Catatan Harian Pertumpahan Kepala – Negara Rofiq

Di balik jeruji besi, Juki mengingat kisah empat hari lalu di rumah Baidowi “Makanya kalau tidak mau mati, jangan macam-macam denganku…”

Sesekali ia tertawa. 

Beberapa orang di selnya gelisah mendengar tawa yang bernafas ‘carok’ itu sedang beberapa orang lagi tersenyum kecil menanggapi tawa yang berbau ‘sinting’.
***

Senin 20 Maret 2027

Sejak Toha menyatakan tidak mencalonkan diri lagi pada pemilihan Kepala Desa Brungbung, Juki dengan semringah mendatangi teman dekatnya, Atman. 

“Si Toha tidak mencalonkan lagi,” suaranya tersendak, “Ini kabar yang sangatbaik.”
“Kabar baik?”
“Ini peluangku.”
“Maksudnya, kamu mau mencalonkan jadi Kepala Desa?”
“Nah, itu maksudku menemuimu.”
“Jangan mimpi, Juk. Mau dapat dari mana modal untuk kampanye? Mau rokok aja kamu sering ngutang.”
“Jangan khawatir. Kita cari bandar judi. Banyak orang yang siap menaruh uangnya. Aku juga siap menjual tanah warisan bapakku, dan kalau masih kurang, kugadaikan rumahku.”
“Bagus Juk. Aku siap jadi ketua tim sukses. Tapi, kalau kamu jadi Kepala Desa, aku harus jadi apel desa…”
“Urusan gampang itu, Man.”

Dengan kebulatan tekad, Juki ditemani Atman mendaftar pada pagi pertama pendaftaran bakal calon Kepala Desa. Juki menjadi calon pertama.

Rabu, 29 Maret 2027

Siang hari, Panitia Pemilihan Kepala Desa Brungbung, mengumumkan calon tetap dan Juki bersorak senang ketika mendengar hanya ada dua calon; dia dan Baidowi. Kepala Desa Petahana, Toha, sejak awal sudah mengumumkan mundur, “Aku sudah tua dan aku sering sakit-sakitan,” ujarnya serak jika ada yang bertanya.

Siang itu juga, di tempat yang lain, di sebuah warung kopi di desa sebelah, Atman bertemu pria gundul bertubuh lebar dengan cincin akik hitam yang mengkilat sebesar jambu air. Pria itu terus menerus melihat telepon genggamnya yang berwarna emas dan hanya sesekali melihat ke Atman. Dia berjanji memasok satu miliar rupiah. “Tapi harus menang,” tegas suara beratnya setelah mengepulkan asap rokok.  Entah bandar itu berjudi dengan siapa, Atman sama sekali tidak perduli.

Rabu 5 April 2027

Hari pertama kampanye. Pemandangan kontras mewarnai kampenye pemilihan Kepala Desa Brungbung. Juki, mengenakan setelan jas hitam, baju putih, dan peci hitam serba baru berkeliling kampung bersama Atman, yang mengenakan batik dan peci hitam. Juki berjabat tangan, berfoto, dan memekik ‘Juki-Atman’ bersama para warga yang antri satu per satu. Usai pekik bersama Juki, giliran Atman yang menyalami mereka satu per satu. Menjelang magrib di hari pertama kampanye, seratus juta habis. 

Di lapangan sepak bola, Baidowi berpidato di hadapan sekitar 2.000 orang. “Kalau aku membagi-bagikan uang, maka nanti aku bukan bekerja untuk rakyat. Aku akan bekerja untuk mengembalikan uang yang sudah kuhabiskan. Apakah kalian rela?”
“Tidaaaak!” teriak para warga bersemangat, karena sudah menyalam Juki dan Atman maupun akan bersalaman dengan Juki dan Atman.
“Aku akan bekerja untuk memberi yang kalian butuhkan. Kekayaan sawah dan laut kita melimpah, tetapi sampai saat ini kita masih ditipu oleh komplotan konglomerat bejat. Pilihlah aku dan kita buat dapur semua orang mengepul tiga kali sehari dan anak-anak kita bersekolah setinggi bintang. Pilihlah aku dan kita jadi majikan di kampung kita, bukan budak konglomerat bejat.”
“Betuuul!” warga desa memekik makin bersemangat.

 Di tengah massa, ada Iyan, mata-mata Juki yang dikontrak harian selama 12 hari  kampanye. Dia kaget bukan kepalang: dua ribuan warga Brungbung begitu antusias dengan kampanye Baidowi, yang tidak menyediakan botol air minum di bawah terik siang matahari. 

“Bahaya, Pak. Orang-orang bersorak-sorai penuh semangat,” Iyan melapor tersenggal-senggal habis lari terhuyung-huyung mengejar Juki di gang samping masjid dari acara kampanye Baidowi. Dia tak berlari sendiri. Di belakangnya, beberapa warga ikut berlari kecil sambil tertawa-tawa riang untuk bertemu Juki dan bersalaman dengan Atman. 

“Hati-hati kalau bicara, Yan,” Juki menegur Iyan dengan kesal dan dengan cepat kembali tersenyum kepada orang-orang yang berbaris rapi di depannya. 

Usai sembahyang magrib, Juki menggelar rapat dengan wajah serius dan suara keras.  

“Ini tidak boleh dibiarkan. Kita harus bergerak cepat,” Juki mengusap keringatnya. “Atman! apa yang harus kita lakukan?”

Sekitar dua jam mereka ribut hingga disepakati cara ampuh untuk menjegal Baidowi.

“Kita beli surat suara warga pendukung Baidowi, kita buang dan kita bakar. Suara Baidowi akan berkurang atau nol,” Atman mengulang kesepakatan dengan suara bersemangat, yang di telinga Iyan terdengar seperti suara para warga yang meramaikan kampanye Baidowi. 

Semua lega. 

Malam itu Juki tidur lelap setelah lelah keliling kampung. Esok pagi dia akan ke sawah.

Kamis, 6 April 2027

Masih dengan setelan jas hitam, baju putih, dan peci hitam yang sudah bercampur keringat, Juki tetap bersemangat menelusuri pematang sawah, bertemu dengan petani untuk berjabat tangan, berfoto, dan memekik “Juki-Atman” sebelum disalam Atman satu persatu.

Di dalam kampung, pasukan Juki menelusuri satu demi satu gang dan mengetuk setiap pintu rumah: Tok… tok… tok… Assalamalaikum

“Walaikumsalam, ada apa, Mas?”
“Sampeyan nanti milih siapa, Mak?”
“Ya Baidowi.”
“Aku ini ada seratus ribu, kira-kira sampeyan mau kalau surat suaranya aku beli?”
“Boleh, tapi kurang banyak itu
“Kalau dua ratus ribu?”
“Itu baru sip…”
“Terimakasih ya, Mak.”

Usai sembahyang magrib, Juki kembali memimpin rapat, tetap dengan wajah serius namun suara memelan. Berkeliling sawah di bawah matahari pagi, terik tengah hari, hingga redup matahari menjelang petang membuatnya lelah dan bosan. Dia, rasanya, cuma mampu bertanya, “Berapa surat suaranya” dan hening mendengar sayup-sayup suara Atman, yang terdengar lantang oleh Iyan dan pasukan lainnya. 

“Dua ratus lima puluh surat suara,” lapor Atman bersuara lantang, “Segera kita bakar dan buang ke sungai.”

Malamnya Juki bermimpi jatuh terpeleset ketika masuk ke masjid kampung saat sembahyang asar. Tak ada jemaat yang membantunya: semua meneruskan sembahyang seperti tak melihatnya sama sekali.

Jumat, 7 April 2027 

Bangun pagi, seluruh persendian Juki pegal, tangannya bergerak lemah, kakinya tak berdaya menopang tubuhnya turun dari tempat tidur. Hari itu dia putuskan istirahat, dan mencuci jas hitam, baju putih, serta peci hitam. 

Tapi pasukannya tetap bergerak, menelusuri satu demi satu gang dan mengetuk setiap pintu rumah: Tok… tok… tok… Assalamalaikum…

Senin, 17 April 2027

Hari pemilihan Kepala Desa. Juki melangkahkan kaki menuju tempat pemungutan suara. Ia terlihat gagah dengan memakai jas hitam, baju putih, peci hitam yang sudah dicuci bersih dan disterika licin. Kali ini ditambah dengan dasi merah baru. Ia tidak sendiri. Puluhan pendukung, yang pagi itu sudah antri bersalaman dengan Atman, menguntit dari belakang. Juga terlihat Dulmawi di sisinya. Kiai yang rajin mengajari anak-anak ngaji itu disegani di Brungbung, dan Juki ingin terlihat takzim pada kiai. 

Begitu dia ke luar dari bilik suara, hujan deras turun. 

Tapi tak menghalangi para pemilih Brungbung datang dari seluruh penjuru desa ke tempat pemungutan suara. Mereka tak takut sakit karena kehujanan, ataupun takut kepleset karena jalan licin. Mereka percaya diri berjalan tanpa payung. Surat suara, yang tak terbeli pasukan Juki, dibungkus plastik agar tidak kena air. 

Pukul 14.00, TPS ditutup dan hujan semakin deras, disertai petir. Para pemilih tak beranjak, menunggu perhitungan suara langsung: menanti isi delapan kotak suara yang menentukan apakah kelak kepala desa Brungbung bekerja untuk mereka atau cuma menebus hutang pribadinya.  

Suasana mencekam. Tim sukses Juki dan Baidowi berbaris di ujung kiri dan kanan TPS, masing-masing menyandang celurit, basah kuyup terguyur hujan dan rela tersambar petir. Semua mata tajam melototi panitia, yang gugup menulis di papan, yang gemetar membuka kertas suara, dan yang bergetar membacanya. Salah tulis, salah buka, atau salah ucap, habislah riwayatnya. 

Pada pukul 16.00, empat kotak suara terhitung dan Baidowi unggul 120 suara. Tim  Baidowi tampak melemaskan badan walau tetap melotot, sedang orang-orang di kubu Juki  menegapkan dada. Di bawah payung besar yang dipegang Atman, Juki tersenyum kecil meredakan urat-urat di kepala yang yang makin menegang dan sekaligus berharap sisa empat kotak suara bakal untuknya semua.    

Tapi warga Brungbung, yang sudah bersalaman dengan Atman sekalipun, memutuskan lain sambil berbisik di dalam hati, “Ambil uangnya, pilih Baidowi.” Delapan kotak sudah terbuka kosong melompong, membuka jalan kemenangan bagi Baidowi. Hujan mendadak berhenti, matahari  muncul dari balik awan yang pergi terganti langit biru terang.

“Ini tidak mungkin,” Atman bergumam menatap kotak suara kosong.

Juki mematung menyaksikan warga Brungbung bersorak sorai. Urat-urat tubuhnya, dari ubun-ubun hingga telapak kaki mengencang, mulutnya terpaku  tak bisa lagi dipaksa mengeluarkan senyum, pandangan matanya kabur, gendang telinganya pecah oleh sorak-sorai kemenangan. 

“Apa? Aku kalah?” gumamnya pelan, berjalan pulang didampingi Atman -bukan Kiai Dulmawi- dan diringi gerombolannya. “Hanya satu kata: carok,” katanya keras, agar terdengar Atman di samping, Iyan dan belasan orang di belakang.

Selasa, 18 April 2027

Jam almari tua menutup dentangnya yang ke-12 untuk membuka hari baru dan Juki bersama pasukannya sudah bulat tekad menuju rumah Baidowi, yang masih berbalut sisa-sisa keriangan sejak magrib, walau tanpa sorak-sorai lagi. 

Mereka merangsek masuk ke kerumunan orang, yang tertidur maupun yang masih terjaga, di halaman rumah Baidowi. Pekik panjang Iyan, “Hajarrrr!” membangkitkan kemarahan Juki dan gerombolannya, sekaligus membangunkan orang-orang yang tertidur pulas. 

Plas…plas…plas…

Pasukan Juki membabi buta. Baidowi yang duduk di kursi bagian utara, ditebas lehernya oleh Iyan. Dia tumbang tanpa perlawanan.

Orang-orang berlarian, teriakan panik berkumandang, suara bising kursi dan meja berjatuhan, tapi terkalahkan oleh pekik berulang-ulang Iyan,  “Hajarrrr! Hajarrrr! Hajarrr!…” 

Plas…plas…plas…

Disusul tujuh, sembilan, sebelas orang tumbang.

Hanya beberapa menit, halaman rumah Baidowi berganti menjadi padang berdarah yang sepi. 

Juki duduk di kursi tempat Baidowi ditebas, kedua kakinya dijejak di samping tubuh mati Baidowi yang mengalirkan berdarah, membasahi jari-jari kaki Juki.

“Lebih baik aku dipenjara, daripada menanggung malu sampai akhir hayat,” jawab Juki di kantor polisi, bersamaan dengan kumandang azan subuh, Selasa 18 April 2017.

Negara Rofiq, Tinggal di Jember dan menulis Novel ‘Siapa Suruh Jadi Aktivis” (YMU Publisher, 2021) serta Antologi Cerita Pendek ‘Siapa yang Berhak Membelenggu Hidup’ (Unej Press, 2020)