera bosan. Tak sadar kakinya melangkah ke luar rumah.  Tanpa tujuan pasti, ia ikuti jalan setapak yang membelah kampungnya.  Rumah-rumah sepi. Petani yang punya kebun, sudah berangkat ke kebun mereka.  Sebelum pertigaan jalan, Heri berbelok. Ia menghindari arah pangkalan ojek. Enggan bertemu kawan-kawannya. Diikutinya jalan yang menyempit itu, sampai ujung kampung. 

Kini, dia punya dua pilihan di sana. Ke kiri, tempat makam bapaknya yang baru ia tengok beberapa hari kemarin. Ke kanan, ke arah hutan. Jalur yang lama tak dilaluinya.

Heri memilih belok ke kanan. Jalan setapak itu tak asing baginya. Hanya sudah lama sekali tak dilewatinya.  Waktu kecil, ia sering diajak bapaknya ke kebun. Ia suka membantu apa saja di sana. Membersihkan rumput. Mengumpulkan kopi sisa luwak.  Juga bermain. Tapi, keasyikan itu terhenti total ketika ia masuk SMK. Kebun kopi tak lagi menarik minatnya.  Kebun tak cocok dengan apa yang dibayangkan sebagai kemajuan di kelasnya : tentang komputer dan teknologi.  Sekarang pun tidak. Ia hanya berjalan mengikuti kata hati. Menghindari rumah. Menghindari teman-teman di pangkalan ojek yang akan bertanya tentang motor yang belum ditebus.

Di tepi kebun bapaknya, Heri tertegun. Belum pernah ia melihat kebun bapaknya semrawut begitu. Rumput tinggi, berebut cahaya dengan kopinya. Akarnya mungkin sudah saling silang, bersaing menyerap makanan dengan akar kopi. Kebun ini mirip kembali jadi hutan belukar. Kopinya masih tegak, tapi jelas tak sesubur ketika masih dirawat bapaknya.

Heri tak sadar melangkah ke dalam kebun. Dilihatnya sebagian buah sudah merah. Waktunya dipetik. Makin ke tengah kebun, Heri makin tenggelam dalam ingatan tentang bapaknya.  Ia berhenti di depan saung. Tempat dulu bapaknya beristirahat makan ketika menjelang siang. Bersama, ia ikut nikmati bekal makan yang dibawa dari rumah : nasi, Ikan asin, sambal dan lalapan..

“Petik yang merah,” kata Bapaknya terngiang.

Heri mendengar suara itu di kedalaman hatinya.  Ia segera bergerak menjauhi saung. Dengan karung bekas pupuk yang didapatnya di saung,  ia hampiri pohon kopi yang banyak merahnya. Dipetik satu per satu, dan dimasukkannya dalam karung.  Heri asyik memetik kopi.  Di kepalanya, tergambar jelas wajah bapaknya sedang tersenyum. Gembira menyongsong musim panen.  Heri makin bersemangat. Setelah penuh satu karung, ia simpan gelondong kopi basah itu ke dalam saung. Dan, berangkat lagi dengan karung kosong ke arah berbeda.

Demikian. Tanpa capek Heri memanen kopi. Ia hanya memetik dan memetik. Ia berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dengan penuh semangat. Yang ada dibayangannya adalah wajah bahagia bapaknya, melihat biji-biji kopi yang merah sudah dipanen. Setelah karungnya terasa penuh, ia bawa ke saung. Heri begitu terpusat perhatiannya pada panen, sampai-sampai tak disadarinya ada tiga orang menghampiri saung. Dua pemuda dan seorang polisi hutan.

“He, siapa yang suruh panen,” teriak pemuda itu.

Heri tak menjawab. Tangannya bergerak dari satu buah merah ke buah lain. Matanya tertuju hanya pada buah merah.  Ia mendengar teriakan orang yang datang. Tapi tak berminat menjawab.  Perhatiannya pada panen, dan Bapaknya yang gembira melihat hasil panen.

“Berhenti. Siapa yang suruh panen?” pemuda itu ulangi hardikan. Sambil merangsek ke tempat Heri berdiri. Tiga orang mengelilinginya. Heri teruskan memetik buah kopi.
“Berhenti!” kata polisi hutan.

Heri terus memetik kopi.

“Siapa yang suruh panen?” hardik polhut.
“Bapak saya yang suruh,” jawab Heri.
“Tapi kebun ini sudah dibeli Haji Elan. Bukan punya bapakmu lagi,” kata pemuda yang ternyata kenal Heri. Pemuda sekampung di Kenanga.  Ia berbisik kepada polisi hutan, kalau Bapaknya Heri, baru meninggal belum lama ini.

Heri tetap memetik kopi.

“Kebun ini punya Haji Elan. Kamu ikut tanda tangan penjualannya,” kata si pemuda.

Heri tetap memetik kopi.

Polisi hutan tak sabar lagi. Ia meringkus tangan Heri. Menariknya ke belakang, dan diikat dengan tali seadanya. Pemuda yang seorang lagi, menampar muka Heri berkali-kali. 

“Sudah dibilang kebun Haji Elan. Kamu mencuri kopi orang,” katanya.

Dan dengan tangan diikat ke belakang, Heri digelandang ke kantor kehutanan.  Ia dipaksa menginap semalam di sana, dan menandatangani berita acara pencurian kopi. Karena pertimbangan kasihan, Haji Elan tidak melaporkan kasus pencurian itu ke polisi. Pemuda suruhannya, membawa hasil panen ke rumah Haji Elan.  Dikumpulkan dengan hasil panen kopi dari petani lain, sebelum dijual ke tempat pengolahan kopi di kecamatan.

Esoknya Heri pulang, disambut cemas oleh ibunya. Mukanya lecek, semalam tak dapat tidur di kantor Polhut. Bekas tamparan kaki tangan Haji Elan, masih merah di pipinya.  

“Kamu kan ikut tanda tangan, waktu kebun dijual. Jangan diulangi,” tegur Elis.

Heri tak menjawab.  Ia memandang wajah ibunya dengan iba. Sementara pesan bapaknya terus terngiang, supaya ia memetik kopi yang sudah merah.  

Tahun ini, panen kopi berlalu tanpa kegembiraan. Biji merah memang masih keluar dari kebun-kebun. Sebagian dari kebun Endi, yang semrawut dan banyak ditumbuhi belukar. Kusut seperti utang yang menjerat kaki petani Kampung Kenanga.
***

Tosca Santosohampir tiga dekade berkarir sebagai wartawan. Pernah mengelola terbitan AJI, Independen, dan mendirikan Kantor Berita Radio, sekarang  menikmati pensiunan yang asyik menanam kopi bersama petani Sarongge. Kopi untuk merawat hutan dan menambah penghasilan petani. Di sela-sela mengolah Kopi Sarongge (https://kopisarongge.com), ia menulis fiksi, antara lain : Sarongge (2012) dan Ladu (2016). Sesekali masih liputan untuk diterbitkan sendiri, misalnya : Cerita Hidup Rosidi (2016), Lima Hutan Satu Cerita (2019). Pandemi membuatnya belajar menulis cerita pendek. Email : kopisarongge@gmail.com  IG : toscasantoso