ZigZag – Victoriya Tokareva (penerjemah Victor Pogadaev)

Seorang ilmuwan peneliti, Irina Dubrovskaya, pulang ke rumah sesudah pertemuan dengan pacarnya dan tanpa membuka mantel dan sepatu masuk ke dalam kamar, berhenti di dekat jendela dan mulai menangis.

Di tangga di luar pintu ada pekerjaan perbaikan yang tak henti-hentinya. Pengurus rumah memutuskan untuk memperbarui rumah: mengapur dan mencat. Anak tangga ditutup dengan lapisan kapur tebal, dilumas dengan cat hijau dan ada kesan bahwa keadaan begini akan berlanjut selama-lamanya, tidak akan berubah. 

Di rumah seberang jalan hanya empat jendela yang bercahaya. Kebanyakan orang tidur pada waktu itu, tetapi Irina berdiri dan menangis bersama dengan kemalangannya. Tidak ada siapa pun yang mendekatinya dalam menolak nasib malang ini, dan berdiri di sisinya. Tidak ada orang seperti itu. Tidak ada dan kiranya tidak akan ada, tapi biarlah. Dan secara umum dia memang tidak membutuhkan apa-apa karena hidupnya adalah perbaikan yang terus menerus, di mana sesuatu dirusak, yang lain dibina, dan kemudian ternyata: apa yang dirusak itu tidak perlu dirusak. Dan apa yang dibina itu, tidak perlu dibina. 

Irina seolah-olah melihat dirinya dari luar -sepi dan menangis- dan dia merasa kasihan terhadap dirinya sendiri: dari dalam dan dari luar. Dia menangis tersedu-sedu di dalam lengan mantel bulunya supaya tidak membangunkan para tetangga di balik dinding, ketika terdengar deringan telepon. Irina mengangkat gagang telepon dan menahan nafasnya.

“Halo!…”
“Ini Igor Nikolayevich?” tanya suara lelaki yang jauh.
“Salah sambung.”

Irina meletakkan gagang telepon dan hendak terus merayakan nasib malangnya, tetapi telepon berdering lagi.

“Ini Igor Nikolayevich?” suara lelaki bertanya lagi.
“Nah, apakah benar-benar tidak jelas bahwa saya bukan Igor Nikolayevich” Irina bertanya jengkel. “Apakah saya mempunyai suara seperti Igor Nikolayevich?”
“Mengapa Anda marah?” lelaki yang tidak dikenali itu terkejut.
“Mengapa Anda menelepon terus?”
“Apakah saya membangunkan Anda?”
“Tidak. Saya tidak tidur.”
“Anda masuk angin?”
“Mengapa Anda berpikir demikian?
“Suara anda seperti ada pilek.”
“Saya tidak ada pilek.”
“Mengapa suara Anda seperti itu?”
“Saya menangis.”
“Anda mau saya datang ke tempat Anda sekarang?”
“Mau,” kata Irina. “Dan Anda siapa?”
“Anda tidak mengenali saya, dan nama saya tidak apa-apa untuk Anda. Alamat Anda…” 
“Jalan Festival, rumah 7/9, flat 11.”
“Mudah diingat. Nomor ganjil.”
“Anda di mana?” Irina bertanya.
“Sekarang saya berdiri di Jalan Gorky, dan tank-tank bergerak melewatinya. Dan dalam setiap tank ada pengemudi berpakaian  helm. Apakah anda mendengar?”

Irina memasang telinga –di kejauhan memang terdengar bunyi bergemuruh, seolah-olah ada latihan tentara yang besar. Di Moskow ada persiapan parade militer.

Lelaki itu muncul dua puluh menit kemudian. Irina memandangnya dan gembira karena dia betul-betul seperti ini, dan bukan seperti yang lain.

Yang lain, bahkan yang lebih tampan, kurang disukainya.

Dia mempunyai kacamata yang membesarkan matanya. Mata yang dibesarkan itu menjadikan wajah yang sangat aneh tapi cantik. Lelaki itu memandangnya sedang duduk berpakaian mantel seperti di stasiun kereta api dan dia mengambil kesimpulan:

“Ada baiknya anda tidak tinggal di sini. Anda harus mengubah suasana. Ikutilah saya.”

Irina bangun dan mengikutinya. Ke mana? Mengapa?

Di jalan, lelaki itu menghentikan taksi dan membawanya ke bandara.

Di bandara, dia membeli tiket, kemudian membawanya ke pesawat terbang dan membawanya ke luar dari pesawat di kota Riga.

Waktunya pukul empat pagi, dan mereka masuk hotel.

Sendirian di dalam kamar, Irina mendekati jendela. Fajar kelabu menyingsing di luar jendela, dirasakannya ada laut.

Dan mungkin tak ada yang dirasanya, cuma Irina tahu bahwa laut itu dekat dan hal itu harus menjadi nyata.

Dan iklim harus bersuasana kontinental. Dan fajar kelabu juga kontinental, sederhana.

Irina berdiri dan menunggu. Panggilan teleponnya yang tidak disangka pada malam itu dan perjalanan yang juga tidak disangka ini dianggapnya sebagai permulaan cerdik dari minat lelaki itu terhadapnya. Dan kalau ada permulaan, maka mesti ada sambungan, dan jika mengikuti skema logik ini, maka dalam beberapa menit lelaki itu mesti dengan hati-hati dan senyap akan mengetuk pintunya. 

Tetapi apakah skema logik itu salah, atau minat lelaki itu tidak ada  maka tak seorang pun mengetuk pintu. Irina menunggu sebentar lagi, tidak memahami bagaimana dia harus bersikap terhadap peristiwa itu. Kemudian dia memutuskan tidak bersikap apa-apa, tidak terlibat dalam introspeksi yang menjadi ciri khas cendekia Rusia, tetapi cuma membuka pakaian dan pergi tidur.

Trem berkelenting seperti alarm kebakaran berbunyi.

Tetapi Irina tidur nyenyak dan tersenyum berbahagia dalam tidurnya.

Paginya, lelaki itu memanggilnya melalui telepon, mengusulkan untuk sarapan pagi bersama di kafe. Mereka makan kue dengan daging asap, krim kocok, dan tertanya-tanya heran: mengapa masakan seperti ini hanya dibuat di kawasan Baltik? Setiap masakan, sama seperti setiap penemuan, sukar dicapai dengan pikiran sendiri. Tetapi jika seseorang sudah berhasil memperkenalkan kue dengan daging asap, maka mengapa orang lain tidak menggunakan penemuan itu. Walau bagaimanapun, krim kocok hanya ada di kawasan Baltik saja. Lobio di Kaukasus. Spaghetti hanya di Itali. Sup bawang hanya di Perancis.

Dan borsch hanya di Rusia.

Selepas sarapan, mereka naik kereta komuter ke Dzintari. Ke tepi pantai Riga.

Mula-mula mereka pergi ke “kota kanak-kanak” dan mulai menikmati hiburan kanak-kanak. Bermain ayunan.

Meluncur di atas kaki yang tegang dari gelungsur kayu. Itu permainan yang menarik dan sekaligus menakutkan, dan dia menjerit dengan kegembiraan dan ketakutan. Kemudian mereka mulai mengangkat badan di atas palang sejejar. Irina tidak dapat mengatasi beratnya sendiri, bergantung dengan tangannya seperti karung berisi tepung. Lelaki itu mencoba mengangkatnya dengan memeluk lututnya, tetapi Irina hanya ketawa terbahak-bahak dan akhirnya kehabisan tenaga karena ketawanya.

Sesudah itu mereka pergi berjalan-jalan di sepanjang pantai. Laut tidak beku.

Gelombang kelabu dengan busa putih berempas di pantai. Udara berbau iodium. Berhampiran air, pasir kosong, dan kerang kecil berwarna merah jambu terletak berkelompok di sana-sini. Timbul keinginan menginjakkan kaki pada kerang-kerang itu supaya terdengar bunyi kerkah. Dan dia benar-benar menginjakkan kakinya. Dan benar-benar ada bunyi kerkah. Tiba-tiba Irina terasa seolah-olah hal itu sudah pernah terjadi dalam hidupnya. Tetapi kapan? Di mana? Mungkin pada awal masa kanak-kanak? Dan mungkin juga lebih awal, sebelum masa kanak-kanak.

Nenek moyang yang jauh hingga masa binatang biawak dulu, muncul dari laut dan melihat kelompok kerang. Ia melihat, dan Irina teringat…

Pohon pinus di pantai berdiri dengan batang merah yang terdistorsi oleh angin. Pemandangan daun berlatar belakang langit kelabu itu mengingatkannya pada kartu pos Jepang.

Tengah hari mereka pergi ke gereja katedral Dome. Mendengar Requiem oleh Mozart. Mula-mula Irina tidak memperhatikan musik, memandang sekeliling: ke dinding Katedral Dome, kepada penyanyi yang tampak olehnya sezaman dengan  katedral itu: masing-masing berumur tujuh ratus tahun, dan bahkan yang muda yang berdiri di pentas, kelihatan seolah-olah baru diangkat ke luar dari peti dengan obat ngengat.

Irina melirik ke arah lelaki itu, mencari tanda-tanda minatnya terhadap dirinya -dalam pandangan sekejap, dalam sentuhan ringan dan tidak disengajakan. Tetapi tidak ada apa-apa yang seperti itu: baik pandangan maupun sentuhan, atau tanda-tanda lain. Dia duduk bersandar pada kursi kayunya, mendengar musik, dan wajahnya memandang ke suatu tempat di masa lalu. Seakan-akan dia berada jauh dari sini, tidak dapat dipahami. Dia tidak dimiliki oleh sesuatu atau sesiapa. 

Irina agak heran dan sedikit tersinggung. Tapi tiba-tiba melupakan, baik keheranan maupun rasa tersinggung. Kor menyanyikan “Lacrimosa”. Dan bukan enam puluh orang itu saja yang menyanyi mengikut buku nota musik. Mozart sendiri rindu. Dirinya yang Firdausi. Jiwa Irina bergelora dan tersungkur. Irina menangis. Air mata mengalir di pipinya, dan sejalan dengan itu, rasa sakit di hatinya seolah-olah hilang. Air mata menjadi asin, dan hati menjadi lega.

Pada sore hari itu juga mereka kembali ke Moskow.

Lelaki itu memandunya ke pintu dan mengangkat topinya.
“Anda merasa lebih baik?” dia bertanya.
“Sudah tentu,” kata Irina. “Jika ada laut, Mozart dan Anda, maka seseorang bukan saja harus hidup. Tetapi hidup dengan baik.”

Dia mencium tangannya dan pergi menuruni tangga.

Irina berdiri dan memerhatikan anak tangga putih yang dicemari dengan kapur tertinggal jejak kakinya, yang menyerupai kacang gergasi.

Dengan naik kereta, lelaki itu sampai ke stasiun “Yugo-Zapadnaya”. Kemudian pergi dengan bas ke perhentian “Blok 44”. Kemudian dengan lift naik ke pintu apartemennya. Dia membuka pintu dengan kuncinya.

Di kamar depan berdiri istrinya dengan anak perempuan berusia satu tahun di lengannya. Baik anak perempuan maupun istrinya bermuka bulat, dengan rambut yang sama tidak terurus, dengan ikal ke semua arah, yang serupa makhluk primitif tapi menawan. 

“Kamu lagi berzigzag?” istrinya berkata dan memusatkan mata yang kecil dan bulat seperti payung paku kepadanya.

Dia tidak menjawab dan mulai membuka pakaian dengan senyap.

Istrinya bermaksud mengulang lagi perjalanannya dulu ke Siberia, ke kilang vitamin Biysk. Seseorang akan segera membutuhkan minyak buckthorn, dan dia tentu bertindak sebagai tukang sihir.

“Kamu suka memukau,”  kata istri itu. “Suka pamer. Padahal aku sendirian dengan seorang anak… Aku berputar-putar dengan kesibukan seperti anjing di tempat penyeberangan.”

Dia memandang kepada istrinya sambil mencoba membayangkan bagaimana anjing berkelakuan di tempat penyeberangan, dan pada umumnya: apa itu tempat penyeberangan. Mungkin di kapal besar atau tongkang yang dinaiki orang untuk menyeberang sungai. Dan anjing itu tidak tahu apakah akan dibawa bersama atau tidak, maka ia lari-lari dan menyalak takut ditinggalkan oleh pemiliknya.

“Kamu salah,” lelaki itu berkata dengan lembut. “Kamu adalah anjingku. Dan aku pemilik kamu. Kamu tahu itu.”
“Sama saja,” kata istri itu. “Aku letih. Kamu ingin membuat seluruh umat manusia berbahagia, tetapi kamu tidak melakukan apa-apa bagi aku. Kamu malas membuat sesuatu bagi aku. Dan bosan.”
“Dan apa yang kamu mau supaya aku buat?”
“Sekurang-kurangnya membuang sampah. Sudah tidak muat lagi dalam ember. Aku sudah memampatkannya empat kali dengan kakiku.”
“Kamu tidak bisa membuang sampah sendiri? – Dia terkejut. “Kamu pasti melihat bahwa aku letih.”

Dia duduk di kursi, membuka kaca mata dan menutup matanya.

Istrinya menatapnya dengan simpati.

“Aku tidak mempunyai apa-apa melawan mukjizat kamu,” katanya. “Biarlah orang yang kamu banti akan menjadi sehat dan bahagia. Tetapi kenapa atas tanggungan aku?”

Lelaki itu membuka mata yang berabun dekat.

“Dan mukjizat dalam cerita dongeng dilakukan atas tanggungan siapa?”

Istrinya berpikir.

“Atas tanggungan peri,” dia teringat.
“Nah, itulah. Jadi kamu adalah peri-ku.”

Istrinya mau menjawab sesuatu, tetapi ketika dia sedang berpikir, lelaki itu tertidur. Dia memang sangat letih.

Peri membaringkan anak perempuannya ke ranjang. Kemudian dia membaringkan suaminya. Kemudian dia membuang sampah. Kemudian dia membasuh piring mangkuk. Kemudian memasak pasta, supaya besok pagi bisa cepat dipanaskannya

Ilmuan peneliti, Irina Dubrovskaya, bangun pada hari Senin pukul setengah delapan pagi dan sambil memandang pada plafon, mulai berpikir: pernahkah ada “semalam” dalam kehidupannya atau tidak? Di satu pihak, dia teringat dengan jelas rasa krim kocok dan pemandangan ranting pohon pinus di langit kelabu, itu tidak bisa tidak ada. Itu tentu pernah ada. Di pihak lain, tidak ada jejak yang sebenarnya, bahkan tidak ada tag pesawat terbang pada tasnya.

Tiba-tiba dia teringat jejak-jejak di tangga.

Irina melompat bangkit dari ranjang, berlari ke kamar depan, membuka pintu ke tangga dan… Begitulha yang terjadi hanya pada masa kanak-kanak, ketika kamu pulang dari sekolah, masuk ke dalam kamar dan di sudut kamar ada pohon Natal. Atau kamu berkeliaran di hutan menelusuri sepanjang jalan tanah dan tiba-tiba menemui cendawan putih.

Tiada jejak-jejak apa pun. Tiada jejak. Tiada noda kapur. Tiada perbaikan. Perbaikan selesai, dan pagi itu tukang sapu Masha membersihkan tangga. Ubin di lantai berwarna merah terang, sewarna dengan banir. Banir berwarna merah, dinding berwarna hijau lembut, plafon berwarna putih kebiruan.

Tangga itu kelihatan meriah seperti pohon Natal, bukan seperti cendawan putih. Tampaknya seolah-olah keadaan itu akan berkelanjutan senantiasa begitu, tidak akan menjadi sebaliknya. 
***
Victor Pogadaev: Associate Professor di Lomonosov Moscow State University, Rusia. Kerap menerjemahkan karya sastra Malaysia dan Indonesia ke Bahasa Rusia dan sebaliknya. Aktif di Nusantara Society, organisasi nir-laba yang terdiri dari para akademisi yang mempunyai perhatian pada Nusantara.

Victoriya Tokareva, kelahiran Leningrad, Rusia, tahun 1937. Karakter ceritanya umumnya orang biasa yang menghadapi masalah keseharian, yang membuat pembaca mudah terhubungkan. Mayoritas karakternya perempuan dengan tulisan-tulisan yang moralistik, menegakkan nilai-nilai tradisional dengan peran masing-masing gender, yang menyebabkan dia dicap sebagai ‘pra-feminisme’ oleh Dunia Barat. Walau biasanya dia menulis realisme, kadang juga menyelam ke yang disebutnya sebagai ‘realisme fantasi’ : meramu magis dengan hidup sehari-hari. Gaya tulisannya sering dibandingkan dengan Anton Chekov, yang diakuinya memang berpengaruh penting padanya.