Maya – Reni Asih Widiyastuti

Tak pernah kulihat perempuan memakan sebatang cokelat dengan rakusnya seperti sekarang. Bahkan bunyi kecapnya terdengar keras sekali. Membuatku risi dan ingin segera meninggalkan kafe ini. Tapi urung kulakukan lantaran perempuan itu mulai mengelap bibirnya dengan saputangan. Lalu dia beranjak, menuju panggung mini yang memang sepertinya sudah disediakan oleh pemilik kafe.

Perempuan itu mulai bernyanyi. Suaranya begitu merdu. Orang-orang di sekelilingku sesekali berteriak. Memberikan siulan-siulan sebagai apresiasi atas penampilan memukaunya. Seolah-olah mereka telah mengenal perempuan itu sejak lama. Tidak seperti aku yang baru pertama kali melihatnya.

Satu lagu telah ia tamatkan dengan begitu memesona. Tidak lama kemudian, badannya membungkuk—memberi hormat. Aku terkesima sekali saat dia berjalan tegap, melintas di tengah-tengah para pengunjung kafe. Mereka memberikan standing applause untuknya. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Dia kembali ke tempat duduknya dan melumat sebatang cokelat yang baru saja dikeluarkannya dari dalam tas. Tapi yang mengherankan adalah, dia tidak seperti pengunjung kebanyakan, yang sudah pasti setidaknya memesan walau hanya satu gelas minuman.  Ya, bahkan mejanya terlihat bersih. Aku semakin asyik mengamati tingkah uniknya. Tiba-tiba aku merasa dia menatapku dengan tajam. Aku sengaja tak mengalihkan pandangan dan melayangkan sebuah senyuman padanya. Namun dia tak membalas. Sialan, sombong sekali!

Selama hampir seperempat abad hidup di dunia, baru kali ini ada perempuan yang teramat cuek padaku. Akhirnya aku bertekad memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Persetan dengan perilakunya yang amat menjijikkan itu. Jika aku berhasil mendekatinya, maka level tertinggi sebagai lelaki penakluk perempuan di kampus masih jatuh pada diriku.

Kupikir hal yang membuatku begitu tertarik adalah paras cantik yang menghiasi wajah perempuan itu dan aku mantap ingin mendekatinya. Dalam keyakinan yang semakin membuncah itu, aku ingat nasihat seorang teman. Bagaimana menaklukkan tipe perempuan sejenis ini. Tapi nasihat itu terus terang saja membuatku kebingungan setengah mati.

“Timpuk saja kepalanya! Dia pasti mengaduh, lalu berbalik memberikan respons padamu!” saran temanku kala itu.

Kalau saja kuikuti nasihat itu, akan banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang akan menimpa diriku. Kalau tidak, ya pikirkan cara lain!

Perempuan itu menuntaskan lahapan cokelat terakhirnya saat langkah kakiku berhenti persis di depan mejanya. Entah sejak kapan aku mulai berjalan. Tahu-tahu saja sudah berada di hadapan perempuan yang beberapa menit lalu kuketahui bernama Maya. Ya, karena orangorang berulang kali menyebutkan nama itu saat dia menyudahi nyanyiannya. Sesaat lalu kusaksikan semua jari-jari tangan dimasukkan ke dalam mulutnya—satu per satu. Hingga cokelat-cokelat itu tak bersisa. Air liurnya juga menetes di sana sini. Menjijikkan!

“Hai, Maya.”

Dia mendongak, tapi tatapan matanya kosong.

“Oh, maaf. Apakah Anda berbicara dengan saya?” tanyanya kemudian.
“Tentu saya berbicara denganmu, Maya. Memangnya apa ada Maya lain di sini?”
“Maaf, sekali lagi maaf.”

Setelah itu, tak ada percakapan lain di antara kami, karena Maya tiba-tiba saja meninggalkanku sembari berlari tak tentu arah.
***

Aku tidak bisa tidur malam harinya lantaran memikirkan Maya yang wajahnya bak sinar bulan purnama itu. Bagiku, perempuan tanpa riasan wajah sepertinya adalah perempuan yang apa adanya. Dan tentu saja Maya telah membuat hatiku begitu silau, sama seperti pancaran wajahnya yang sangat memikat itu.

Meskipun tingkah lakunya menjijikkan dan aneh sekali, tapi aku yakin kalau dia adalah gadis yang telah Tuhan pilihkan untukku. Tapi, yang sedikit membingungkan adalah saat sebuah tongkat lipat yang tak sengaja kutemukan sewaktu dia meninggalkanku di kafe itu tanpa sepatah kata pun. 

Bagaimanapun juga, aku akan mengembalikan tongkat lipat yang mungkin sangat penting baginya itu. Maka kuputuskan untuk kembali ke kafe esok hari pada jam yang sama. Masa bodoh kalau dia akan memberikan respons yang sama seperti kemarin.

Hujan baru saja mengguyur jalanan kota yang hitam, menyisakan genangan di beberapa titik. Meski begitu, aku lebih memilih memesan taksi online sebagai sarana pergi ke kafe. Beberapa kali aku melirik jam di tangan. Sudah hampir pukul lima, seharusnya aku sudah berada di kafe, karena kutaksir Maya sudah tampil sejak setengah jam yang lalu. Beruntungnya, Pak Sopir cukup gesit membelah jalan, jadi kupikir tak terlalu terlambat.

Akhirnya, taksi yang kutumpangi ini sampai juga di depan pintu masuk kafe. Segera kurogoh saku celana untuk mengambil uang guna membayar. Sedikit lari aku merangsek, melewati beberapa orang yang berkerumun. Sebenarnya Pak Sopir berulang kali memanggilku, bilang soal uang kembalian. Tapi tak kupedulikan. Biar saja, toh hitung-hitung buat amal.

Di dalam kafe, aku sengaja memilih tempat duduk yang tempo hari digunakan Maya. Baru saja mendaratkan pantat di atas kursi, senyum di wajahku seketika sirna. Tak ada Maya di atas panggung. Ke manakah dia? Atau jangan-jangan hari ini dia absen?

Akhirnya, aku mencoba bertanya pada salah satu pelayan. Pelayan itu bilang kalau Maya baru saja selesai bernyanyi, setelah itu menuju ke toilet. Aku pun segera ke toilet untuk memastikan dan menunggu di dekat pintu keluar-masuk. Tapi, ada yang menggelitik pendengaranku, karena ada seorang perempuan yang tengah asyik bertelepon ria.

“Saya sudah melakukannya, Tuan.”

Hanya itu yang jelas tertangkap oleh telingaku. Selebihnya, aku mengintip dan justru lebih fokus pada air yang memerah —menggenang di dalam wastafel.
***
Semarang, Juli-Oktober 2020

Reni Asih Widiyastuti, penulis asal Semarang, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Salah satu bukunya telah terbit, yaitu ‘Pagi untuk Sam’. Penulis bisa dihubungi melalui email; reniasih17@gmail.com