Memang (Bukan) Karena Seorang Ibu – A Nur Ahmad

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel adalah NGO tertua dan pertama di Sulawesi Selatan yang peduli  pada masalah anak, mulai advokasi, perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak. 

Berdiri 21 tahun lalu, pada 7 Desember 1998, kisah perjalanan LPA Sulsel ditulis dalam buku oleh salah seorang pendirinya, Fadiah Mahmud.  Maka tidak mengherankan jika alur cerita saling beririsan seperti dua anak tangga RNA -Fadiah Mahmud dan LPA Sulsel- yang membentuk DNA (Bukan) Karena Aku Seorang Ibu.

Awalnya adalah keprihatinan atas persoalan hak-hak anak yang terabaikan dan kasus-kasus kekerasan kepada anak, mengundang para pegiat NGO. Diperkuat oleh  penelitian yang dilakukan oleh Selle KS Dalle dan teman-temannya di Yapta-U. embrio LPA Sulsel-pun mulai disiapkan.

Fadiah Machmud adalah yang ditugasi untuk menyiapkan rapat, pertemuan sampai terbentuknya LPA Sulsel. Kerja-kerja yang harus mempertemukan berbagai pihak dengan latar belakang beragam ini bukan hal  mudah, mengingat perbedaan karakter dan gaya kerja orang pemerintah, akademisi, dan LSM, yang menjadi tulang punggung LPA Sulsel. Namun Fadiah Machmud berhasil menjalankan perannya sebagai seorang organisator, meski saat itu ia bisa dikatakan pendatang baru. 

Ketika LPA Sulsel terbentuk, Fadiah Machmud yang sehari-hari menjalankan organisasi sehari-hari sebagai Office Manager  di bawah kepemimpinan Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, MBA, yang saat itu menjabat Rektor Universitas Muslim Indonesia(UMI). Empat tahun kemudian, 2012, Fadiah dipilih menjadi Ketua LPA Sulsel.  

Dari urusan embrio dan organisasi, cerita bergerak ke bab berikut tentang sepak terjang LPA Sulsel dalam memperjuangkan dan pemenuhan hak-hak anak di Sulsel.

Salah Satunya adalah  mengkampanyekan Akta Kelahiran anak di Sulsel dan 1.000 akte gratis bagi anak tidak mampu. Awalnya jelas banyak tantangan dan hambatan, terutama masih kurangnya kesadaran para orang tua akan pentingnya akte kelahiran. Masih ada lagi biaya akte kelahiran yang dianggap mahal sementara pemerintah belum melihat pentingnya isu tersebut. Tapi LPA bekerja keras melakukan advokasi dan kampanye-kampanye, terutama melakukan lobi-lobi dengan para kepala daerah yang ada di Sulsel. Hasilnya? 

Kampanye Akta Kelahiran LPA Sulsel menjadi program nasional di jaman Megawati sebagai Presiden Indonesia.

Hasil kerja yang juga fenomenal terkait  restorative justice. LPA Sulsel berhasil mengkampanyekan pentingnya peradilan anak yang terpisah dari peradilan orang dewasa. Berkat kampanye LPA Sulsel, Kapolda Sulsel  Firman Gani sampai membentuk Polisi Peduli Anak (PPA) dan Tim Terpadu untuk menangani kasus-kasus anak yang terlibat kejahatan pada tahun 2001. Penanganan secara khusus kejahatan anak oleh polisi belum pernah ada di Indonesia sebelumnya: LPA Sulsel dan Polda Sulsel adalah pelopornya. 

Bagaimanapun, seperti dijelaskan Fadiah Machmud, LPA Sulsel tidak sekedar reaktif merespon isu-isu yang sedang hangat. LPA Sulsel secara sistematis menjaga agar isu hak anak terus-menerus ada di ranah publik, dengan secara simultan mengangkatnya pada Anak Nasional, Hari Pendidikan Nasional, dan even-even lain. Sosialisasi isu hak  anak dan kekerasan terhadap anak juga ditempuh lewat ke berbagai kabupaten. 

Sadar akan posisinya sebagai NGO yang tak punya wewenang hukum, LPA Sulsel secara konsisten mengingatkan pemerintah (daerah) untuk mengambil tanggung jawab dalam penanganan masalah anak. Maka isu anak selalu melekat dalam pembahasan program-program pembangunan, baik itu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan pembahasan APBD di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi di Sulawesi Selatan.

Pada Bab 4, diuraikan beberapa isu-isu keseharian terkait anak, seperti pembunuhan anak oleh bapaknya sendiri, anak yang dikeluarkan dari sekolah karena memukul guru, pencabulan anak oleh gurunya, maupun PERPPU Kebiri adalah beberapa isu yang direspon oleh LPA Sulsel. 

Salah satunya kasus pemukulan atas Dahrul, seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Makassar oleh seorang siswa dan ayah siswa tersebut. Dahrul mengalami luka-luka memar di wajah dan mulut dengan darah mengalir dari tulang hidungnya yang patah. Dia melaporkan pemukulan itu ke Polsekta Tamalate.

Penganiayaan berawal karena dia menegur MAZ, muridnya yang tidak membawa perlengkapan menggambar dan buku. Diapun menyuruh MAZ keluar dari ruang kelas sambil menepuk pundaknya. MAZ lalu mengadu kepada ayahnya yang tak terima atas perlakukan anaknya dan datang ke sekolah. Ayah dan anak itu memukuli Dahlur.

Kasus yang mendapat perhatian meluas itu membuat PGRI mendesak agar MAZ dikeluarkan dari sekolah dan tidak boleh diterima di sekolah manapun. Namun Fadiah, sebagai Direktur LPA Sulsel, berprinsip siswa -yang memukuli gurunya itu- tetap harus bersekolah. “Undang-undang perlindungan anak harus ditegakkan,” tegasnya namun dengan sabar menjelaskan prinsip LPA tentang hak-hak mendasar anak.

(Bukan) Karena Aku Seorang Ibu menarik karena menampilkan dua sejarah dalam satu paket: perjalanan penulis dan perjalanan tempatnya bekerja. Awalnya ada kesan bahwa buku ini hanya berkisar pada perjalanan hidup seseorang -yang mungkin tak banyak dikenal orang- namun memasuki bagian kedua sampai akhir, penuturan karya sebuah organisasi yang perduli anak dengan penuturan kisah pribadi -yang juga merupakan seorang ibu- akan membuat pembaca larut membuka halaman demi halaman. Sejarah menjadi tidak membosankan dengan bahasa bertutur pribadi, layaknya sebuah novel yang berisi fakta-fakta nyata.  

Fadiah Machmud tidak terjebak untuk menonjolkan diri sebagai yang ‘paling’ berjasa dalam kerja-kerja LPA Sulsel, juga sekaligis tidak merendahkan diri sehingga perannya menghilang. Fadiah Machmud secara lugas dan rinci memaparkan kenyataan tentang peran masing-masing pihak (dengan menyebutkan nama-nama) dalam membangun dan membuat LPA Sulsel berkarya. Sebagai mana sebuah novel yang menarik, kisahnya bukan hanya tentang satu satu orang tapi banyak karakter yang saling berinteraksi. 

Dan Fadiah Machmud menempatkan diri sebagai seorang yang belajar dari para seniornya, yang menghargai kontribusi semua pihak, yang mengungkapkan dengan tepat perannya. Akhirnya, tidak ada kesan buku ini adalah biografi seseorang, tapi banyak kisah, cerita, dan tokoh yang diulas dengan peran masing-masing.

Peran Fadiah sendiri berangkat dari keyakinanan bahwa setiap orang seharusnya mempunyai kepedulian kepada manusia lain, khususnya mereka yang lemah, seperti anak-anak dan perempuan. Keyakinan itu yang membuat dia menghibahkan hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak anak, jadi bukan sekedar naluri sebagai seorang ibu dari  dua orang anak  semata. Didukung oleh kemampuan mengorganisir dan berkomuniasi secara tegas dan santun, keyakinannya tadi mengangkatnya sebagai ‘Tokoh Perempuan’ yang sangat berjasa bagi anak-anak, kaum perempuan, dan pendidikan di Sulawesi Selatan. 

Maka judul (Bukan) Karena Aku Seorang Ibu menjadi terasa amat tepat menggambarkan isi buku ini. 

Fadiah menutup catatannya dengan harapan, sadar bahwa isu anak di Sulawesi Selatan -juga di Indonesia- belum terselesaikan sepanjang 21 tahun perjalanannya bersama KPA Sulsel: “Saya berharap LPA Sulsel bisa menjadi rumah besar bagi siapapun yang peduli pada masalah anak.” 
***

A. Nur Ahmad, lahir di makassar, bekerja sebagai jurnalis dan aktif di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan.