Dari Relawan Tsunami ke Pengasuh Kucing – Fakhrurrazi

Natalina Cristanto

Natalina Cristanto adalah seorang dokter yang memelihara puluhan kucing beragam ras. Di rumahnya, ia bangun sebuah ruangan berukuran 4×15 meter sebagai kandang kucing dan taman hias sehingga kesannya tetap seperti alam liar.

“Awalnya memang saya dari kecil suka sama hewan peliharaan, cuma terkendala waktu masih sekolah dan kesibukan kuliah juga, jadi akhirnya nggak bisa fokus,” ujar wanita asal Bandung Natalina yang tinggal di kawasan Lamdingin, Kota Banda Aceh, sejak delapan tahun lalu

Dia menyeberang ke Aceh tahun 2005 sebagai relawan medis untuk gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2014 lalu.

“Saya ke sini sebagai relawan tsunami, terus Kemenkes RI buka lowongan banyak untuk dokter, saya mendaftar dan penempatan di Lamteuba,” ungkapnya.

Diapun tinggal di kawasan Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, hingga tahun 2012. Lamteuba merupakan salah satu kawasan yang selamat dari sapuan tsunami, sehingga korban-korban dievakuasi ke sana.

Natalina Cristanto

Menikah dengan pria asli Aceh, Natalina kemudian pindah ke Kota Banda Aceh tahun 2012, bekerja di salah satu rumah sakit Malaysia cabang Provinsi Aceh, dan mulai memelihara kucing.

“Di Lamteuba, waktu itu, karena pekerjaan jadi nggak bisa fokus juga (pelihara kucing). Sekarang pekerjaan sudah lebih ringan dan bisa mengatur waktu, jadi mulai lagi memelihara dari tahun 2012 sampai sekarang,” kata dia.

Ada 61 ekor kucing yang dipelihara Natalina dari ras beragam, seperti Bengal, Ocicat, Abbysinian, American Curl, Exotic, Persia, Sphynx, Munchkin, Kinkalow, dan Mainecoon. 

Sebagian kucing itu merupakan jenis berharga mahal di pasar hewan peliharaan: bisa mencapai jutaan rupiah. Namun dia juga memelihara kucing kampung, yang terlantar.

“Dari jalanan atau dari tempat-tempat buang sampah gitu, tapi yang saya ambil yang kecil-kecil aja, yang besar-besar nggak saya ambil. Selain kucing jalanan, ada yang memang saya adopsi untuk ras-ras tertentu. Ada juga yang dikawinin sama kucing punya kawan dan nanti anaknya dibagi.”

Natalina Cristanto

Semua kucing peliharaan itu diberi nama, yang terdengar tidak bisa untuk kucing maupun hewam peliharaan, seperti Sierra Nevada, Raflesia, Ali Baba, Tanzania, Alphard dan Mercedes.

Nama-nama tersebut, kata Natalina, ditabalkan sesuai dengan karakter kucing. Untuk kucing yang terlihat gagah misalnya, maka namanya sedikit ekstrim, diambil dari nama-nama pegunungan di berbagai belahan dunia.

“Kalau kucing bengal pakek tema pegunungan: Fuji Yama, Everest, Sierra Nevada,” tambahnya.

Sekaligus pula nama-nama kucing itu menjadi bahan pembelajara untuk anaknya. “Jadi dia tau Fuji Yama, nama-nama pegunangan.”

Natalina Cristanto

Dan kucing-kucing Natalina kerap diikutkan dalam berbagai kontes nasional maupun internasional. Dari kontes yang diikuti sejak 2017, barisan kucing Natalina meraih ratusan penghargaan.

Sebelum pandemi Covid-19, kontes kucing dilaksanakan secara luring (luar jaringan) atau offline. Para peserta kontes membawa kucingnya satu per satu ke meja dewan juri, yang akan menilai telinga, kehalusan bulu, kelincahan, kesehatan, dan kebersihan telinga maupun mulut kucing peserta kontes.

“Sekarang ini kan masa pandemi, show-nya ditiadakan secara langsung. Tapi ada yang virtual, yang tingkat nasional dan yang terakhir ikut internasional dengan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina. Alhamdulillah menang.”

Secara virtual, jelas Natalina, kontes kucing dilakukan melalui aplikasi Zoom. Peserta kontes mempresentasikan kucing-kucing andalannya di depan dewan juri.

“Misalnya jenis American Curl, apa telinganya yang melipat, kemudian profil mukanya. Jadi nanti di Zoom itu harus ditunjukin. Juga harus dimandikan dan nanti diminta dikibas bulunya. Kan bisa kelihatan juga.”

Untuk kucing berbulu panjang, biasanya dimandikan dua minggu sekali sedang yang berbulu pendek sekali sebulan atau bahkan lebih lama, sekali dua bulan. Masih ada lagi perawatan harian berupa penyisiran bulu.

Kucing peliharan Natalina Cristanto

Mengurus 61 ekor kucing, kata Natalina, tidak mengganggu waktu kerja dan mengurus keluarga. Bahkan tak jarang kucing-kucing itu menghibur sepulang kerja dengan menyambutnya dan mencium-ciumnya, yang terasa seperti pijatan. Lelahnya pun hilang.

“Setiap hari tingkah mereka ada-ada aja, selalu berubah-ubah. Kalau yang lucunya ada yang nyanyi saat dimandikan, ada yang diam berendam, juga ada yang guling-guling dan lompat-lompat,” kenangnya.

Sudah puluhan kucing dengan beragam karakter dirawat Natalia dan sampai kapan? Tidak ada batasan untuk memelihara, selagi mampu,” ujarnya.

Jadi Natalina masih akan terus menampung kucing-kucing yang ditemuinya di jalanan yang kondisinya memprihatinkan.
***

Fakhrurrazilahir di Alue Sungai Pinang, Kabupaten Aceh Barat Daya. Lulus dari Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara tahun 2019 lalu, kini bekerja sebagai jurnalis di Banda Aceh.