Indonesia dari mata orang Indonesia di seberang

Seorang teman yang baru pulang liburan dari Indonesia selama hampir dua bulan, ketika bertemu kembali di London, berkomentar, “Ternyata nggak menakutkan kok suasananya.”

Teman itu -seorang profesional asal Malang di perusahaan global yang berkantor di pinggiran London- sudah tidak pulang tiga tahunan dan, seperti sebagian besar kaum perantau di Abad-21, mengikuti rutin perkembangan di Indonesia lewat media internet dan media sosial. “Sebelum berangkat, agak cemas juga, tapi selama di sana aman-aman saja,” katanya.

Selama liburan di Indonesia, dia dan keluarga berkeliling ke beberapa tempat, antara lain Jakarta, Surabaya, Bali, dan sudah pasti kampungnya, Malang.
***

Saya juga –setelah menabung dua tahunan- bisa liburan ke Indonesia dengan singgah sebentar di Jakarta, sebelum ke Palangka Raya, Banjarmasin, Labuhan Bajo, dan sudah pasti ke kampung halaman saya: Medan.

Sama seperti kawan tadi, saya juga merasa aman-aman saja sepanjang perjalanan liburan cuma memang sebelum berangkat sudah merasa tak beralasan untuk cemas. Persisnya kecemasan saya sudah lewat karena beberapa bulan sebelumnya –sekitar akhir 2016-  sudah bertanya kepada beberapa kawan yang aktif di pergerakan masyarakat madani, “Apa memang masyarakat kita sudah demikian terpecahnya?”

Jawaban mereka kira-kira senada, ‘nggak separah itu,  masih lebih banyak yang tak terpengaruh‘.

Makanya ketika kawan asal Malang tadi berkomentar ‘aman-aman saja’ saya pun bisa agak sok tahu sedikit: “Permusuhan sengitnya berbau politik,” yang disepakatinya langsung: “Kayaknya memang gitu ya.”

***

Apa yang mengemuka di Indonesia, jika dilihat dari orang yang berada di sisi seberang, terpisah sekitar 12.000 kilometer?

Jelas berlebihan kalau jawabanya cuma ‘permusuhan, kebencian, dan saling menyerang’ karena –sejalan dengan perkembangan media abad 21-tak kalah banyaknya yang disebut ‘feel good factor’ atau –bagi kalangan yang lebih ilmiah- ‘solution-focused journalism’. 

Lihatlah berita-berita di sekeliling, ada ibu yang tak bisa punya anak mengabdikan hidupnya untuk menanam dan memelihara pohon-pohon di jalanan sekitar rumahnya. Lantas seorang pemuda yang tinggal di apartemen tinggi di Jakarta, terinsipirasi untuk mengembangkan tanaman hydroponic di teras kecilnya. Juga tentang dokter yang memberi layanan kesehatan tanpa tarif tapi sumbangan suka rela di pemukiman kaum miskin.

Cuma berlebihan pula jika mengabaikan sama sekali berita-berita permuusuhan dan kebencian. Saya adalah contohnya, dan mungkin juga teman asal Malang itu. Reaksi pertama ketika membaca berita-berita seperti yang dikampanyekan oleh Obor Rakyat di zaman Pilpres 2014 lalu mungkin lebih pada ‘penolakan’. Bahkan ketika didukung  komentar-komentar permusuhan dari dua pihak yang berseberangan di media  sosial, masih sempat ada penolakan,  ‘ah cuma yang itu-itu saja  yang ribut‘.

Bagaimanapun berlanjutnya rutinitas berita-berita bernada permusuhan -yang faktual maupun hoaks- selama dua tahun belakangan agaknya secara perlahan menyerap masuk ke dalam kesadaran para perantau. Terlepas dari ketidaksukaan dengan berita-berita itu, perangkat indera sepertinya sudah terlatif menjadi lebih tajam untuk menangkapnya dan meresponnya.

***

Kebetulan, saya mendapat rekaman video pengepungan kantor YLBHI di Jakarta oleh massa yang menyatakan diri antikomunis. Dalam beberapa saat yang memanas terdengar ‘gebuk’, ‘ganyang’, atau ‘perempuan bangke’ dari orang-orang yang berwajah beringas. Amat sulit sebenarnya membayangkan, kekerasan lebih dari setengah abad lalu sepertinya akan berulang di abad ke-21. Memang tidak terjadi pembantaian, namun kebenciannya terdengar sudah ada.

Mundur sedikit ke belakang, menjelang Pilkada DKI Jakarta pada April lalu, ujaran-ujaran ‘bunuh’ dan ‘bantai’ kerap terdengar untuk menggagalkan pencalonan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Urusan persaingan politik berkembang menjadi kebencian, yang bahkan sampai masuk ke dalam ‘internal satu keluarga’ dengan penolakan untuk mensalatkan jenazah pendukung Ahok.

Kalau Anda berjarak 12.000 kilometer dan membaca berita tentang orang yang sudah meninggal pun masih harus dihukum oleh saudara-saudaranya sendiri, maka penjelasannya tinggal dua: berita itu hoaks atau kebencian antar kelompok itu amat mengerikan.

Dan jika melihat ke media sosial, kenyataan -yang bisa jadi semu karena sudah dipoles media- seperti diperkuat oleh media sosial. Perdebatan tentang soal kecil saja penuh dengan caci maki, saling hina, dan membawa-bawa kelompok agama maupun etnis.