Menyalakan Api Armando Anthony ‘Chick’ Corea (12 Juni 1941 – 12 Februari 2021) – Liston P Siregar

chick corea, chickcorea.com

Waktu kecil, bibinya sering mencubit pipinya dan menyebutnya ‘cheeky’ -bandal-bandal gemas- yang menjelma jadi nama panggung Chick Corea. Dengan nama itu dan kolaborasi bersama banyak pemusik, dia meraih 23 kali Grammy Award, penghargaan musik terpenting Amerika Serikat. Penghargaan itu bukan cuma bergengsi, juga ampuh mengkatrol penjualan tiket konser pemenangnya sampai, katanya, rata-rata 50% lebih dibanding sebelum menang.

Sebagai pemusik jazz, sekalipun meraih 23 Grammy Award dan masuk dalam NEA Jazz Masters Amerika Serikat, konsernya memang tidak sampai ditonton puluhan ribu orang yang berdesak-desakan -yang hanya terjadi pada Miles Davis. Tapi konser rutin Chick di aula musik di seluruh dunia yang berkapasitas 3000 hingga 5000-an, penuh terus. Ribuan orang itu bukan cuma sekedar penikmat musik, tak sedikit pula yang merupakan jemaatnya.
***

Saya salah satunya.

Malam tanggal 16 Maret 2020 lalu, saya mestinya bergabung lagi dengan para jemaat lain di Barbican Centre London untuk Chick Corea Trilogy, bersama Christian McBride dan Brian Blade. Itu masa-masa awal pandemi Covid-19 di Inggris dan masih ada harapan tetap bisa nonton walau akhirnya dibatalkan akibat lockdown, yang resmi diumumkan Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, di parlemen siang harinya.

Waktu itu, pembatalan konsernya bukan masalah besar, karena toh hampir tiap tahun dia berkunjung ke London, entah di Barbican Centre atau Royal Festival Hall, maupun di klub jazz Ronnie Scott’s -setara dengan Blue Note New York. Soal kankernya, yang disebut jenis yang jarang itu, tak terdengar walau jelas dia terlihat kehilangan berat badan dalam beberapa tahun terakhir. Duduk di bagian kursi terdepan yang masih tersedia -tak apalah kalau nunggak overdraft karena bulan depannya rekening bank bisa diseimbangkan kembali- saya memang bisa melihat dia lebih kurus. Cuma orang-orang yang semakin tua biasanya memang cenderung sengaja mengurangi berat badan.

Jumat 12 Februari 2021 siang London, saya sedih mendengar kematiannya pada usia 79 tahun, walau dia jelas akan terus ‘hidup’  lewat sound system Technics kuno maupun Spotify di HP dan di laptop. Chick akan tetap menemani saya dalam sesi khusus harian mendengar musik, ketika lari keliling kampung, mandi, masak, membersihkan toilet, atau menjelajah internet. Bagi jemaat setianya, dia tidak akan mungkin bisa mati. 
***

Chick Corea melekat dengan Spain, gubahannya tahun 1971 dengan intro dari komposisi klasik Concierto De Aranjuez 2: Adadgio karya gitaris Spanyol Joaquín Rodrigo, 32 tahun sebelumnya. Seperti pemusik jazz umumnya, Chick menghormati nada dasar komposisi sumbernya namun kemudian mengganas dan meliar bebas. Beda Chick dari kebanyakan pemusik jazz lainnya adalah keganasan dan keliaran bukan sekedar bermain kencang dan keras, tapi menghadirkan satu komposisi baru yang orijinal.

Spain, yang meraih Grammy Award, menjadi nomor standar jazz, sama dengan karya-karya para suhu lainnya, seperti All Blues dan So What, gubahan mantan seniornya, legenda Miles Davis. Dan setiap kali Chick membawakan Spain -solo maupun bersama pemusik lain- maka terciptalah jilid-jilidnya yang baru. Amat sulit memilih jilid mana yang terbaik karena masing-masing punya karakter berbeda: yang seksi bersama penari Flamenco atau megah didukung London Philharmonic Orchestra maupun cerdas berduet dengan pianis perempuan Jepang, Hiromi Uehara, dan riang karena Chick memandu penonton ikut meramaikan ‘dada dada dada dada…’. 

Keberagaman Chick juga terwujud dari band-nya, jadi bukan sekedar kolaborasi untuk satu album yang dipentaskan keliling dunia dalam satu putaran musim konser, sebagaimana umumnya para pemusik jazz. Tapi Chick membentuk band mapan untuk menghasilkan beberapa album, seperti Circle, Return To Forever, Elektric Band, dan Origin. Keempat band itu berbeda namun dengan benang merah permainan piano Chick Corea, yang berbasis klasik dengan campuran kuat jazz aliran utama, rock, funk, r&b, latin, serta melodi dan ritme lainnya yang tidak terdefinisikan oleh kategori pemasaran industri musik.  

Chick memang masuk dalam barisan pelopor jazz fusion, yang mulai populer masa 1970-an. Dan pencampurannya yang paling kaya dan sempurna, menurut saya, adalah The Musician yang dibawakan band pimpinannya, Return to Forever, dalam album Musicmagic tahun 1977. Intronya padat dengan hentakan bas dan drum yang diramaikan ensembel tiup, kemudian berdentam-dentam repetitif sebentar mengiringi vokalis bersuara tinggi Gayle Moran -istri keduanya-  lalu bertransformasi ke gesekan double bass bergaya klasik sampai pada kelincahan Chick Corea di Fender Rhodes-nya, sebelum ditutup lembut oleh suara Gayle Moran. 

Komposisi sepanjang 07.12 menit itu menjelajah ke kiri kanan, melompat naik turun, berjalan cepat lambat: menjadi agak berbahaya tapi tetap kompak dan harmonis. Sekitar 40 tahunan mengikutinya sejak jaman SMA di Medan dulu, The Musician amat tepat mencerminkan jati diri Chick Corea, yang penuh kejutan karena terbuka untuk banyak bentuk dan warna, atau cuma siraman titik-titik hujan musik.

Jika The Musician menjadi gubahan penting Chick Corea -setelah Spain tentunya, dan sekali lagi menurut selera saya- maka Secret Agent tahun 1978 menjadi album yang menasbihkan saya sebagai jemaat setianya. Di sana ada Slinky, nomor yang bersemangat dengan permainan flute Joe Farrel yang mengalir, perkusi yang terus mengisi celah-celah kosong dari Airto Moreira, dan keyboard Chick Corea yang riang. Juga ada Drifting yang agak gelap dengan suara Gayle Moran bernuansa balada dalam sebuah penjelajahan ‘melayang tanpa arah’ (drifting so aimlessly).  

Masih ada lagi Hot News Blues, dengan olahan vokal mendiang Al Jarreau, yang berdampingan harmonis dengan loncatan-loncatan keyboard Chick Corea, bukan bersaing merebut pendengaran. Sebagai semen untuk jazz fusion, Chick menafsirkan gubahan pianis klasik Hungaria, Bela Bartok,  Bagatelle #4 dengan bunyi piano listrik yang tajam. Dia memapankan penjelajahannya dan keterbukaannya. 

Tahun 2006, Chick Corea mengeluarkan album The Ultimate Adventure, terdiri dari 20 nomor, yang saya kira amat tepat merangkum perjalanan musiknya, walau sebenarnya ‘memusikkan’ kisah dalam novel The Ultimate Adventure karya pendiri Scientology, L. Ron Hubbard. Dua tahun sebelumnya, penganut Scientology ini juga menyuarakan karya L. Ron Hubbard lainnya, To The Stars bersama Eletric Band. 

Mungkin karena sudah lebih pengalaman, The Ultimate Adventures berhasil menjadi satu kisah perjalanan yang utuh, juga mungkin tentang buku L Ron Hobbard -karena belum membaca- tapi yang pasti tentang Chick Corea sendiri -yang diikuti dengan setia.  

Ada tiga bagian Three Gouls yang mengingatkan pada Elektric Band, lantas City of Brass bersuasana Timur Tengah dengan permainan tabla pemusik Mesir maupun Gods and Devils, yang menghadirkan pertarungan para dewa dan iblis. Album ini ditutup oleh Plane of Existence Part 2, yang terdengar seperti diambil dari album Friends –keluaran hampir 30 tahun lalu- dengan bunyi Fender Rhodes yang akrab bagi para penggemar jazz fusion era 1980-an dulu. Ke-20 nomor di The Ultimate Adventure -yang meraih dua Grammy Award tahun 2007- sempurna bersambung satu sama lain, dengan bau Spanyol dan Afrika Utara dalam instrumen akustik dan elektrik yang berganti-ganti.

Chick banget!
***

Tak sedikit pula album Chick Corea dengan berpegang pola jazz aliran utama -intro, improvisation, dan ending- dengan tiga instrumen utama -piano, bass, dan drums. Salah satunya, Now He Sings, Now He Sobs, namun pada masanya -tahun 1968- tergolong progresif dengan membawa trio jazz ke lapangan permainan baru yang berbeda. Pertengahan tahun 1980-an, dia melompat lagi bersama Elektric Band, dengan ledakan jazz-rock dalam komposisi-komposisi praktis yang ringan namun tetap dengan improvisasi liar yang spontan. 

Tahun 2001, Chick mengulang trio akustiknya bersama basis Avishai Cohen dan drumer Jeff Ballard lewat album Past, Present, and Future. Walau mungkin sekarang terdengar sebagai jazz mapan, album ini tergolong inovatif dengan petikan bas dan tabuhan drum yang tak hentinya terus-menerus mengiringi permainan solo Chick.  Intro-nya pun ada yang sudah merupakan improvisasi singkat.

Dan jika ada orang yang tak menjadi bersemangat ketika mendengar Fingerprints, misalnya, mungkin orang itu memang tak punya emosi sama sekali. Sedang Rhumba Flamenco yang kuat dengan tempo Spanyol, menegaskan akar dari daya jelajah Chick Corea yang tak surut dimakan kemapanan dan kepopuleran. 

Penjelajahan juga dilakukan lewat duet dengan vibraphonis Gary Burton -yang menjadi salah satu tonggak perjalanan jazz dunia- dan pemain banjo, Béla Fleck. Kolaborasi piano dengan kedua instrumen itu -bersama Burton tahun 1979 dan Fleck tahun 2007- bukan urusan yang biasa pada masanya. Chick juga pernah berduet dengan vokalis Bobby Mc Ferrin dalam album Play, yang mungkin bisa disebut lebih berorientasi pada proses daripada hasil akhirnya namun kembali jadi bukti dari keberanian menjelajah tanpa batas-batas. 

Chick Corea (chickcorea.com)

Chick memang tidak pernah perduli dengan kategori musik.  “Media yang amat tertarik mengakategorikan musik,” katanya dalam wawancara dengan koran The New York Times tahun 1983. Dia menambahkan bahwa selalu terjadi pencampuran dalam musik, sebagai sebuah perkembangan yang berkesinambungan. Dan kalau seorang pemusik punya 81 album studio dan 17 album live, sudah pastilah dia memang bergerak bebas untuk siap bercampur dengan apa dan siapa saja. 

Kepada Majalah Time, tahun 2011, dia menegaskan lagi bahwa musiknya tak punya satu ide yang seragam. “Ketika orang mendengar musik kami, banyak ide-ide yang berbeda tentang musik itu.” Dia yakin jika ada survei atas jemaatnya, yang tua maupun yang muda, maka masing-masing akan menempatkan pada kategori musik yang berbeda. 

Di situs chickcorea.com, tertulis pesan terakhirnya, yang dibuka dengan  “Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua orang di sepanjang perjalanan musik yang membantu menjaga api musik tetap menyala…”

Saya memang akan terus menyalakan Armando Anthony ‘Chick’ Corea.
***

Liston P Siregar, editor ceritanet.com