Sudut Taman – Rizky Alvian

Dari dua orang yang hampir ditikam dingin sepertiga malam di taman.

Kamu mohon izin untuk duduk di sampingku. Setelah beberapa menit dipaku kebisuan, kamu meminta kretek satu batang. 

Kamu mulai berujar bahwa di taman ini, banyak pasangan remaja yang menuntaskan gelora asmaranya. Mereka tersebar di sudut atau pondok taman yang lampunya malas terang. 

Kamu menghela napas sebentar, dan memuji pemilihan kretekku yang gurih dan tidak terlalu manis. Kamu lantas bertanya apa aku perokok berat? Belum sempat kujawab, kamu lebih dulu menyela bahwa dirimu adalah mantan perokok akut, meski satu atau dua batang masih dihisap tiap harinya. Katamu, setelah pemerintah membubuhkan gambar penyakit menyeramkan di bungkus rokok, kamu semakin was-was. Namun, ketika pemerintah menaikkan cukai tembakau, disitulah kamu berhenti membeli rokok. 

Ketika aku bertanya kenapa malam begini tak kumpul bersama keluarga. Mukamu mendadak murung. Sambil menunduk, matamu memejam, seperti mengingat-ingat peristiwa dahulu.

Rumah adalah penjara, dan tempat tersimpan banyak kenangan buruk. Kamu menunduk setelah melontarkan penyataan itu. 

Kamu bercerita, bahwa kakakmu gantung diri di kamarnya, yang kemudian dengan bola matamu sendiri melihat ia terbelak dan lidahya terjulur. Selepas peristiwa kelam itu, jika malam tiba, di kamar kakakterdengar rintihan, tangisan, hingga kadang jeritan. Setiap jendela yang menganga, kamu melihat kakakmu menampakkan diri dengan mata terbelalak dan lidah menjulur. Selepas itu Bapak dan ibu bertengkar hebat, dan puncaknya ketika Bapakmu mulai pulang malam dengan mulut bau tuwak oplosan, dan mulai berani melayangkan tangan dengan kasar ke wajah Ibu. Maka itu kamu lari dari rumah, dan memilih tempat ini. Taman yang kemudian menerimamu bekerja walau gajinya kecil.

Jika menurut analisis sok tahuku, setelah mendengar cerita itu, kamu sepertinya adalah Nostophobia–orang yang takut rumah. Setiap fragmen kejadian yang terekam di otakmu menjadi trauma dan depresi. Bersyukurnya kamu tak menjadi gila, atau melampiaskannya ke hal-hal keji.

Kamu mengangguk. Katamu, meski pemerintah kota banyak korupsi, tetap membangun taman. Kamupun menambahkan, disini tempat menemukan kedamaian, daripada rumah dan segala isinya. Cukup pondok kecil yang diterangi lampu temaram, dan alunan dengung nyamuk-nyamuk usil. 
***

Ketika kita sedang menghirup kretek, dan belum sempat asapnya dikeluarkan dari paru-paru, ada orang yang mengahampirimu dengan terhuyung-huyung, lalu kamu membentak, sembari menoyor kepalanya, kemudian Ia langsung berlari tanpa permisi. Kamu berujar, kawanmu ini jika bekerja selalu teledor. Meskipun diingatkan berulang kali ia tetap mengulangi kesalahan yang sama. Kamu bercerita, bahwa temanmu ini sudah dua menghilangkan arit dan sekop. Hanya satu yang temanmu selalu ingat, yaitu tempat dimana Ia menaruh botol anggur merahnya. Aku mencoba menenangkan emosi dengan menepuk bahumu.

Katamu, menjadi buruh bersih-bersih taman sudah merupakan kebanggan tersendiri, karena ini satu-satunya pekerjaan yang dapat gaji pemerintah, meski orang tersebut tamatan SD.

Kamu bertanya, apa tujuanku ke taman larut malam begini? Kujawab dengan senyum simpul. Kamu malah memuji senyumku yang katamu dapat menyejukkan hati diantara cahaya bulan dan lampu taman yang beberapa malas terang.

Katamu pria segagahku tak pantas duduk sendirian. Katamu akan mencarikan teman wanita yang masih kisaran dua puluhan. Baru saja kamu bangkit, kulihat kamu malah menepuk jidat, lalu berujar, bahwa tadi sore ada razia Polisi Pamong Praja. Dan kamu minta maaf, kemudia kembali duduk bersamaku.

Kamu tiba-tiba nyengir, dan menggaruk-garuk kepala. Aih! Rupanya kamu ingin minta tambah kretek lagi. Sudah tiga puluh menit kamu bercerita, tetapi masih segan saja kepadaku. Aku mengambil rokok sebatang, dan ketika hendak kunyalakan, kamu menyergahnya. Katamu, minta tambah kretek saja sudah cukup merepotkan, biar kamu saja yang menyulut kretek itu.

Kamu mulai menanyakan pekerjaanku. Mencecar dengan berbagai kemungkinan pekerjaan dari tampangku. Polisi Pamong Praja; pengelola taman; pegawai negeri. Namun semua yang kamu sebutkan, agaknya cukup dijawab dengan senyum simpul saja.

Kamu memegangi perut seraya meringis, seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari tubuh. Katamu, mungkin ini hanya masuk angin. Karena setiap malam tidur beralas karton, dan berselimut sarung. 

Lima belas menit kemudian kamu datang dengan membawa dua gelas kopi, lalu segelasnya lagi disodorkan padaku. Untuk menghangatkan badan, katamu.

Jika aku polisi. Maka kamu memohon untuk jangan menangkapmu. Ada yang lebih penting, yaitu anak pengelola taman ini, yang kerap membuang bong ke sudut taman. Katamu ini sudah menjadi rahasia umum, untuk menghilangkan barang bukti. Kamu berujar bahwa tak ada yang berani melaporkan, anak pengelola taman itu mengancam pekerjaan bahkan merembet ke keluarga, jika kelakuannya sampai bocor kepada aparat. Apalagi kamu dan teman-teman lain ikut menggantungkan nasib di taman ini.

Kamu juga mengeluhkan kepala keamanan disini. Ia akan memakimu, jika pagi-pagi buta ia menemukan bekas kondom berceceran. Padahal, katamu, pernah memergoki ia mengeksekusi pelacur di pondok taman paling. Ketika kamu berpapasan dengannya, wajahnya merah padam. Dan ia mengeluarkan pisau lipat, menujuk ke arahmu, lalu mengancam jika kamu buka mulut.

Jadi itulah alasannya, bahwa kamu sebenarnya korban dari ketidakberdayaan sosial.

Menjelang dini hari, kamu menyuruhku pulang. Kamu merisaukan bagaimana kalau besok Aku telat apel pagi, jika saat ini masih duduk denganmu. Aku hanya bisa membalasnya dengan tertawa. Kamu terkejut, ketika diberi tahu bahwa aku bukan Polisi, atau apapun profesi yang tadi disebut. Akan tetapi justru kamu mengapresiasiku. Bahwa tatapan teduh, dan murah hati ketika kamu meminta kretek, persis seperti wajah Pak Walikota ketika Ia melakukan blusukan dan menyapa dirimu. Kamupun juga mendoakan apapun pekerjaanku, semoga bisa menjadi gubernur suatu hari nanti.

Aku bertanya padamu apa kenal dengan Atam? Kamu lagi-lagi terbelalak. Kau lagi mencecarku dengan berbagai pertanyaan tentang kepala satpam yang barusan kau ceritakan. Setelah kau bercerita mengalir panjang, rasanya terlalu bila aku tak memberitahu maksudku sebenarnya. 

Aku adik dari Atam. Lusa aku akan menggantikan kakakku sebagai kepala keamanan.  Ia sedang di opname karena kecelakaan sepeda motor. Dua malam ini aku memperhatikanmu, dan rasanya aku tahu siapa yang setiap malam masih rajin menyapu plastik yang berceceran, dan memunguti botol-botol minuman keras yang berserakan. 

Setelah kuberitahukan maksud sebenarnya, kamu memunguti puntung kretek, sampah berserakan, dan berjanji jika perlu mengusir mereka yang mabuk, lalu berbuat mesum. Tak perlu sebenarnya kamu repot begitu, aku tidak seperti kakakku.

Aku sebenarnya ingin mengajakmu menginap di rumahku, agar kamu tak dirazia Polisi Pamong Praja, juga aku agak khawatir kesehatanmu lama-kelamaan akan terganggu. Namun kamu dengan tegas menolaknya. Nanti merepotkan, dan lain sebagainya. 

Keluargaku terlampau cuek dengan orang disekitar karena berbagai kesibukan yang mencekik. Mungkin jika kamu tidur di rumahku, kemudian bisa berbagi cerita tentang apapun. Malam memang tempat untuk mengeluarkan segala kejujuran yang pahit sekalipun. Bagimana, kamu mau?

Aih! Masih pikir-pikir? Oh, ya sepanjang kita duduk berdua, aku belum tahu namamu.

“Sanip,” katamu singkat.
“Firdaus.” Aku menyahutimu.

Lagi, kamu memuji namaku yang beraroma surga cocok dengan tindakanku. Sepertinya kamu berbakat menyanjung orang yang baru dikenal.

Aku memberikan lima lembar seratus ribu,  sekadar untuk pegangan. Terutama jika kamu sakit, supaya lekas di periksa. Tidak terlunta-lunta seperti orang miskin yang berobat pakai kartu bantuan pemerintah, selalu dinomor duakan.

Kamu berterima kasih, sambil memelukku erat. Akupun juga berterima kasih kembali atas kejujuranmu yang membuat suasana menjelang dini hari agak menghangat.

Kamu lalu buru-buru menuju ke toilet, kedua tanganmu seperti kompak memegang bagian depan dan belakang tubuh sembari berjalan cepat dengan agak berjinjit.
*** Cirebon 2021

Rizky Alvian, lahir di Cirebon, November 1998. Cerpennya dimuat pertama kali di detik.com pada April 2019. Sekarang paruh waktu sebagai pengarang.