Kepungan Kata – Alexander Robert Nainggolan

kau tahu akan sulit dan rumit
sekadar sembunyi dari alamat sunyi
setiap butir debu yang tergelincir
mungkin hanyalah kerumunan aksara
terbang sia-sia bersama usia
atau langkah yang pecah
tanpa meninggalkan jejak darah

di dalam kepungan kata
telah kubawa serta untuk berakhir pekan
miniatus dari hujan dan kenangan yang sekejap ciut
merebut kerut kalut
atau senyuman kecut dari ibu
yang bertahun menunggu kedatangan anak kandungnya
*** 2019

Ibu di Seberang

ibu di seberang, aku tahu akan selalu berdoa dalam setiap rindu, meski kami kehilangan warna percakapan. tapi aku tahu, ibu akan kerap menunggu. di pintu waktu sebelum semuanya membeku.

ibu di seberang, remang-remang masalalu menjelma cahaya benderang. menampar tubuh yatimku, merapikan sketsa buram yang kerap kulupakan. dan ibu terus bercerita. membagi sulur cahayanya, menegaskan ingatan yang puluhan tahun berkemah dalam tubuhnya.
*** 2019

Ingat Ayah

ayah terus berlarian, membawa semua masa kecil juga dewasaku. ia berlintasan di jalan-jalan yang kulintasi. menyuguhkan semangat yang berat kubawa, di bawah siang dan malam. ayah seperti berucap, “engkau adalah lelaki yang kuat! dan tempuhlah jalan itu.”

lalu, setiap hari kutempuh dengan bangga jalan-jalan yang sering kaulewati. dadaku mendadak penuh, jika aku kelak akan utuh menjadi ayah.
*** 2019

Kepala Puan

apakah yang tertinggal dalam kepalamu, puan? saat kita menyibak hutan asmara lalu kehilangan arah. kita yang lupa, bagaimana aku menciummu pertama kali. dan sore selalu terlambat datang, engkau tak lagi menghidangkan kopi bagiku. atau pijatan ringan bagi betisku yang kerap ngilu. meskipun berpuluh tahun lewat, aku pernah tinggal dan menetap di sana, memahami nama atau jalan akal yang acap terpenggal. bolehkah, puan– untuk beberapa kali lagi, aku punguti remah-remah percakapan denganmu? 
*** 2019

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan), lahir di Jakarta dan bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Administrasi Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di banyak media, antara lain Majalah Sastra Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, Medan Bisnis, dll. Beberapa karyanya juga termuat dalam berbagai antologi, seperti ‘Ini Sirkus Senyum…’ (Bumi Manusia, 2002), ‘Elegi Gerimis Pagi’ (KSI, 2002), ‘Grafitti Imaji’ (YMS, 2002), ‘Puisi Tak Pernah Pergi’ (KOMPAS, 2003), dll. Bukunya yang telah terbit ‘Rumah Malam di Mata Ibu’ (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), ‘Sajak yang Tak Selesai’ (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), ‘Kitab Kemungkinan’ (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), ‘Silsilah Kata’ (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Beberapa kali pula memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah. Facebook: alexrnainggolan.